PELAYANAN PASTORAL TERHADAP ORANG TUA LANJUT USIA
(Dampak Pelayanan Pastoral Dalam Meningkatkan Tingkat Penyerahan Diri Dan Ketenangan Hidup Terhadap Orangtua Lanjut Usia di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtera GBKP Taman Jubelium Sukamakmur)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas
Dan Memenuhi Syarat-syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Theologia
OLEH :
Bangun Firdaus Sembiring
NIM. 03. 01. 197
SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA ABDI SABDA
JURUSAN THEOLOGIA
MEDAN
2008
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Kehadiran seseorang di tengah-tengah dunia ini pastilah dalam konteks keluarga. Manusia lahir, bertumbuh dewasa, berumah tangga, bahkan sampai masa tuanya selalu berada dan membutuhkan keluarga. Seseorang sebagai individu adalah sekaligus sebagai mahluk sosial. Masa muda adalah masa enerjik yang memungkinkan seseorang untuk berprestasi, memberi banyak hal kepada orang lain. Akan tetapi masa muda akan berlalu dan disusul oleh masa tua, yang mana seseorang akan sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam menjalani hidupnya. Masa tua adalah masa semakin menurunya daya tahan dan kemampuan fisik dan psikis sehingga dia mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi akan orang lain.[1] Dalam menentukan usia tua ada yang mengambil tolak ukur lanjut usia itu dengan keadaan fisik, yakni jika orang merasa tidak kuat lagi bekerja, sakit-sakitan, lekas capek dan sebagainya. Selain itu ada juga yang memakai tolak ukur perubahan status dan peranan dalam keluarga, misalnya bila sudah mempunyai cucu, dianggap sudah tua meskipun sebenarnya hal itu belum bisa dijadikan tolak ukur lanjut usia karena yang menentukan ukuranya adalah usia.
Secara teoritis usia tua dimulai antara 60/65 tahun sampai meninggal dunia.[2] Akan tetapi ketika seseorang memasuki masa tua banyak orang yang belum siap untuk menerimanya. Ini terlihat kebanyakaan orang yang menjadi gelisah ketika mereka berumur 50 tahun, karena di usia ini tanda-tanda usia tua seperti kerut diwajah, rambut yang memutih, gangguan kesehatan dan berkurangnya tenaga menjadikan mereka merasa dirinya tidak seperti dulu lagi. Akan tetapi manusia jauh lebih menyukai kemudaan, karena kemudaan identik dengan menarik.
Sebagai contoh media yang telah mengkontruksi sedemikian rupa bahwa yang menarik mata adalah yang berkulit kencang, yang dimiliki mereka yang muda. Iklan kosmetik dipaparkan sedemikian rupa dalam berbagai produk yang menentang “ketuaan” seperti krim penghilang kriput pada area wajah. Demikian juga ada orang yang menolak kenyataan bahwa mereka sudah memasuki usia tua dengan berpakaian dan bertingkah laku seperti orang muda. Ada pula orang yang menjadi acuh tak acuh pada penampilanya dan menghadapi kenyataan tersebut dengan keluh kesah.
Hal ini terjadi karena usia tua lebih identik dengan stereotip negatif seiring dengan penurunan fungsi fisik dan kognitif misalnya pikun, cerewet, kesepian, menyusahkan orang lain, tidak dapat mandiri, tidak menarik dan sebagaimana menjadi label sehari-hari yang harus diterima orang yang mulai memasuki usia tua. Selain itu beberapa persoalan yang dihadapi oleh orang yang memasuki usia tua adalah karena tidak lagi bekerja meliputi meningkatnya hambatan-hambatan psikis, kurangnya kontak sosial, rasa jemu dan lesu kerja atau tidak aktif.[3] Hal itu sangat tidak disukai bagi orang-orang lanjut usia yang biasa kerja Selain itu keadaan-keadaan tadi menjadi perasaan-perasaan tidak berguna, sudah tidak berarti lagi dalam hidup. Perasaan-perasaan inilah yang sering muncul dikalangan orang tua lanjut usia.
Selain itu di usia tua juga sudah mengerti atau memahami bahwa kematian itu adalah bagian dari kehidupan.[4] Hal ini menujukan bahwa orang tua lanjut usia adalah orang yang rentan terhadap penyakit misalnya badanya menjadi bungkuk, pendengaranya sangat berkurang, pengelihatnya kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Dari hal inilah dibutuhkan perawatan-perawatan yang khusus terhadap orang tua lanjut usia. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam merawat atau menagani orang tua lanjut usia. Secara umum dalam budaya timur, orang tua lanjut usia itu dirawat oleh anggota keluarga seperti anak, cucu, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara dengan penuh kesabaran dan pengorbanan.
Perhatian dan pertolongan keluarga sangatlah dibutuhkan oleh orang tua dalam menjalani masa tuanya. Perhatian dan pertolongan keluarga bukan saja karena orang tua membutuhkannya, melainkan juga karena sudah seharusnya setiap anak atau keluarga harus memperhatikan dan memelihara orang tuanya. Kita mesti menghormati mereka dengan perbuatan kita yaitu dengan tubuh dan milik kita, dengan membantu mereka, menolong serta memelihara mereka pada waktu mereka sudah lanjut usia, sakit, atau miskin (Kel 20:12).
Semua ini kita lakukan bukan hanya dengan senang hati, melainkan juga dengan rendah hati dan penuh hormat sambil menyadari, kita melakukannya di hadapan Allah.[5] Namun bagi mereka yang tidak mempunyai keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasanganya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar. Disitulah pentingnya panti wredha sebagai tempat untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia.
Melihat hal ini gereja secara khusus GBKP mendirikan sebuah tempat untuk orang tua lanjut usia yaitu pusat pelayanan orang tua sejahtera (PPOS) di taman jubelium Sukamakmur. Dimana tujuanya adalah agar orang tua lanjut usia mendapat perhatian dalam pelayanan rohani, mendapat teman berbagi rasa supaya di hari-hari tuanya mereka masih dapat menikmati berkat-berkat dari Tuhan dan tidak merasa sebagai orang yang tidak dibutuhkan lagi. Tetapi pada kenyataanya kebanyakaan orang tua lanjut usia tidak seberapa suka di tempakan di PPOS. Ini terlihat ketika mereka ditempatkan di PPOS kebanyakan dari mereka merasa dirinya diabaikan oleh keluarganya, hal ini menyebabkan ketidaktenangan dalam hidupnya karena tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Ada beberapa hal yang diharapkan oleh orang tua lanjut usia, antara lain:[6]
a. Keinginan untuk masih dipedulikan dan diakui sebagai bagian dari lingkungan hidupnya, khusunya dilingkungan keluarga.
b. Mendapatkan dan merasakan hubungan persahabatan yang wajar, mereka butuh teman sebaya untuk berkomunikasi, mengenang masa lalu yang penuh arti, kesempatan berkumpul. Dari lingkungan keluarga dan teman-teman ia mengharapkan memberikan kepada mereka sekedar masa “masih diperhitungkan dan diperhatikan”.
c. Dapat mengisi waktu luang dengan cara-cara yang sesuai dan memuaskan dirinya; misalnya dengan melakukan bakat atau hobinya tanpa diganggu. Mereka perlu kesibukan yang tetap, dalam hal meyalurkan bakatnya dan kegiatan sosial yang tidak terikat.
d. Mendapat pelayanan kesehatan yang cukup (termasuk pengobatan dan perawatan), khusunya mendapat pelayanan dan perawatan tentang penyakit usia lanjut: agar keluhan mereka tidak dianggap sepele.
e. Memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri selaras dengan umurnya, tidak tinggal bersama dengan anak-anaknya.
Dari hal-hal diatas kebanyakan tidak mereka temukan di PPOS, tetapi yang mereka temukan adalah kejenuhan dengan tidak adanya kegiatan dan kesepian sehingga membuat spritualitas mereka juga menurun. Selain itu faktor budaya juga mempengaruhi orang tua lanjut usia tidak bersedia ditempatkan di PPOS. Hal ini dikarenakan dalam budaya Karo orang tua lanjut usia itu adalah orang yang dihormati atau dibanggakan. Dimana dalam setiap acara adat mereka mendapat peranan penting misalnya para lanjut usia dalam masyarakat adat diberi kehormatan dalam musyawarah adat secara proporsional menurut fungsi dan perananya dalam sesuatu secara adat sebagai konsultan atau penasihat dalam permusyawarahan adat[7]. Akan tetapi ketika mereka sudah ditempatkan di PPOS mereka nantinya tidak akan bisa mengunjungi kerabatnya dalam acara-acara adat dan juga memenuhi tanggung jawabnya didalam adat. Dari hal ini budaya juga menuntut bagaimana tanggung jawab anak terhadap orang yang sudah lanjut usia dengan merawatnya bersamanya. Ada berapa faktor orang tua lanjut usia ditempatkan disana yaitu:
- Kesibukan keluarga (tidak ada yang merawat)
- Orang tua lanjut usia sudah sering sakit jadi dibutuhkan perawataan khusus (kolihen).
- Keinginan dari orang tua lanjut usia itu sendiri ingin berkumpul dengan seusianya
Dari hal inilah dibutuhkan pelayanan pastoral[8] terhadap mereka yang membutuhkan orang lain sebagai teman untuk berbagai. Karena di usia ini cenderung di identikan dengan masa-masa yang lemah atau tidak berdaya. Untuk itu dalam melaksanakan pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia ada 5 tipe yang harus dipelajari yaitu:[9]
1. Tipe arif bijaksana
Tipe arif bijaksana memiliki banyak pengalaman mudah menyusaikan diri terhadap perubahan, memiliki kesibukan, ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, berusaha memenuhi undangan-undangan yang sampai kepadanya dan menjadi panutan bagi orang sekitarnya.
2. Tipe mandiri
Tipe mandiri biasanya mengganti kegiatan-kegiatan yang telah berhenti dengan kegiatan-kegitan baru, selektif memilih teman bergaul dan undangan-undangan.
3. Tipe pasrah
Tipe pasrah ialah orang yang menerima dan menunggu nasip baik, ia yakin “bila habis gelap akan datang terang”, rajin beribadah, ingin aktif adalam segala hal dimana saja, ringan langkah kemna saja, pekerjaan apapun dilakukanya.
4. Tipe tidak puas
Tipe tidak puas adalah orang yang mengalami konflik batin melawan proses ketuaan yang membuat kecantikanya pudar (hilang), kehilangan daya tarik badaniah disebabkan kehilangan kekuasaan, jabatan, status teman yang dikasihi, menjadi pemarah, mudah tersingung, sering sifatnya menuntut, sulit dilayani dan tukang kritik
5. Tipe Bingung
Tipe bingung ialah orang yang kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa rendah diri, sering menyesal, pasif dan kurang tertarik akan semua hal.
Dari hal diatas maka bisa dikatakan dengan mengetahui tipe orang tua lanjut usia, akan semakin mudah dalam melaksanakan pelayanan pastoral.
Memasuki usia lanjut adalah hal yang sangat berat, tetapi di usia ini juga yang ditutuntut adalah bagaimana orang tua lanjut usia itu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan (Mazmur 71:17-18). Dalam Alkitab kita menemukan banyak orang yang sudah memasuki usia lanjut tetapi Allah memakainya dalam pelayanan, misalnya Abraham usianya pada saat itu adalah 75 tahun (Kej 12:4). Kita ketahui bahwa di usia itu adalah masa-masa kritis bagi usia hidup. Usia tua dalam kehidupan merupakan waktu yang indah untuk memuliakan Allah dengan membiarkan Roh Kudus menumbuhkan buahNya dalam dirinya yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtra, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasan diri (Gal 5:22,23)[10]. Sebenarnya, masa tua bukanlah masa yang tidak berarti atau masa tidak dapat berbuat apa sama sekali. Dalam masa tua pun, pastilah masih ada hal-hal yang dapat dikembangkan dan diberikan oleh mereka kepada Tuhan.
Semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan semakin memberi diri kepada Tuhan dapat dilakukan oleh para orang tua lanjut usia, baik ketika dia masih berada di tengah-tengah keluarganya, maupun ketika dia sedang berada di PPOS. Dalam mewujudkan hal ini, orang tua memerlukan bantuan dari orang lain (keluarga maupun pengelola PPOS) sehingga mereka semakin termotivasi mendekatkan dan memberi diri kepada Tuhan, mengingat pada masa tua ini para orang tua lanjut usia sering kehilangan semangat hidup.
Dari hal inilah dibutuhkan sebuah pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia supaya semakin mengetahui makna hidup. Dimana dimasa usia tua yang diperlukan adalah bagaimana penyerahan diri terhadap Allah (Maz 62:2). Dengan melihat berbagai hal di atas, maka penulis merasa sangat perlu untuk mengadakan penelitian dan menuliskannya dengan judul: “PELAYANAN PASTORAL TERHADAP ORANG TUA LANJUT USIA”, dengan sub judul: “Dampak Pelayanan Pastoral Dalam Meningkatkan Tingkat Penyerahan Diri dan Ketenangan Hidup Terhadap Orang Tua Lanjut Usia Di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtera GBKP Taman Jubelium Sukamakmur”.
1.2 Identifikasi Masalah
Adanya anggapan usia tua identik dengan stereotip negatif.
Adanya perasaan-perasaan tidak diterima di keluarga dari orang tua lanjut usia yang ditempatkan di PPOS.
Adanya faktor budaya yang mengakibatkan orang tua lanjut usia tidak bersedia ditempatkan di PPOS.
Kurangnya peyerahan diri sehingga menimbulkan ketidaktenangan hidup di kalangan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS.
Kurangnya perhatian keluarga orangtua lanjut usia yang di tempatkan di PPOS
1.3 Pembatasan Masalah
Dari permasalahan yang muncul di atas dan luasnya permasalahan mengenai orang tua lanjut usia maka perlu kiranya dibatasi agar tidak terlalu luas. Dalam hal ini penulis hanya membatasi dalam hal pelayanan pastoral secara khusus kepada orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS dalam meningkatkan tingkat penyerahan diri dan tingkat ketenangan hidup.
1.4 Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah adalah:
Bagaimana pandangan Alkitab mengenai orang tua lanjut usia?
Bagaimanakah gambaran umum orang tua lanjut usia yang tingal di PPOS?
Faktor-faktor apakah yang menyebabkan orang tua lanjut usia ditempatkan di PPOS?
Bagaimana penerimaan dan perasaan orang tua yang di tempatkan di PPOS?
Bagaimanakah tingkat penyerahaan diri dan ketenangan hidup orang tua lanjut usia sebelum dan sesudah mereka ditempatkan di PPOS?
Sejauh manakah pelayanan pastoral meningkatkan penyerahan diri dan ketenangan hidup orang tua lanjut usia ?
1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research) yakni mengumpulkan, mempelajari dan menganalisa buku-buku refrensi yang berhubungan dengan judul. Selain itu penulis memakai penelitian lapangan (Field Research) yaitu mengadakan penelitian pada kalangan orang tua lanjut usia di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) GBKP taman jubelium Sukamakmur. Metode yang penulis lakukan yaitu dengan wawancara/percakapan, dengan tujuan mendapatkan data informasi yang lebih baik.
1.6 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan ini adalah:
Untuk mengetahui apa dan bagaimana orang tua lanjut usia.
Untuk mengetahui pentingnya kehadiran PPOS ditengah-tengah Gereja dan masyarakat
Untuk mengetahui bagaimana keadaan orang tua lanjut usia yang ditempatkan di PPOS.
Untuk mengetahui perasaan-perasaan apa yang muncul terhadap orang tua lanjut usia ketika mereka ditempatkan di PPOS.
Untuk mengetahui bentuk pelayanan pastoral yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Untuk memberdayakan lansia melalui kegiatan-kegiatan yang menambah income
1.7 Manfaat Penulisan
Menambah wawasan penulis bagaimana pelayanan pastoral yang sesuai terhadap orang tua lanjut usia.
Bermanfaat bagi orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS.
Agar jemaat menganggap bahwa pentingnya kehadiran PPOS ditengah-tengah gereja.
Bermanfaat bagi gereja untuk mengetahui pentingnya pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia khusunya yang tinggal di PPOS.
Bermanfaat bagi pelayan yang bekerja di PPOS untuk memberikan pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia.
1.8 Sistematika Penulisan
Adapun yang menjadi sitematika penulisan adalah:
Bab I : Pendahuluan: Latar belakang masalah, Identifikasi masalah, Pembatasan masalah, Perumusan masalah, Metode penulisan, Tujuan penulisan, Manfaat penulisan, dan Sistematika penulisan.
Bab II : Kerangka Teoritis, Kerangka Konseptual dan Hipotesa tentang orang tua lanjut usia .
Bab III : Metode Penelitian dan Gambaran umum penelitian.
Bab. IV : Hasil penelitian, Pembuktian hipotesa dan refleksi teologis.
Bab. V : Kesimpulan dan saran
BAB II
KERANGKA TEORITIS, KONSEPTUAL
DAN HIPOTESA
2.1 Kerangka Teoritis
2.2. Pelayanan Pastoral
2.2.1. Pengertian Pelayanan Pastoral
2.2.1.1 Pengertian pelayanan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pelayanan berasal dari kata “layan” yang berarti membantu, menyiapkan (mengurusi) apa-apa yang diperlukan seseorang. Kata “pelayanan” diartikan orang-orang yang melayani (pembantu:pesuruh).[11] Ini menujukan pelayanan adalah suatu pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain dalam hal membantu orang yang memerlukan. Kata pelayanan berasal dari bahasa yunani yaitu “diakonia” (pelayanan) yang berarti memberi pertolongan atau pelayanan.
Dalam dunia Yunani purba kata “diakonia” biasa dipakai untuk pelayanan di meja makan sebagai pribadi kepada orang lain. Hal ini bisa kita temukan dalam Perjanjian Baru ada beberapa ungkapan dengan arti harafiah “melayani di meja” dengan arti mempersiapkan jamuan makan (Kis 6:2) maupun dalam arti pekerjaan pelayanan meja yang siap melayani para tamu (Luk 12:37; 17:8; Yoh 2:5,9).[12] Dari arti harafiah ini terungkap juga arti melayani sesama secara umum, yaitu sesama yang lebih rendah kedudukanya (Luk 22:26-27). Misalnya mengenai para wanita yang mengikuti Yesus dikatakan mereka melayaniNya dengan harta bendanya (Luk 8:3) demikian juga dalam Matius 25:31-46 melukiskan pelayanan sebagai memberi makan dan minum, memberi pakaian dan tumpangan, perawatan dan kunjungan orang sakit serta para tahanan yang dilihat sebagai pelayanan bagi Tuhan Allah.[13]
Pada saat sekarang ini pelayanan itu memang lebih dari pada perawatan orang yang memerlukan bantuan saja. Seperti rasul Paulus yang pelayanan mereka meliputi berkhotbah, mengajar, mengembalakan, memimpin jemaat, mengadakan kunjungan, mengumpulkan kolekte, dan menghantar uang kepada saudara-saudara yang ada di Yerusalem yang juga disebut diakonia (2 Kor 8:19; Rom 15:25). Ini menujukan bahwa pelayanan merupakan bentuk nyata sesuai kata (firman yang diberitakan), dengan perbuatan nyata yaitu untuk mendemostrasikan kasih. [14] Dari hal ini dapat dilihat bahwa pelayanan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Dimana setiap orang Kristen harus melakukanya karena kita telah dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus yang terlebih dahulu memberi pelayanan kepada manusia.
2.2.1.2. Pengertian Pastoral
Kata Pastoral berasal dari bahasa latin yaitu “pastor” yang berarti gembala. Didalam Perjanjian Lama kata yang digunakan adalah ( ra`ah) dari bahasa ibrani. Kata ini digunakan 173 kali untuk menggambarkan tindakan memberi makan kepada domba-domba seperti dalam Kej 29:7 dan juga sehubungan dengan manusia seperti dalam Yeremia 3:15 “Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hatiku, mereka akan mengembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. Dalam Perjanjian Baru istilah yang dipakai adalah poimhn (Poimen) dari bahasa Yunani yang diterjemahkan dengan arti gembala. Oleh sebab itu pengembalaan dapat juga disebut “poimenika” atau “pastoralia”[15] Kata ini digunakan 18 kali dalam PB misalnya Ef 4:11 “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.
Selain itu dalam Yohanes 10:11 Yesus juga menyebut dirinya sebagai gembala yang baik. Demikian juga dalam Yoh 10:11 “gembala yang baik adalah gembala yang rela menerikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yesus Kristus). Menurut Aart van Beek mengatakan bahwa:
“Pastoral adalah kata sifat dari pastor yang artinya bersifat gembala, yang bersedia merawat, memelihara, melindungi dan menolong orang lain. Bahkan seorang pastor dalam pastoral harus merasakan tugas tersebut merupakan tugas yang harus ia lakukan sebab hal itu adalah tanggung jawab dan kewajibanya”.[16]
Ini menujukan bahwa pastoral itu adalah pengembalaan. Lebih lanjut J.L.Ch.Abineno Mengatakan bahwa:
“Pengembalaan merupakan percakapan dialogis antara pendeta sebgai gembala dan warga jemaat sebgai domba-domba. Percakapan dialogis itu tetap dalam suasana kasih kebebasan dan kebersamaan. Sehingga pastoral konseling adalah proses yang berusaha untuk menyelesaikan masalah atau persoalan melainkan relasi antara pendeta sebagai gembala dengan warga jemaat ”.[17]
Sedangkan M.Bonsstrom dalam bukunya, Apakah Pengembalaan Itu mejelaskan bahwa pengembalaan adalah :
a. Mencari dan mengunjungi anggota jemaat satu-persatu
b. Mengabarkan firman Allah kepada jemaat ditengah situasi hidup mereka pribadi
c. Melayani jemaat sama seperti bila Yesus melayani mereka
d. Supaya mereka lebih menyadari iman mereka dan dapat mewujudkan iman itu dalam hidupnya sehari-hari.[18]
Berdasarkan pandangan dan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembalaan itu berarti menjalankan proses percakapan (komunikasi ) dan hubungan antara gembala (konselor) dengan jemaat (konseli) untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi oleh anggota jemaat dalam hidupnya.
Hal kebersamaan dalam proses pengembalaan bukan berarti menghilangkan fungsi gembala sebagai pembimbing, penuntun dan pemelihara.[19] Tetapi melalui kebersamaan dalam proses pengembalaan tersebut justru memudahkan tugas gembala karena permasalahan jemaat dapat diutarakan secara terbuka dan menyeluruh. Dengan demikian berarti seorang gembala harus tetap memperhatikan domba-dombanya secara terus menerus dan mengetahui kebutuhan domba-dombanyanya baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Jadi pengembalaan itu dilakukan dalam pandangan perhatian Allah terhadap umanNya, yang berarti berkomunikasi dengan Allah dan bermanfaat untuk mempengaruhi segala aspek hidup manusia seutuhnya. sebabAllah juga digambar sebagai gembala (Yeh 34).[20] Jadi hal mengembalakan tersebut merupakan kepedulian ataupun penghiburan terhadap jemaat yang berduka, yang memiliki pergumulan berat dalam hidupnya (orang tua lanjut usia dengan segala permasalahanya) sama seperti Allah yang memperdulikan umatnya.
2.2.2. Fungsi Pelayanan Pastoral
Dalam hal fungsi pelayanan pastoral tidak sama dengan tugas atau maksud pelayanan pastoral. Fungsi pelayanan pastoral adalah apa yang pelayanan pastoral benar-benar secara nyata , kerjakaan atau hasilkan. Ada 4 fungsi pelayanan pastoral yaitu:
Menyembuhkan manusia seutuhnya
Fungsi pelayanan pastoral sebagai penyembuh sejak lama sudah ada. Ini terlihat ketika Yesus hadir di dunia ini dan memulai pekerjaanya. Dalam Perjanjian Baru pekerjaan penyembuhan Yesus dirumuskan dengan rupa-rupa istilah Yunani “therapeuo” (Mat 4:23; 8:7; Luk 4:23) “Iaomai” (Mat 8:8), “my giano” (Yoh 5:4-15; Kis 4:10) “katharzo” (Mat 8:28; 10:8; 4:9; Luk 4:27; 17:14-17), “soizo” (Mat 9:21; Mrk 10:52; Luk 17:19) dan “apolyo” (Luk 13:11) yang diterjemahkan dengan menyembuhkan, melenyapkan penyakit, membuat orang menjadi sehat, mentahirkan dan menyelamatkan. Dari nats-nats di atas nyata bahwa pekerjaan penyembuhan Yesus mencakup baik penyakit-penyakit jasmaniah (orang-orang yang buta, orang-orang yang tuli, orang-orang yang lumpuh Dll) maupun penyakit-penyakit rohaniah orang-orang yang dirasuk roh jahat. Dalam pekerjaan ini yang Yesus lakukan dengan perkataan dan perbuatan penyembuhan erat dihubungkan dengan pengampunan.[21]
Dalam kaitan ini pelayanan pastoral sebagai penyembuh disini berarti segala bentuk pelayanan yang menyakut kesembuhan, kebahagian dan kesehjahtraan manusia. Seseorang dapat sembuh jika dia dapat hidup dengan sembuh dalam hubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang-orang lain disekitarnya.
Membantu orang yang kita layani dalam pastoral
Pelayanan pastoral dalam membantu dimaksudkan mengadakan hubungan dengan orang lain yang biasanya berada dalam keadaan menderita. Penderitaan yang dimaksudkan adalah apabila seseorang yang tiba-tiba mengalami krisis mendalam (kehilangan , kematian orang yang dikasihi, dukacita dll). Dalam hal inilah fungsi pelayanan pastoral sebagai membantu melakukan pendampingan terhadap mereka yang membutuhkan.[22]
Dari hal ini maka maka akan sedikit meredakan persoalan-persoalan kehidupan mereka , ada beberapa cara kita dalam memberikan pelayanan pastoral terhadap mereka yang menghadapi persolan demikian yaitu:[23]
Berusahalah membantu mereka dengan perkataan dan perbuatan supaya pergumulan, penderitaan mereka tidak bertambah berat.
Berusahalah menghibur dan menguatkan mereka, kalau mereka terbuka untuk bantuan itu.
Berusahalah memobilisasi dan menyusun kembali tenaga-tenaga mereka yang masih ada, supaya mereka dapat menghadapi persoalan-persoalannya.
Berusahalah membantu mereka supaya mereka dapat memulai lagi suatu hidup yang baru dalam situasi baru, dimana mereka sekarang berada.
Menuntun orang yang kita layani dalam pastoral
Pelayanan pastoral atau pengembalaan adalah suatu proses yang panjang. Proses ini dapat kita umpamakan dengan suatu jalan yang harus ditempuh oleh anggota jemaat yang kita layani, tetapi jalan ini biasanya tidak lurus dan tidak licin, kadang-kadang malahan berliku-liku. Karena itu anggota jemaat tadi tidak dapat menempunya seorang diri, ia membutuhkan kawan yang menuntunya.[24] Dari hal ini seorang pastor/pendeta ditutuntun supaya bisaa menuntun setiap orang yang memerlukan.
Mendamaikan orang dalam pelayanan pastoral
Fungsi terakhir dari pelayanan pastoral adalah mendamaikan. Dari segi mendamaikan ini dimaksudkan agar orang lain yang telah menjauhi diri sendiri atau menjahui orang lain ataupun menjahui Tuhan akan mengalami keyakinan baru, penerimaan, pengampunan lalu dengan demikian belajar hidup dalam hubungan baru dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan Tuhan.[25] Fungsi ni menujukan bahwa didalam melakukan pelayanan pastoral seorang pastor/pendeta mampu mendamaikan orang yang memiliki permasalahan.
Secara umum fungsi pelayanan pastoral yang sesunguhnya adalah menyembuhkan. Tetapi dalam kaitan pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS fungsi yang diambil adalalah membantu orang yang kita layanai dalam pastoral. Hal ini dikarenakan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS adalah orang-orang yang sangat membutuhkan perhatian yang khusus ditambah lagi mereka mengalami permasalahan-permasalahan yang sangat berat di usia mereka yang sudah tua. Permasalahan-permasalahan itu adalah menyakut masa lalu mereka, baik dalam hal keluarga mereka atau kesalahan-kesalahan mereka dimasa yang lalu. Dalam hal ini pelayanan pastoral dapat membantu mereka keluar dari hal-hal tersebut supaya di usianya yang sudah tua yaitu tahap akhir mereka bisa hidup tenang di akhir hidup mereka. Disaat itulah pelayanan pastoral berfungsi dalam membantu mereka tentu saja dapat menyembuhkan mereka.
2.2.3. Bentuk Pelayanan Pastoral
Dalam pelayanan pastoral ada beberapa bentuk yang dikenal. Secara umum bentuknya adalah percakapan. Dalam kaitan ini percakapan yang dimaksudkan adalah percakapan pastoral yaitu antara pendeta/gembala dan anggota jemaat yang ia gembalakan dan sering disebut pastoral konsling.[26] Ada beberapa bentuk pelayanan pastoral yaitu percakapan pastoral, kunjungan rumah tangga , pelayanan yang meliputi pelayanan pastoral lewat surat dan telepon.
2.2.3.1. Percakapan Pastoral
Bentuk pelayanan pastoral dalam hal percakapan yang dimaksudkan disini adalah bagaimana seorang pendeta/gembalaa membimbing anggota jemaatnya. Dalam percakapan pastoral ini sering disebut konsling pastoral. Dimana konseling pastoral berbeda dengan pastoral care (pengembalaan umunya, Zeelzorg, Seelsorge, Pastoral work), yang secara umum pastor/pendeta mengunjungi anggota jemaatnya.[27] Dimana dalam konseling pastoral, sianggota jemaatlah yang datang kepada gembala atau pendeta karena sesuatu yang tertentu, misalnya: kesusahan hati yang normal atau keruwetan jiwa yang tidak diketahui apa penyebabnya. Dari hal inilah terjadi sebuah percakapan pastoral.
Dalam percakapan tersebut kita menyadari konsep triologi sehingga kita hanya sebagai alat Tuhan. Sebab dalam pelayanan tersebut Allah sendiri menjadi subjek (bnd Mat 10, Mrk 6) dan roh Allah yang memimpin percakapan percakapan tersebut (Mat 10:19,20; Luk 12:11,12).[28] Karena tugas pengembalaan adalah tugas yang berat dan perlu tanggung jawab yang tidak dapat kita lakukan dengan kekuatan serta kemampuan kita sendiri. Oleh sebab itu tugas pengembalan harus dilakukan didalam doa dan meminta pertolongan Tuhan.
2.2.3.2. Perkunjungan Rumah Tangga
Pelayanan pastoral dengan perkunjungan rumah tangga adalah pertama-tama pelayanan gerejawi. Dimana yang melakukan pelayanan ini adalah penatua-penatua dan diaken. Begitu juga dengan pendeta tetapi pada umunya yang sering melaksanakan tugas ini adalah pendeta sebagai gembala. Perkunjungan rumah tangga ialah perkunjungan para pengembala kerumah-rumah anggota atau yang sering disebut perkunjungan keluarga. Perinsipnya adalah jauh lebih perlu perkunjungan seseorang pendeta kerumah anggotanya dari pada kedatangan anggota kerumah pendeta atau gereja.
Dalam perkunjungan rumah tangga yang perlu di tanyakan adalah bagaimana tentang kesehatannya, hasil-hasil kerjanya, tentang musim hujan/kemarau, tentang pekerjaan atau lain-lain. Seturut dengan kedaan umum kehidupan orang itu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bertujuan agar ia mengetahui bahwa kita memerlukan keadaanya, menujukan kita peduli tentang dia. Namun kita tidak bisa berhenti dalam soal-soal tersebut karena hal itu bukanlah tujuan kita dalam perkunjungan rumah tangga.[29] Dimana tujuan dari perkunjungan rumah tangga ini adalah memimpin orang itu lebih dekat kepada Tuhan.
2.2.3.3. Pelayanan
2.2.3.3.1. Pelayanan Pastoral Dengan Surat
Pelayanan pastoral lewat surat adalah sebuah pelayanan yang cukup lama dikenal. ini terlihat sejak masa rasul Paulus melayani dia mengunakan surat sebagai alat untuk mengabarkan injil. Demikian juga ketika dia dipenjara masih mengunakan surat sebagai alat untuk melakasanakan pelayanan pastoral. Ini berati dalam pelayanan pastoral juga surat bisa digunakan.
Disamping itu kita juga tahu, bahwa surat sangat “hidup” sifatnya dan sangat terikat pada orang yang menulis dan menerimanya.[30] Karena itu kita tidak boleh heran bahwa surat sangatlah baik digunakan dalam pelayanan pastoral
2.2.3.3.2. Pelayanan Pastoral Dengan Telepon
Pada saat sekarang ini telepon merupakan salah satu alat komunikasi yang paling penting. Dimana jika seseorang berada dalam dalam kesusahan atau kesulitan, ia dengan segera dapat mengunakan telepon untuk menghubungi alamat yang ia butuhkan dan ia akan sangat kecewa, jika ia tidak mendapat jawaban. Untuk menghindari atau mengurangi kecewa anggota jemaat, baiklah pendeta/gembala mengusahakan supaya pada jam-jam yang sudah ditentukan untuk menerima telepon. Tetapi perlu diketahui dalam melaksanakan pelayana pastoral lewat telepon ada beberpa hal yang perlu diperhatikan yaitu:[31]
Konselor harus menyadari akan keterbatasan pelayan dengan telepon, bahkan keterbatasannya sebagai konselor (apapun juga latar belakang pendidikanya). Dalam kasus-kasus yang tidak mungkin ditanganinya sendiri, konselor harus siap bekerja sama dengan orang-orang yang lebih tepat, misalnya dokter, psikolog, pendeta, psikiater, pekerja sosial, polisi dsb. Untuk maksud itu, konselor dalam pelayanan konseling melalui telepon, dianjurkan untuk mempunyai daftar referensi (rujukan yang siap pakai, termaksuk nama alamat dan nomor telepon).
Didalam hal menjaga kerahasian, konselor tetap bisa menyampaikan kepada orang lain jikalau:
o Klien mengijinkan
o Klien dalam kondisi yang sangat berbahaya, misalnya klien akan bunuh diri dan sebagainya.
Dari beberapa bentuk diatas, bentuk percakapan pastoral adalah yang paling tepat bagi kalangan orang tua lanjut usia secara khusus bagi mereka yang tinggal di penitipan orang tua lanjut usia seperti PPOS. Hal ini dikarenakan di usia mereka yang sudah tua dan kondisi fisiknya sangat menurun, maka mereka membutuhkan teman untuk bercerita setiap permasalahan-permasalalahan hidupnya baik tentang keluarganya ataupun kehidupan pribadinya. Selain itu tinggal di tempat penitipan orang tua adalah sesuatu hal yang sangat menyakitkan bagi mereka. Ini disebabkan karena di tempat ini mereka kesepian dan jauh dari keluarga mereka dan bisa saja hal ini menyebabkan adanya kemarahaan dari orang tua lanjut usia yang tinggal di tempat penitipaan orang tua lanjut usia. Dari hal inilah bentuk pelayanan pastoral yaitu percakapaan sangat mereka butuhkan supaya orang tua lanjut usia yang tinggal di tempat seperti ini yang mempunyai luka batin dapat sembuh dan memperoleh kebahagiaan dihari tua mereka.
2.2.4. Pentingnya Pelayanan Pastoral Terhadap Orangtua Lanjut Usia
Menjadi orang lanjut usia adalah hal yang tidak bisa dielakan jika orang berumur panjang. Tetapi kebanyakan orang yang berusia lanjut ingin mengelakan hal tersebut. Hal ini di karenakan di usia lanjut banyak mengalami penurunan kondisi fisik. Dalam arti orang tua lanjut usia adalah orang-orang yang mulai banyak mengalami ganguan penyakit di seluruh tubuhnya. Misalnya ketidakberdayaan dalam bekerja, tidak memiliki pendengaran yang baik, sudah bungkuk dan lain sebagainya. Dari hal ini tidak jarang orang untuk menolok yang namanya usia tua. Kebanyakan apabila seseorang memasuki usia perasaan-persaan yang sering muncul adalah:[32]
Rasa tak berguna
Dalam hal ini sering sekali orang tua yang sudah lanjut usia mengatakan “aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi”......”aku hanya merepotkan orang lain saja”, pikiran-piran seperti ini sering muncul dari mereka yang tadinya pintar dan penuh semangat. Tidak jarang terjadi bagaimana orang yang dulunya memegang peranan yang sangat penting dalam hidup ini lalu merasa paling tidak berguna begitu usia lanjut menjelang, sehingga mereka mengubur prestasi masa lampau.
Rasa bersalah
Perasaan bersalah muncul dari kalangan orang tua lanjut usia yang merasa tidak puas akan kehidupanya di masa yang lalu. orang seperti ini sering merasa tidak berguna dengan mengatakan “ kalau saja aku mendapat kesempatan lagi aku akan...”
Rasa kasihan pada diri sendiri
Ada satu sikap lagi yang suka menggangu orang lanjut usia, yakni rasa kasihan pada diri sendiri. Gejalanya yaitu dia mengatakan “betapa malangnya aku ini”, tidak ada yang peduli apakah aku hidup atau mati”. Rasa kasihan pada diri sendiri menghubungkan kutub-kutub rasa bersalah dan kepahitan.
Rasa takut
Dibandikan dengan sikap-sikap yang lain, mungkin persaan takut ini lebih sering muncul pada orang lanjut usia. Takut akan keadaan keuangan, takut kehilangan kesehatan atau akal, pasangan maupun teman.
Dari hal diatas bisa dilihat bahwa orang tua lanjut usia adalah orang-orang yang memiliki banyak pergumulan yang sangat berat dan juga perlu mendapat perhatian. Perhatian yang mereka butuhkan yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Perhatian secara rohani mereka dapatkan melalui pelayanan pastoral. Dari hal inilah peran gembala (pendeta, penatua/diaken dan anggota jemaat yang di bina untuk hal ini) untuk memberikan pendapingan pastoral kepada mereka orang tua lanjut usia. Supaya mereka mampu memahami bahwa usia lanjut adalah berkat/pemberian dari Tuhan yang tidak semua orang dapat menerimanya.
Secara umum ada beberapa hal pentingnya pelayanan pastoral kepada orang tua lanjut usia yaitu bahwa dengan pelayanan pastoral orang tua lanjut usia dapat memahami bahwa usia lanjut adalah bagian dari rancangan Tuhan. Karena sering sekali seseorang yang sudah lanjut usia bersungut-sungut, tidak mau menerima usia tua dan marah kepada Tuhan dengan mengatakan “kenapa aku menderita begini lebih baik engaku panggil saja aku”. Dari hal ini gembala yang akan menjalankan pelayanan pastoral membina orang tua lanjut usia dengan mengatakan usia lanjut bukanlah penderitaan tetapi suatu rencana yang indah. Selain itu pentingnya pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia adalah untuk membantu mereka mempersiapkan ke kehidupan yang terakhir yaitu kematian. Sering sekali orang tua lanjut usia di usianya yang sudah tua belum siap menghadapi kematian bahkan ada juga yang sudah tua memiliki luka batin terhadap keluarganya atau orang lain. Dari hal inilah pelayanan pastoral sangat mereka butuhkan.
2.3. Orang Tua Lanjut Usia
2.3.1. Pengertian Lanjut Usia
Menurut KBBI lanjut usia berasal dari kata lanjut dan usia. Lanjut berarti tua, berumur, atau memiliki usia yang panjang.[33] Di usia ini sering disebut masa kematangan integritas ego yang dimulai umur 55-65 (70) tahun. Manusia dalam masa ini mulai mengintegrasikan semua perasaan, kejadian dan pengalaman yang ia pelajari.[34] Proses menjadi tua sampai saat ini belum begitu dimengerti dengan baik oleh kalangan medis mapun awam. Ada suatu pembagian dalam fase hidup yang dapat dipakai sebagai pegangan, yaitu pada umumnya:[35]
· Klimakterium terjadi antara 40-50 tahun
· Senesens terjadi antara 50-60 tahun
· Senilitas terjadi antara 60-80 tahun
Pengertian lanjut usia sebaiknya tidak saja dititik beratkan dari umur seseorang. Sebenarnya semua yang ada di dunia ini akan menjadi tua baik benda mati maupun sebagai benda hidup. Seseorang yang sudah berumur 60 tahun, sering dikatakan sudah lanjut usia. Sebenarnya batasan demikian tidak sepenuhnya tepat, karena untuk menentukan seseorang tergolong lansia tidak ditentukan oleh faktor umur saja, tetapi masih perlu diperhatikan faktor kesehatan tubuh, faktor psikologis, faktor sosial dan lingkungan yang didiami seseorang.[36]
Hal ini dikarenakan pada kenyataanya terdapat bermacam-macam umur dalam kehidupan manusia yang dapat mengalami penyakit tua. Ada orang yang pada umur 50-60 tahun menderita penyakit senilitas yang artinya penyakit ketuaan. Sebaliknya ada orang yang berusia 80 tahun masih produktif dan aktif.[37]
Dalam tulisan ini lanjut usia yang dimaksudkan adalah orang-orang yang sudah memiliki usia 60 tahun keatas ditandai dengan kondisi fisiknya yang menurun.
2.3.2. Pandangan Alkitab Tentang Lanjut Usia
Didalam Perjanjian Lama istilah yang menujuk pada “tua” adalah (Zaqen)[38] yang artinya orang yang tua, penatua. Dimana artinya adalah seseorang yang berjangut, sebagai tanda kedewasaan secara umum. Kata zagen biasanya digunakan untuk menujuk pada usia tua (kej 18:12; 19:31) dan juga sebgai suatu istilah untuk menujuk kepada seseorang yang dituakan.[39] Sesorang yang tua adalah sebagai gambaran dari orang yang memiliki banyak pengalaman (ul 32:7), sehingga mempunyai kemampuan untuk memberikan pandangan-pandangan yang bijak dalam masalah-masalah politis (1 raja-raja 12:6-8) karenanya, seseorang yang tua memiliki syarat terbaik untuk menduduki jabatan tua-tua.
Pada bangsa Israel kebanyakaan kekuasaan diberikan kepada orang-orang yang berdasarkan usia tua. Ini disebabkan karena pada usia ini sudah dianggap banyak memiliki pengalaman dan dianggap layak untuk memerintah. Dalam kitab Pentateukh disinggung adanya tua-tua orang mesir (Kej 50:7), orang Moab dan Midian (Bil 22:7), maupun tua-tua Israel. Dalam Keluaran 3:16 bangsa Israel dilukiskan mempunyai tua-tua sejak zaman pembangunan di Mesir dan Musa diperintahkan untuk bekerja sama dengan mereka dalam upaya memperoleh kebebasan.[40] Mula-mula para tua-tua itu mungkin kepala-kepala keluarga, tapi Kel 24:1 menceritakan jumlah yang tetap, yaitu 70 orang. Kepada kalangan ke 70 tua-tua ini dicurahkan Roh Tuhan dengan maksud supaya mereka turut bersama Musa memerintah umat Israel (bil 11:25). Dari hal ini nampak jelas bahwa para tua-tua itua adalah orang yang mendapat peran yang baik dimasyarak atau dia sebagai orang yang dihormati.
Dalam Perjanjian Baru kata yang digunakan untuk menujuk manusia yang sudah lanjut usia adalah Presbuterz (presbuteros). Kata “presbuteros” umunya dipergunakan untuk menujuk kepada usia seseorang yang sudah tua diatas 50 tahun. Namun kata ini juga mempunyai arti ganda, yaitu menujuk pada usia dan juga pada gelar atau jabatan. Dalam PB gambaran lanjut usia digambarkan sebagai orang-orang yang harus dihormati dan mereka juga harus memberi teladan kepada yang muda ( 1 Tim 5:1, 4; Ef 3:20 dan Tit 2:1-3).[41]
Didalam alkitab mengatakan bahwa usia lanjut sebagai berkat pemberian Tuhan “ Takut akan Tuhan memperpanjang umur, tetapi tahun tahun-tahun orang fasik diperpendek (Amsl 10:27), Rambut putih adalah mahkota yang indah yang didapat pada jalan kebenaran. (Amsl 16:31). Selain itu di dalam Alkitab juga kita menemukan bagaimana ciri-ciri orang yang sudah lanjut usia dimana dikatakan, penglihatan menjadi kabur (Kej 48:10), panca indra melemah (2 sam 19:35), kekuatan tubuh berkurang (Mzm 71:9), kedua kaki terasa sakit (1 raja-raja 15:23), badanya selalu kedinginan (1Raj 1:1).
Alkitab juga mengakui bahwa dalam usia lanjut orang dapat berkembang ke dua arah, yaitu jahat atau baik. Raja salomo pada masa mudanya terkenal bijak, tetapi ketika ia sudah tua ia malah berbalik “ sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondong hatinya kepada allah-allah lain sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, allanya seperti Daud, ayahnya. (1 Raja 11:4). Sebaliknya di dalam alkitab kita juga menemukan tentang banyak orang lanjut usia yang bijak misalnya: Nabi Elia, dalam usia lanjut ia mendapat 3 printah dari Tuhan yaitu: mencari pengganti raja Siria, pengganti raja israel dan pengganti untuk dirinya sendiri sebagai nabi. Dari ketiga printah itu, maka perintah terakhirlah terlebih dahulu dilakukanya. Itu pertanda bahwa ia takut akan Tuhan dan tidak takut kehilangan kedudukanya ( 1 Raja 2:1-18).[42]
Hana (Luk 2:36-40), seorang janda yang berumur 84 tahun. Ia telah tua namun tidak pernah berhenti berharap. Umur dapat menggeroti kecantikan dan kekuatan tubuh kita; dan lebih buruk waktu dapat memeggeroti kehidupan kita sehingga pengharapan yang pernah menggahirahkan kita menjadi mati, dan hidup kita menjadi membosankan dan menerima saja apa adanya. Seperti halnya Hana yang sudah lanjut usia, ia tidak pernah meninggalkan Tuhan malahan ia makin mempererat hubungannya dengan Allah, dengan cara: ia tidak pernah berhenti untuk beribadah. Ia menghabiskan waktunya dalam rumah Allah bersama umat Allah dan ia tidak henti-hentinya berdoa. Oleh sebab itu tahun-tahun berlalu tanpa perasaan sedih dan harapanya tidak tergoyahkan, karena setiap hari ia berhubungan dengan Allah, sumber kekuatan.
Kaleb (Yosua 14:7-12), seseorang yang berusia 85 tahun. Walaupun umurnya lanjut namun ia masih memiliki semangat yang tinggi untuk hidup.[43] Ia masih mampu dan memenuhi syarat untuk dapat berperang maupun memberi nasihat, mengunakan senjata maupun akalnya. Ini berarti bahwa ia tidak memunculkan perasaan-perasaan yang negatif (rasa bersalah, takut) tetapi ia meras tetap kuat.
Dari hal diatas maka bisa dikatakan bahwa usia tua didalam Alkitab adalah usia yang mendapat peranan penting. Dimana di usia ini orang tua itu dianggap sebagai orang yang selalu memberikan nasihat kepada orang yang lebih muda. Demikian juga sebalikinya orang yang muda harus menghormati orang yang sudah lanjut usia.
2.3.3. Pandangan Psikologi Tentang Lanjut Usia
Sejak dilahirkan, manusia secara bertahap mengalami pertumbuhan dan perubahan yang menuju kepada kedewasaan dan keberfungsian. Perubahan-perubahan ini bersifat evolusionar dan sesuai dengan hukum dan kodrat manusia. Menurut Erickson ada 8 tahap perkembangan manusia, dimana setiap tahap itu berbeda dan reaksi itu adalah normal artinya tidak ada situasi stasis karena jika statis berarti abnormal.[44]
1. Anak berumur 0-1 tahun
Tahap ini adalah masa oral, anak mau makan dan minum secara oral. Alat sensorinya belum berfungsi (sensoris artinya ia merasakan lingkunganya). Ia belum mampu mensensor atau menseleksi linkungan, belum tahu warna lingkungan.
2. Masa anak analmaskulator (umur 2-3 tahun)
Periode ini masa mengerakan badanya sendiri, otot-otonya sendiri, dalam periode sebelumnya hanya “air susu ibu” yang egitu dekat kepadanya. Akan tetapi pada masa ini ia mulai dekat dengan lingkungan lain. Ia akan mencoba secara kreatif bereaksi dengan lingkunganya.
3. Masa Genital – Lokomotor (umur 3-4 tahun)
Masa ini adalah tahap untuk bermain dengan orang lain, bermain bersama. Anak mulai belajar inisiatif dan akan terjadi intraksi sosial misalnya bermain bola dan sebagainya.
4. Masa sekolah (umur 6-11 tahun)
Jika dalam tahap sebelumnya bayi bersimbiose, sekarang ia mulai memiliki kesadaran akan adanya orang lain, maka dalam tahap ini anak belajar bahwa dunia ini lebih besar dari keluarganya sendiri. Ia masuk sekolah untuk mendapatkan pendidikan yang tidak dia daptkan di keluarga.
5. Masa Adolesensi (masa remaja umur 12-17 tahun)
Tahap ini adalah masa yang sulit sekali, dimana mereka mersa terasing didunia ini. Identitas mereka tidak cocok dengan harapan manusia pada umumnya. Mereka pada usia ini sedang mencari identitas sendiri.
6. Masa dewasa Muda (umur 18-25 tahun)
Ini adalah priode keintiman atau kekompakaan, dimana priode ini mencoba bergaul akrab sebelum mereka menikah nanti. Menurut erickson kalau tidak mampu tidak mampu berelasi intim dengan satu orang tentu tidak mungkin ia berelasi dengan banyak orang.
7. Masa dewasa (umur 25 atau 30-65 tahun)
Dalam tahap ini terdapat kreatifitas yang positif, tetapi aspek negatifnya ialah hampa bila tidak ada inisiatif. Polaritasnya ialah mereka “berintegrasi” atau sebaliknya negatif adakesulitan keluarga (kasus-kasus keluarga)
8.Masa kematangan integritas ego
Pada tahap ini manusia mulai mengintegrasikan semua perasaan , kejadiaan, pengalaman yang ia belajar. Pintu bereaksinya ialah produktifitas berhenti dan ia memiliki integritas ego, memasuki masa tua dengan ceria atau polaritas negatifnya belum siap untuk pensiun.
Dari hal diatas tahap terakhir pada rentan kehidupan manusia yang berkisar antara usia 60 thn sampai akhir kehidupan sering disebut sebagai usia lanjut.[45] Pada usia lanjut ini manusia tidak lagi mengalami evolusionar, biasanya pria atau wanita lanjut usia akan mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran ke tahap sebelumnya. Kemunduran ini dikenal dengan istilah “menua”. Hal ini mempengaruhi baik secara fisik maupun psikologis atau mental.
Kemunduran fisik yang dialami lanjut usia ini lebih disebabkan oleh beberapa faktor fisik seperti sel-sel tubuh yang semakin kurang berfungsi dengan baik. Kemunduran psikologis yang dialami lanjut usia lebih disebabkan oleh penerimaan akan situasinya pada saat ini, relasi dan pandangan terhadap orang lain, pekerjaan dan situasi lainnya yang dapat mempengaruhi fisik, mental, dan sosial.
2.3.3.1. Perubahan Fisik bagi Usia Lanjut
Sebagian besar perubahan kondisi fisik yang terjadi pada usia lanjut terjadi kearah yang memburuk. Proses dan kecepatannya sangat berbeda untuk masing-masing individu walaupun mereka berada pada usia yang sama. Selain itu juga pada bagian-bagian tubuh yang berbeda pada individu yang sama terjadi proses dan kecepatan, kerusakan yang bervariasi. Misalnya organ reproduksi lebih cepat usang daripada organ lain.
Perubahan yang paling jelas dapat dilihat pada usia lanjut adalah pada penampilan luarnya, terutama pada wajah dan pengenduran pada kulit.[46] Meskipun ada usaha yang dilakukan untuk menutupi tanda ketuaan ini tapi selalu banyak aspek yang tidak dapat tertutupi, misalnya saja pada bagian tangan. Sama seperti wajah pengenduran kulit pada bagian tangan sering kali kelihatan lebih cepat berubah seiring bertambahnya usia.
Selain perubahan pada penampilan luar bagian dalam tubuh individu yang mengalami perubahan walaupun tidak dapat terlihat dengan jelas namun perubahan pada bagian dalam tubuh jelas terjadi dan menyebar keseluruh oragan tubuh.
Perubahan ini terutama terjadi pada sistem syaraf dan isi perut. Perubahan pada sistem syaraf terutama terjadi pada sistem syaraf pusat. Ini diketahui dari menurutnya kecepatan individu dalam menangkap suatu informasi dan memprosesnya (kemampuan intelektual). Isi perut (viscera) mengalami perhentian pertumbuhan yang ditandai dari menurutnya fungsi limpa, hati, alat reproduksi, jantung, paru-paru, pankreas dan ginjal. Perubahan pada fungsi oragan ini kan berakibat pada banyak hal seperti memburuknya sistem pengaturan temperatur badan, kesulitan dalam bernafas, penurunan dalam jumlah waktu tidur, perubahan pencernaan, dan menurunnya ketahanan dan kemapuan dalam kerja.[47]
Perubahan pada fungsi inderawi usia lanjut juga sangat jelas dapat terlihat. Pada usia lanjut fungsi organ penginderaan yang meliputi penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, dan perabaan kurang mempunyai sensitifitas dan efesiansi kerja dibanding yang dimilki oleh orang yang lebih muda. Masa berhentinya reproduksi keturunan (menopouse) juga terjadi pada usia lanjut. Biasanya pada wanita ini akan terjadi lebih cepat dibanding pada pria. Selain itu keinginan untuk melakukan hubungan seksual juga dipengaruhi oleh budaya masyarakat.
2.3.3.2. Perubahan Mental Pada Usia Lanjut
Kondisi lain yang perlu diperhitungkan pada usia lanjut adalah terjadinya penurunan mental yang menyertai bertambahnya usia. Penurunan mental untuk setiap individu juga sangat berbeda. Tak ada usia yang dianggap sebagai awal mula terjadinya penurunan mental dan tidak ada pola khusus dalam penurunan mental yang berlaku untuk semua orang berusia lanjut.
Perubahan mental pada usia lanjut mempengaruhi beberapa hal antara lain proses belajar, berpikir dalam memberi argumentasi, kreativitas, ingatan, mengingat kembali, mengenang, rasa humor, perbendaharaan kata dan kekerasan mental.[48]
Orang berusia lanjut memerlukan waktu yang lebih banyak dalam belajar, yakni untuk mengintegrasikan jawaban mereka. Dalam berpikir secara umum terdapat penurunan kecepatan dalam mencapai kesimpulan untuk memberi argumentasi, baik dalam alasan induktif maupun deduktif. Dalam hal kreativitas, kapasitas atau keinginan yang berpikir kreatif cenderung kurang. Dalam hal ingatan, orang berusia lanjut pada umumnya cenderung lemah dalam mengingat hal-hal yang baru dipelajari dan sebaliknya, baik terhadap hal-hal yang telah lama dipelajari. Kecenderungan untuk mengenang sesuatu yang terjadi pada masa lalu juga meningkat semakin tajam sejalan dengan arah bertambahnya usia. Dalam hal humor, orang berusia lanjut kehilangan rasa dan keinginan terhadap hal-hal yang lucu. Disisi lain, menurunnya perbendaharaan kata yang dimiliki usia lanjut menurun sangat kecil karena mereka secara konstan menggunakan sebagian besar kata yang pernah dipelajari pada masa kanak-kanak dan remajanya. Kekerasan mental sangat tidak bersifat universal bagi usia lanjut. Apabila mental yang keras dimilki selama usia madya (30-50 thn), hal ini cenderung menjadi semakin tampak sejalan dengan bertambahnya usia.[49] Perubahan metal juga mempengaruhi minat pada usia lanjut. Penyesuaian pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh perubahan minat dan keinginan yang dilakukan. Apabila orang yang berusia tua ingin mengubah minat atau keinginannya karena alasan kesehatan, situasi keuangan atau alasan lainya akan memperoleh kepuasaan yang lebih baik dibanding mereka yang menghentikan kegiatan. Minat yang diangga sebagai tipe keinginan orang berusia lanjut pada umumnya, antara lain minat pribadi, minat untuk berekreasi, keinginan yang bersifat keagamaan dan keinginan untuk mati.[50]
Minat atau ketertarikan pribadi pada usia lanjut antara lain miliputi minat terhadap diri sendiri, minat terhadap penampilan, minat pada pakaian dan pada uang. Dalam hal berekreasi. Pria dan wanita berusia lanjut biasanya senang melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukan pada usia mudanya.
Sementara itu, orang berusia lanjut menjadi lebih tertarik pada kegiataan keagamaan karena pada usia ini menujuk hari kematianya sudah dekat. Walaupun tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda mendahului mereka. Hal ini lebih disebabkan banyak penurunan fisik yang mereka hadapi. Pada waktu kesehataannya memburuk, mereka cenderung untuk berkonsentrasi pada masalah kematian dan mulai dipengaruhi oleh perasaan seperti itu.
Masalah kematian ini akan memunculkan pertanyaan pada lanjut usia yakni: apakah saya dibenarkan bunuh diri?, dan bagaimana saya dapat mati dengan cara yang baik? Alasan bunuh diri biasanya muncul karena satu atau alasan lain hidupnya tidak dapat dipertahankan lagi. Cara yang baik untuk mati mungkin berbedaub untuk setiap orang. Orang berusia lanjut biasanya setuju bahwa kematian dapat dianggap baik, seperti yang ditunjukan oleh schulz yaitu kebutuhan tentang kontrol terhadap rasa saikt, kesempatan untuk berpartiosipasi dalam membuat keputusan dan mendapat kasih sayang serta perawatan[51].
2.3.3.3. Perubahan sosial
Secara umum banyak orang yang menggambarkan bahwa usia lanjut sebagai manusia dalam keadaan fisik dan mental yang lemah, usang, sering pikun, jalanya membungkuk dan sulit hidup dengan siapapun. Beberapa orang memandang lanjut usia sebagai masa dimana orang tersebut tidak bermanfaat lagi dan harus dijauhkan dari orang muda karena hanya akan menghambat mobilitas dan kinerja kaum muda. Hal ini menjadikan alasan beberapa orang menitipkan orang tua mereka yang sudah lanjut usia di panti jompo. Arti penting tentang sikap sosial terhadap lanjut usia yang tidak menyenangkan mempengaruhi cara mereka memperlakukan orang yang berusia lanjut.
Dalam bertambahnya usia, banyak lanjut usia yang mersa menderita karena jumlah kegiatan sosial yang dapat mereka lakukan menjadi terbatas dan berkurang. Pengunduran diri ini baik disebabkan menurunya sumber-sumber dalm diri yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kontak sosial dan menurunya partisipasi sosial.
2.4. Ketenangan Hidup
2.4.1. Pengertian Ketenangan Hidup
Menurut KBBI Tenang adalah tidak gelisah; tidak rusuh; tidak kacau; tidak ribut; aman dan tentram (perasaan hati).[52] Dari pengertian ini bisa dikatakan bahwa ketenangan hidup itu menyakut dengan perasaan jiwa seseorang. Dalam kalangan orang tua lanjut usia ketenangan hidup merupakan suatu hal yang perlu di soroti. Hal ini disebabkan orang tua sering sekali tidak lagi memilki ketenangan hidup. Dalam arti disini mereka sering cemas atau khatir akan sesuatu hal yang menyakut kehidupanya, baik keluarga, keuangan, dan juga dalam hal ketakutan menghadapi kematian. Karena di usia ini mereka mulai mengerti bahwa kematian itu adalah bahagian dari kehidupan.[53]
2.4.2. Ketenangan Hidup didalam Alkitab
Ketengan hidup adalah suatu sikap perasaan yang tidak gelisah atau kwatir. Di dalam alkitab kita banyak menemukan ayat yang mengharuskan kita untuk hidup tenang (Ams 14:30; Yes 7:4; 1 Tes 4:11; 1 Ptr 4:7 dsb).[54] Salah satu contoh ketidaktenangan didalam alkitab adalah Ayub, dimana ketika dia memiliki pergumulan dikatakan “Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman; aku tidak mendapat istirahat tetapi kegelisahan yang timbul” (ayub 3:26). Dari contoh ini jelas terlihat apabila seseorang itu tidak memiliki ketenangan maka yang timbul adalah kegelisahan atau perasan yang kacau.
Didalam alkitab memang tidak dikatakan sikap yang tidak tenang itu adalah bahagian dari dosa. Tetapi sebenarnya Allah mengingatkan kepada setiap manusia untuk selalu memiliki persaan yang tenang (tidak gelisah). Ini dikarenakan Allah selalu mencukupkan kebutuhan manusia (Mat 6:26).[55]
Dari hal ini kita ketahui bahwa apabila kita mempunyai, sikap hati yang tenang maka setiap persoalan-persolan hidup akan semakin mudah untuk terselesaikan. Demikian juga ketika kita semakin medekatkan diri kepada Tuhan maka jiwa kita juga akan semakin tenang (Mzm 62:2).
2.4.3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi ketidaktenangan hidup Lanjut Usia
Masa lanjut usia adalah masa dimana menurunya setiap kondisi tubuh. Dari hal inilah timbul ketidaktenangan dalam kehidupna. Dimana banyak orang tua yang sudah lanjut usia memiliki kegelisahan didalam hidupnya. Adapun kegelisahan yang menyebabkan ketidak tenangan dalam hidupnya adalah :
2.4.3.1. Kesepian
Kesepian merupakan istilah yang lebih khas sebagai salah satu bentuk isolasi sosial. Isolasi sosial itu sendiri dapat mengandung makna keterpisahan secara fisik dan lingkungan sosial, namun hal ini tidak serta-merta menimbulkan kesepian. Sebaliknya, kesepian merupakan bentuk perasaan terpisah dari lingkungan sosial sekalipun secara fisik individu yang bersangkutan tidak terisolasi. kesepian merupakan kondisi yang sering mengancam kehidupan para orang tua yang sudah lanjut usia. Dimana ketika anggota keluarga misalnya anak-anak hidup terpisah dari mereka. Kesepian tidak semata-mata muncul akibat kesendirian fisik atau akibat ketidakberadaan orang lain disekeliling hidup seseorang, tetapi juga akibat perasaan ditinggalkan, khusunya oleh mereka yang tadinya memilki hubungan emosional yang amat dekat.[56]
Orang tua yang lanjut usia adalah orang-orang yang selalu merasa kesepian didalam hidupnya. Dimana seakan-akan mereka tidak memiliki teman yang diakibatkan kesibiukan dari anggota keluarga. Tidak mengherankan pada saat sekarang ini yang hanya tinggal di rumah senderian adalah orang tua yang sudah lanjut usia, sementara anggota keluarga yang lainya sibuk untuk bekerja. Demikian juga ketika orang tua lanjut usia di tempatkan di penitipan yang mengakibatkan perasaan mereka hampa jauh dari keluarga, mesikpun dia memiliki teman yang seusia dengan mereka.
2.4.3.2. Ketakutan menghadapi kematian
Pada kalangan orang tua lanjut usia kesehatan yang menurun adalah hal yang sangat wajar. Tetapi sering sekali usia tua yang ditandai dengan kesehatan yang menurun menyebabkan adanya kegelisahan mereka yang pada ahkirnya menimbulkan ketakutan. Ketakutan yang berlebihan ini sering sekali bukan hanya berhenti pada masalah kesehatan melainkan juga mereka takut akan keuangan, kematian pasangan hidup dan juga ketakuan akan menhadapi kematian. Elisabeth Kubler Rose telah meneliti 5 tahap yang lazim dihadapi seseorang yang mendekati saat-saat terakhir.[57]
1. Penyangkalan
Kematian merupakan suatu kejutan, sering sekali orang sangat terkejut apabila dia dikatakan akan menghadapi kematian. Perasaanya sering berkata “ini tidak mungkin terjadi atas diri saya, ini pasti tidak benar dan sebagainya. Seringkali si penderita menyangkal bahwa penyakit yang sedikit di deritanya akan membahayakan dirinya, sehingga harus menemui ajalnya. Memang kematian dapat datang dengan tiba-tiba dan tidak terduga, namun si penderita menyangkal dengan menjauhkan pikiran tersebut.[58]
2. Amarah
Penderita tidak dapat lagi menyangkali fakta yang sesunghunya yang sedang ia hadapi, sehingga lambat laun mereka menyadari bahwa fakta terbutsudah ada di ambang pintu, dan ia berada pada detik-detik terakhir kehidupanya. Bersamaan dengan itu rasa mudah marah sering menginggapinya.
3. Tawar menawar
Apabila keinginan seorang anak kecil tidak terpenuhi, ia akan membanting-banting diri atau melakukan hal yang lain dengan maksud untuk membujuk orang lain agar memenuhi keinginanya. Seringkali penderitapun bertindak demikian dengan mengatakan suatu pernyataan kepada tuhan misalnya, “Tuhan tambahlah hidupku, maka aku akan melayani engkau dengan setia dalam sisa hidupku ini”.
4. Depresi
Ada dua jenis depresi:
- Depresi reaktif
Depresi ini timbul karena penderitaan yang sedang dideritanya, sehingga ia merasa kecewa, kehilangan hobi, tidakmau menghadri kebaktian, secara fisik merasa kurang menarik dibanding dengan waktu lalu.
- Depresi persiapan
Suatu depresi yang mendatangkan rasa sedih apabila ia teringat akan hari esoknya. Mungkin ia seseorang beriman yang melihat pada hidup yang jauh lebih baik setelah kematian. Akan tetapi ia gelisah apabila ia mengingat orang-orang yang ia kasihi yang harus ia tinggalkan dan mungkin mereka akan menghadapi banyak kesukaran apabila ia meninggal.
5. Menerima
Jikalau ia cukup lama menderita, ia akan mencapai suatu titik yang penuh penyerahaan. Penderita yang demikian mungkin kurang suka bercakap-cakap, tetapi mereka terhibur apabila mengetahui bahwa ia tidak dilupakan, walapun akhir hidupnya segera tiba.
2.4.3.3. Kecemasan
Setiap manusia pasti memiliki perasaan cemas atau tegang, jika menghadapi situasi yang mengancam atau stres. Perasaan tersebutadalah reaksi normal terhadap stres. Kecemasan dianggap abanormal hanya jika terjadi dalam situasi yang sebagaina besar orang dapat menanganinya tanpa kesulitan berarti. Ganguan kecemasan adalah sekelompok ganguan dimana kecemasan merupakan gejala utama (ganguan kecemasan umum dan ganguan panik) atau dialamiu jika seseorang berupaya mengendalikan perilaku maladaptif tertentu (ganguan fobik dan ganguan obseif-kompulusif).[59] Sikap kecemasan inilah yang muncul dari kalangan orang tua lanjut usia.
Dimana orang tua lanjut usia sering cemas akan kehidupanya, baik keluarganya, keuanganya dan juga kesiapanya dalam menghadapi kematian. Dimana perasaan cemas ini sering muncul apabila ketika mereka jatuh sakit dan masuk kerumah sakit. Dari hal ini persaan cemas itu akan semakin kuat dalam hidup mereka. Dari hal inilah pelayanan pastoral memberikan bantuan kepada mereka untuk memberikan penguatan.
2.5. Penyerahan Diri
2.5.1. Penyerahan Diri dalam Alkitab
Hidup pada lanjut terdiri dari kesenangan dan juga kesengsaraan. Dalam hal kesengsaraan pemazmur mengatakan “kasihanilah aku, ya Tuhan sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku. Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sesengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah. Dihadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kejutan bagi kenalan-kenalanKu; mereka yang melihat aku dijalan lari daripada aku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati; telah menjadi seperti barang yang pecah (Mazmur 31:10-13). Dari hal ini nampak jelas bahwa kondisi dari orang tua lanjut usia adalah orang yang lemah baik fisik maupun psikis.[60] Maka dari pada itulah dibutuhkan penyerahan diri kepada Tuhan.
Didalam Alkitab kita melihat banyak yang sudah berusia lanjut tetapi dia tetap mau menyerahkan hidupnya untuk Tuhan. Seperti abraham yang sudah Tua tetapi dia mau melayani untuk Tuhan. Ini menujukan bahwa dia meyerahkan hidupnya untuk Tuhan.
2.5.2. Faktor-Faktor Yang meningkatkan penyerahan diri terhadap Orang Tua Lanjut Usia
Orang tua lanjut usia adalah orang-orang yang memiliki banyak pergumulan kehidupan. Secara khusus kesepian, kecemasan dan ketakutan terhadap kematian adalah salah satu faktor permasalahan hidup mereka. Didalam kalangan orang tua lanjut usia yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan itu adalah bagaimana sikap dari orang tua lanjut usia itu sendiri. Dimana bagaimana mereka meyerahkan hidupnya secara totalitas kepada Tuhan. Karena hanya dengan meyerahkan hidup sepenuhnya kepada tuhan maka hidup semakin bermakna. Ada beberapa faktor yang akan menikatkan penyerahan diri kepada Tuhan yaitu:
2.5.3.1. Percaya
Percaya adalah salah satu sikap seseorang dalam peyerahan diri yang harus dilakukan. Karena bagaimana mungkin dikatakan seseorang itu menyerahkan diri kepada Allah apabila dia belum percaya kepada Allah. Dalam amsal 3:5,6 mengatakan percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, maka iya akan meluruskan jalanmu. Kepercayaan atau iman adalah sangat penting dalam kehidupan ini karena tapa itu kita tidak bisa mendapat tutunan.[61] Dalam kaitan ini orangtua lanjut usia sering memiliki perasaan gelisah yang mengakibatkan ketidaktenangan dalam hidupnya. Dari hal ini orang tua lanjut usia dituntut supaya percaya sepenuhnya kepada firman Allah, karena Ia akan selalu menolong orang yang membutuhkanNya (bnd Yes 41:10; Maz 118:16; 1 Ptr 5:17).[62]
2.5.3.3. Berdoa
Doa merupakan unsur utama dalam hubungan dengan Tuhan. Orang tua lanjut usia yang telah mengalami berbagai hubungan yang meyenangkan dalam hidupnya memerlukan sedikit bantuan untuk bertumbuh kedalam hubungan yang paling menajubkan itu.[63] Bagi banyak orang, pertumbuhan wajar tersebut dilakukan dengan menikmati percakapan dengan teman yang dikasihi dan dipercaya. Demikian juga dengan orang tua lanjut usia, supaya dapat bertumbuh dan semakin dekat kepada Tuhan mereka perlu membina hubungan yang baik dengan Tuhan, layaknya seperti seorang teman yang setiap saat ada didekat mereka sehingga mereka dengan bebas mengukapkan apa yang ada dari lubuk hati mereka.[64] Dalam penyerhan diri ini orang tua lanjut usia selalu ditekankan untuk mengucap syukur setiap waktu.
2.5.3.3 Saat Teduh
Saat teduh adalah salah satu sarana bagaimana kita mendengarkan apa yang Tuhan inginkan kepada kita untuk dilakukan. Pada kalangan orang tua lanjut usia saat teduh merupakan salah satu faktor dalam menikatkan penyerahaan diri. Dimana pada saat pagi hari orang tua lanjut usia bersyukur atas setiap kehidupan yang Tuhan berikan kepadanya. Dari hal ini bisa dikatakan fokus utama dari saat teduh itu adalah bagaimana kita bisa merenungkan semua perbuatan Allah yang telah ia berikan kepada kita.
2.5.3.4. Bernyanyi
Bernyanyi adalah salah satu cara dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Dimana didalam bernyanyi ini, kedekatan dan kehalusaan perasaan kita kepada Tuhan semakin nyata. Ini dikarenakan bernyanyi itu adalah mengeluarkan perasaan kita tentang Tuhan dan serempak memasukan kembali perasaan-perasaan itu kedalam jiwa kita.[65]
Demikian juga terhadap orangtua lanjut usia. Di tengah-tengah banyaknya permasalahan kehidupan mereka, bernyanyi adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
2.6 Kerangka Konseptual
Bertambahnya usia menjadikan mental dan fisik seseorang akan berkurang. Aktivitas kehidupan juga berkurang yang mengakibatkan makin bertambahnya ketidakmampuan tubuh dalam berbagai hal, akibat proses menua juga menyebabkan fungsi organ-organ dan sel-sel tubuh yang menurun. Hal inilah yang sering menjadi lebel bagi orang tua lanjut usia. Tidak mengherankan dengan banyaknya ganguan kesehataan di usia tua bahkan ke pikunan banyak orang yang semakin takut menghadapi masa tua dari pada menghadapi kematian. Selain itu di usia tua sering di artikan dengan orang-orang yang tidak memiliki kegunaan sehingga sering sekali orang tua yang sudah lanjut usia di tempatkan di penitipan (panti wreda) atau di tinggal dirumah bersama cucu atau perawat. Hal ini mengakibatkan kesepian yang mendalam bagi orang tua lanjut usia yang kurang produktif.
Salah satu tempat penitipan orang tua lanjut usia adalah PPOS GBKP. Dimana orang tua lanjut usia yang ditempatkan disana adalah orang-orang yang tidak produktif lagi dalam arti sudah memiliki banyak ganguan kesehatan. Kebanyakan keluarga menempatkan orangtuanya disana dikarenakan kesibukan yang mengakibatkan tidak ada yang mengurus. Dari hal ini orang tua lanjut usia sering sekali kecewa di tempatkan disana secara khusus karena faktor budaya yang belum bisa menerima tempat seperti ini. Dimana orang tua lebih senang tinggal dirumah bersama anak dan cucunya. Kekecewaan mereka bertamabah menjadi kesepian dan kecemasaan yang mereka dapatkan di PPOS sehingga menyebabkan ketidak tenangan hidup dalam dirinya. Ditambah lagi dengan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi dan kebanyakan dari mereka merasa terkurung dalam suatu tempat, dan juga keluarga yang jarang sekali untuk menjenguk mereka.
Dari hal inilah pelayanan pastoral berfungsi untuk mengatasi ketidaktenangan hidup ini dengan menikatkan penyerhaan diri bagi kalangan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS. Penyerahaan diri itu meliputi bagaimana orang tua lanjut usia untuk percaya kepada Tuhan, berdoa, bersaat teduh, bernyanyi (Mazmur 62:6). Hal ini dikarenakan orang tua lanjut usia yang di tempatkan disana dengan latar belakang yang berbeda-beda misalnya ada yang dulunya tidak perbah ke gereja dan mengikuti kegiatan yang lain. Supaya dihari tuaamereka semakin menyadari bahawa usia tua itu adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh setiap ciptaan Tuhan dan merupakan rencana Allah dalam hidup manusia (Mzm 92:15-16).
2.7. Pengajuan Hipotesa
Kata “hipotesis” terdiri dari kata “hipo” dan kata “tesis”. Hipo berarti “sebelum”, sedangkan tesis berarti teori yang kokoh yang masih membuktikan pengujian untuk pengukuhan dan sering disebut dengan teori dugaan.[66] Dengan demikian kata hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementar yang dianggap secara kemungkinan menjadi jawaban yang benar. Karena, hipotesis masih perlu di uji kebenaranya karena masih bersifat dugaan.
Berdasarkan hal diatas maka penulis membuat hipotesa yaitu, Jika pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia dilaksanakan maka akan meningkatkan tingkat peyerahan diri dan ketenangan hidup mereka di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) GBKP taman jubelium Sukamakmur
BAB III
METODE PENILITIAN DAN GAMBARAN UMUM PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Dalam mengadakan penelitian lapangan (Field Research), maka penulis harus mengambil suatu tempat penelitian. Dimana sesuai dengan judul penulis yaitu pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia, maka penulis mengambil tempat penelitian di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra GBKP. Dimana tempat ini merupakan suatu tempat penitipan orang tua yang sudah lanjut usia secara khusus kepada warga jemaat GBKP. Adapun PPOS berada di Jalan Jamin Ginting Komples Taman Jubelium GBKP Sukamakmur Kab Deli Serdang Sumatra Utara.
Di taman Jublium GBKP ada beberapa yayasan yang berdiri yaitu panti asuhan (PAK) gelora kasih (mengasuh anak-anak yatim piatu), bank perkreditan rakyat (BPR) yang memberi pinjaman kepada orang yang kurang mampu, Yayasan ate keleng (PARPEM), Retert center (RC) yang digunakan untuk tempat retereat bagi pengujung dan Yayasan pelayanan orang tua sejahtra (YAPOS) yang berfungsi tempat penitipan orang tua yang sudah lanjut usia dan inilah yang menjadi tempat penilitian penulis. Untuk memperjelas bagaimana gambaran umum YAPOS/PPOS maka dalam bahagian selanjutnya akan di jelaskan secara terperinci.
.
3.1.1 Sejarah berdirinya Pusat Pelayanan Orang tua Sejahtra (PPOS) GBKP
Gereja GBKP yang semakin lama terus bergerak kearah yang lebih maju. Hal ini tidak terlepas dari peran serta penginjil yang memberitakanya ke tanah karo. Dimana pada awalnya injil pertama diberitakan oleh Pdt. HC Kruyt di desa Buluhawar. Demikian seterusnya injli itu terus diberitakan oleh zending (NZG) ketanah karo. Pengijilan yang mereka lakukan bukan hanya sebatas kata-kata saja, tetapi pengijil (NZG) juga melakukan pelayanan dalam wujud nyata. Sebagai contoh membangun rumah sakit, rumah sekolah, saranana pendidikan dsb.
Hal inilah yang terus dikembangkan warga gereja GBKP dengan membangun beberapa yayasan yang berguna bagi pelayanan gereja yang salah satunya adalah YAPOS. Latar belakang terbentuknya yayasan pelayanan orang tua sejatra ini tidak terlepas dari kegiatana perayaan jubelium 100 tahun GBKP. Dimana pada Tahun 1987 dibentuklah sebuah panita untuk mempersiapkan perayaan besar yaitu “jubelium 100 tahun GBKP”. Acara ini adalah suatu perayaan untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas perjalanan injil di tanah karo yang sudah 100 tahun dan sekaligus tempat untuk mengevalwasi terhadap apa yang sudah dibuat dan membicarakan bagaimana GBKP kedepan.[67]
Dalam hal ini ada sebuah gagasan kepada panitia jubelium 100 tahun GBKP, dari Nora Pdt.Y.P.Sibero seorang pengurus moria (kaum ibu) pusat, untuk membuat sebuah pelayanan untuk orang tua lanjut usia. Pada awalnya sebahagian anggota jemaat tidak setuju dengan pelayanan semacam panti jompo. Menurut mereka tanggung jawab perawatan orang tua lanjut usia baik secara agama Kristen maupun adat karo, adalah tanggung jawab anak. Dikwatirkan bahwa adanya rumah pelayanan orang tua lanjut usia oleh gereja, tanggung jawab ini akan bergeser dan ini bertentangan dengan keyakinan beragama dan tututan adat.[68]
Dengan berbagai proses yang panjang akhirnya gagasan itupun diterima dan hal ini diserahkan kepada Ny. Rasmita Br Perangin-angin yang menjabat sebagai bidang bakti sosial untuk menindaklajuti hal ini. Pada waktu itu pelayanan yang sudah ada adalah Kebaktian anak dan remaja (KA-KR), Pemuda (Permata), Kaum Ibu (Moria), Demikian juga yayasan yang sudah berdiri adalah yayasan Panti asuhan Kristen (YPAK) Gelora Kasih, Yayasan Kristen penyandang cacat (YKPC) Alfa Omega, tetapi pelayanan untuk orang tua lanjut usia belum ada.
Untuk itu moderamen GBKP dan panitia bakti soasial memfokuskan untuk mendirikan sebuah yayasan untuk orang tua lanjut usia. Dimana pelayanan ini dianggap perlu, karena orang tua lanjut usia adalah orang-orang kondisi fisiknya sudah menurun. Maka dari pada itu gereja merasa perlu untuk memperhatikan orang yang demikian suapaya dimasa tuanya dia selalu merasa mendapat berkat dari Tuhan. Disamping itu pendirian yayasan ini juga dikarenakan seiring dengan perkembangan zaman dimana banyak warga jemaat yang mulai kewalahan dan merasa kasihan melihat orang tua yang lanjut usia tinggal sendiri dirumah ditambah lagi orang tua ini tidak sanggup lagi untuk bekerja
Dalam mendirikan pusat pelayanan ini maka panitia mengambil tempat di kompleks taman jubelium GBKP sukamakmur, disamping Panti asuhan Gelora Kasih. Untuk mendirikan sebuat bangunan maka diperlukannya suatu dana. Maka dari pada itu diadakan beberapa pertemuan dan kegiatan untuk mendiskusikan pembangunan yayasan ini sekaligus pengalangan dana yaitu:[69]
Dalam diskusi dan ramah tamah pengumpulan dana pembangunan rumah pelayanan orang tua sejahtra.
Pada tanggal 8 Mei 1988, di rumah keluarga Ir. D. Bangun di Medan diadakan pertemuan yang membicarakan mengenai pembangunan yayasan orang tua lanjut usia. Dalam pertemuan ini dihadiri oleh 50 orang tokoh-tokoh masyarakat karo dan para pendeta serta panitia jubelium 100 tahun GBKP. Dalam diskusi ini dikemukakan masalah-masalah tentang penjelasan sepintas tentang keadaan orang tua lanjut usia di daerah pedesaanoleh proyek Pengembangan Wanita Pedesaan (PPWP) Yasasan Pijer podi (YAPIDI) Berastagi. Yayasan ini suatu LSM yang melayani kelompok wanita di pedesaan, terutama di kab Karo dan Dairi. Dari uraian dan tanya jawab dapat disimpulkan bahwa orang tua lanjut usia di pedesaan terutama wanita, tetap di manfaatkan tenaganya sampai tidak mampu yakni menjaga cucu dan pekerjaan rumah
Dalam hal ini apabila keadaan fisik mereka semakin lemah biasanya mereka di tinggal. Perawatan kepada mereka sangatlah kurang, sepanjang hari menderita kesunyiaan. Bukan karena anak-anak mereka tidak menaruh perhatian akan tetapi dikarenakan anak-anaknya sibuk bekerja untuk kebutuhan hidup. Selain itu orang tua lanjut usia juga tidak mampu lagi turut dalam kegiatan gerejani seperti kebaktian minggu, perpulungen jabu-jabu, kumpulan moria dsb. Pelayanan rohani yang sangat mereka butuhkan untuk menguatkan dan menghibur mereka hampir-hampir tidak ada. Melihat hal ini PPWT menyatakan sudah waktunya perlu dipikirkan bentuk bentuk pelayanan kepada orang tua lanjut usia, yang dapat mensejahterakan mereka baik dari segi rohani mapun jasmani. Akhirnya dalam pertemuan diskusi itu usulan dari PPWT sangat perlu untuk ditindak lanjuti, maka pada waktu itu diadakan pengalangan dana secara sepontan sehingga terkumpulah uang sejumlah 3.221.600.
Pertemuan pelayanan kesehatan dan diskusi dengan orang tua lanjut usia.
Salah satu kegiatan seksi bakti sosial bekerja sama dengan seksi kesehatan panitia jubelium 100 tahun GBKP adalah merupakan pertemuan ramah tamah dan pengobatan untuk orang tua lanjut usia pertemuan dilaksanakan di dua tempat yakni:
Kabanjahe, untuk klasis di dataran tinggi Karo ( Kabanjahe, Sinabung, Tigabinanga, Tiga lingga) yang di adakan di gedung PPWG GBKP pada tanggal 31 Mei 1988 dan di hadiri 709 orang tua.
Medan, untuk klasis dataran rendah ( Sibolangit, Medan Delitua, Medan Kampung lalang, Lubuk Pakam, Siantar dan Binjai) yang di adakan di asrama Maranata pada tanggal 24 Juli 1988 dan dihadiri oleh 382 orang tua.
Dari diskusi dengan orang tua lanjut usia itu keluhan kesehatan dan persaan kesunyiaan merupakan masalah utama mereka.
Hasil-hasil diskusi tersebut disampaikan oleh seksi bakti sosial ke rapat panitia 100 tahun jubelium GBKP. Panitia berpendapat bahwa pelayanan kepada orang tua lanjut usia adalah suatu pelayanan yang sangat dibutuhkan sekarang dan masa depan. Namum perlu diperhatikan bahwa pelayanan orang tua sejahtra haruslah tidak sama dengan pelayanan di panti jompo. Artinya pelayanan orang tua sejahtra yang direncanakan bukan pengganti tanggung jawab anak terhadap pelayanan orang tuanya. Disini anak harus turut memberi peranan pelayanan kasih kepada orang tua mereka.
Perlu diketahui juga bahwa pada setiap pertemuan ini disebarkan angket untuk mengetahui pendapat orang tua lanjut usia tentang pentingnya pelayanan bagi mereka. Kesimpulan yang didapat dari angket yang terkumpul adalah orangtua lanjut usia merasa perlu mendapatkan pelayanan. Setelah terkumpul beberapa dana yang pada saat itu sudah ada 35 juta rupiah, maka pada tahun 1989 dimulailah pembangunan. Akan tetapi yang dibangun hanya sebahagian kecil saja yaitu meliputi gedung dan 18 kamar semi permanen.
Selanjutnya pada perayaan jubelium 100 tahun GBKP yang diadakan tanggal 18 april 1990, maka diambilah sebuah keputusan mendirikan sebuah tempat pelayanan orang tua lanjut usia yang diberi nama Yayasan Pelayanan Orang Tua Sejahtra (YAPOS) GBKP.[70] Dalam perkembangan selanjutnya YAPOS mendirikan Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) sebagai sarana pelayanan terhadap orang tua lanjut usia. Pendirian YAPOS ternyata mendapat sambutan yang baik dari masyarakat demikian juga mitra dari luar negeri. Ini terlihat ketika diadakan pengumpulan dana untuk pembangunan YAPOS yang diadakan pada tanggal 14 Juni 1992 mitra gereja di Belanda yaitu Yayasan Groot Huppes memberikan bantuan dana yang cukup besar untuk pembangunan. Selain itu masyarakat luas juga pemerintah ikut terlibat dalam memberikan bantuan dana untuk pembangunan kamar-kamar di YAPOS. Akhirnya pada tanggal 23 maret 1993 YAPOS/PPOS resmi diresmikan oleh Moderamen GBKP. [71] Dengan tujuan agar orangtua yang lanjut usia menyadari bahwa hidup mereka tergantung kepada Allah dan mereka diharapkan mengenal Allah. Sehingga dengan adanya PPOS di usianya yang tua mereka tidak merasa tersisihkan tetapi merasa mendapatkan berkat dari Tuhan
3.1.2 Latar belakang masuknya orang tual lanjut usia ke PPOS GBKP
Setiap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga alasan mereka juga di tempatkan di PPOS GBKP juga sangat berbeda-beda juga. Disamping itu untuk masuk dan tingal di PPOS memiliki syarat-syrat tertentu, jadi bukan mudah saja bisa tinggal disana. Adapun syarat-syarat itu adalah:
Wanita/Pria berusia 60 tahun ke atas.
Mempunyai penanggung jawab sebanyak dua orang.
Tidak mengidap penyakit menular (TBC atau paru-paru) dilengkapi dengan hasil ronsen.
Berobat di klinik PPOS dalam status obname dikenakan biaya dan berobat di luar klinik PPOS ditanggung sepenuhnya oleh penangung jawab.
Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dapat bekerja sama dengan penghuni lainnya, tidak boleh berpergian sesama penghuni tanpa seizin pinpinan PPOS , tidak boleh membawa benda tajam dan perhiasan.
Masa percobaan satu sampai tiga bulan. Dalam arti apabila dalam percobaan, baik yang bersakutan ataupun pihak PPOS ternyata tidak ada penyesuaian setelah diusahakan berkali-kali maka penanggung jawab bersedia mengambil kembali penghuni tersebut.
Membayar biaya Asrama sesuai dengan ketentuan.
Penangung jawab bersedia memelihara hubungan yang seerat-eratnya dengan penghuni yang dititipkan.
Apabila penghuni yang dititipkan meninggal dunia maka penangung jawab bersedia: mengurus jenajah beserta admistrasi penghuni tersebut.
mengisi formulir pendaftaran, pasphoto 3 lembar, photocopy ktp penanggung jawab serta alamat yang jelas beserta no telphone atau handphone.
Ketika semua persayaratan itu telah dipenuhi maka orang tua lanjut usia bisa tinggal di PPOS GBKP dengan menaati semua peraturan yang telah ditetapkan. Melihat persayaratan diatas memang tidak sulit untuk menitipkan orang tua lanjut usia disana. Tetapi pada kenyataanya masih banyak masyarakat yang masih enggan untuk menitipkan orang tua lanjut usia disana. Ini dikarenakan pemikiran masyarakat apabila orangtuanya ditiutipkan disana anak merasa tidak bertangun jawab untuk mengurus orang tuanya. Dari hal ini ada beberapa faktor orang tua lanjut usia yang dititipkan disana yaitu:
1. Kebersediaan orang tua lanjut usia itu sendiri
Dalam hal ada beberapa orang tua lanjut usia yang secara keinginanya untuk tinggal di PPOS. Ini dikarenakan dia merasa bahwa berkumpul dengan seusianya adalah hal yang paling menyenangkan. Dimana hal ini terjadi mungkin diakibatkan oleh kematian salah satu pasangan hidup dan juga alasan yang lainya.[72] Dari hal ini apabila orang tua lanjut usia itu tinggal di PPOS oleh karena keinginanya sendiri maka biasanya lansia yang demikian cenderung bersikap tenang dan mudah untuk di atur dari pada yang lain.
2. Ke inginan keluarga
Keluarga adalah salah satu sarana tempat bertemunya antara anak, orangtua dan juga cucu bagi kalangan orang tua lanjut usia. Dimana di usianya yang sudah tua berkumpul bersama keluarga adalah suatu kebahagian tersendiri bagi mereka. Tetapi hal itu semuanya itu hilang ketika keluarga mereka sepakat untuk menitipkan orang tua mereka di PPOS. Hal inilah yang kebanyakaan terjadi di PPOS. Banyak orang tua lanjut usia yang tinggal disana adalah karena keinginan keluarganya. Hal ini terjadi karena kesibukan setiap anggota keluarga yang tidak bisa mengurus orang tuanya Dimana pada kondisi ini biasanya situasi orang tua lanjut usia adalah pada keadaan yang sudah sakit “pikun”. Akan tetapi ada juga yang sudah sakit-sakitan tetapi belum termaksuk kategori pikun. Dari hal ini juga kebanyakaan orang ta lanjut usia yang tidak bersedia ditempatkan di sana yang mengakibatkan kehidupan mereka selama disana menghadapi ketidaktenangan hidup.[73]
3. Sudah tua tidak ada yang merawat
Dalam hal ini adalah orang tua lanjut usia yang selama hidupnya tidak menikah. Dalam hal ini ada yang karena keinginanya sendiri dan juga ada yang dibawa keluarga untuk dititipkan di PPOS. Sebagai contoh kakek Sempat Ginting di usianya yang sudah 78 tahun dia belum pernah menikah, saudaranya tinggal di Pekan Baru. Melihat kondisi fisikinya dia sudah memakai tongkat, tidak bisa melihat dan susah berbicara.
Inilah gambaran secara umum latar belakang orang tua lanjut usia tinggal di PPOS GBKP. Secara umum respon dari orang tua lanjut usia yang tinggl di PPOS mereka merasa tidak diperdulikan lagi oeleh keluarganya. Seringkali mereka mengatakan “mate saja min aku nggo bosan aku jenda” artinya mereka ingin mati saja dari pada tinggal disini. Hal ini mungkin diakibatkan kesepian yang mereka alami yang akan mempengaruhi kehidupanya.[74]
3.1.3 Kegiatan Yang Dilaksanakan Di PPOS GBKP
PPOS GBKP yang merupakan sarana pelayanan bagi orang tua lanjut usia memiliki banyak kegiatan. Dimana kegiatan-kegiatan itu berdasarkan dari tujuan yang ditetapkan dari PPOS itu sendiri. Adapun tujuan didirikanya PPOS ini adalah:
Pusat kordinasi pelayanan orang tua lanjut usia GBKP
Memberi tempat tinggal yang layak bagi para orang tua lanjut usia di hari tuanya.
Melayani kebutuhan hidup orang tua lanjut usia sehari-hari, baik jasmani (kesehatanya yang semakin menurun) dan rohani (kehidupan rohaninya di masa tuanya).
Dari tujuan diatas maka dibuatlah sebuah kegiatan-kegiatan yang mencakup pelayanan terhadap orang tua lanjut usia. Secara umum kegiatan-kegiatan orang tua lajut usia itu dibagi menjadi dua bahagian yaitu kegiatan kedalam dan kegiatan keluar. Adapun kegiatan kedalam yaitu :
Melaksanakan rapat pengurus PPOS
Melaksanakan PA bagi orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS dan juga bergabung dengan orang tua lanjut usia di sekitar Sukamakmur yang bukan tinggal di PPOS GBKP (ini dilaksanakan disesuaikan dengan waktu yang tepat).
Mengadakan Kebaktian Minggu setia jam 15.OO WIB yang dibawakan oleh pendeta-pendeta GBKP yang telah disusun jadwalnya selama setahun.
Melaksanakan kegiatan natal bersama pegawai dan orang tua lanjut usia yang tingal di PPOS
Sedangkan kegiatan keluar adalah:
Menerbitkan buku PA lansis GBKP
Mengadakan Retetert yang dilaksanakan setahun 1 kali bagi orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
Memperkenalkan PPOS kepada seluruh jemaat GBKP dengan membuat berita di Maranata GBKP.
Dari hal diatas adadalah merupakan kegitan-kegiatan PPOS sebagai perpanjangan tangan gereja untuk pelayanan orang tua lanjut usia bukan hanya kepada lansia yang tingal di PPOS tetapi juga bagi orang tua lanjut usai yang tiadk tinggal di sana. Selain itu kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh perwat dan pegawai PPOS terhadap orang tua lanjut usia yag tinggal disana adalah:
1. Kegiatan yang bersifat umum ialah setiap pagi mereka memandikan orang tua lanjut usia. Mencuci pakainya dan selimut yang kotor setiap hari. Setelah itu menyapu, mengepel,membersihkan kamar. Selain itu pegawai juga mengadakan jaga malam dan selalu melihat keadaan orang tua lanjut usia manakala ada lansia yang membutuhkan pertolongan.
2. Kegiatan pelayanan makanan, makan pagi (70.00 WIB), makan siang (12.00 WIB) snack (15.00 WIB), Makan malam (18.00)
3. Kegiatan pelayanan kesehatan dilakukan dokter 2 minggu sekali dan setiap hari ada perawat yang melayani kesehatan lansia bagi yang membutuhkan.
4. Kegiatan yang bersifat kerohanian yaitu melaksanakan ibadah pagi (06.30-07.00 WIB). Dimana yang membawakan ibadah ini adalah para pewagawai dan pimpinan secara bergantian. Selain dari pada itu pukul 15.00 sewaktu snack pegawai dan orangtua lanjut usia diajak untuk bernyanyi bersama lagu rohani supaya mereka tidak merasa kesepian.
Inilah kegiatan secara rutinitas yang dilakukan sehari-hari di PPOS GBKP. Dari kegiatan-kegiatan diatas bisa dilihat bahwa kegiatan untuk orang tua yang tinggal di PPOS sangat sedikit, yaitu pada waktu pagi ibadah pagi dan sore hari yaitu bernyanyi. Hal ini tentu saja menyebabkan tingkat kejenuhan dan mengakibatkan kesepian yang mendalam dari kalangan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS karena tidak adanya kegiatan. Jadi yang mereka lakukan adalah berdiam diri di kamar masing-masing dan bercakap-cakap dengan sesamanya penghuni.[75]
3.2. Waktu Penelititan
Dalam melaksanakan pelayanan pastoral membutuhkan suatu proses yang panjang. Adapun penilitan yang diadakan ini dipertukan kepada orang tua lanjut usia yang ada di PPOS GBKP. Untuk itu penulis mengadakan waktu penilitian dimulai dari pertengahan juli 2008 sampai pertengahan september 2008 dan selama penelitian berlansung penulis tinggal bersama-sama dengan mereka. Hal ini dilakukan supaya penulis dalam melaksanakan penilitian bisa memahami dan mengerti sejauh mana ketidak tenangan hidup mereka dan bagaimana mereka mengatasi hal tersebut. Dan juga penulis ikut bergabung dengan kegiatan mereka sehari-hari supaya mereka bisa merasakan bahwa penulis juga ikut merasakan apa yang mereka alami.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Dalam melaksanakan penilitan lapangan maka dibutuhkanlah sebuah perencanaan yang baik. Salah satu perencanaan itu adalalah menetukan populasinya. Populasi adalah kelompok dimana seorang peneliti akan memperoleh hasil penelitian yang dapat disamaratakan (digenerelasikan).[76] Dengan kata lain populasi adalah keseluruhan objek yang dapat dijadikan sumber data atau objek penilitan. Adapun populasi dari penelitian ini adalah semua orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS GBKP. Orang tua yang tinggal di PPOS berjumlah 22 orang, dimana 4 orang laki-laki dan 18 orang perempuaan.
3.3.2 Sample
Sample merupakan bagian dari populasi dimana sample adalah proses pemilihan sejumlah individu (objek penelitian) untuk suatu penelitian sedemikian rupa, sehingga individu-individu (obyek penelitian) tersebut merupakan perwakilan kelompok yang lebih besar pada mana obyek itu dipilih. Tujuan sample adalah menggunakan sebahagian obyek penelitian yang diselidiki tersebut untuk memperoleh informasi tentang populasi.[77]Sampel itu juga sering disebut sebagai wakil atau yang mewakili populasi yang selanjutnya dijadikan responden penelitian. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah 8 orang atau dari jumlah penghuni PPOS yaitu 22 orang. Penulis mengambil sample hanya 8 orang dikarenakan oleh orang tua lanjut usia yang lain kondisi fisik dan mentalnya sangat menurun jadi tidak efektif dalam melaksanakan percakapan pastoral.
3.4 Data klien
Table. 1. Data klien
No
Nama Klien
Jenis kelamin
Usia
Alamat
Tanggal Masuk
Di PPOS
1
Bu Rosi
P
73
Kabanjahe
20-01-2008
2
Bu dewi
P
87
Medan
8-03-2008
3
Bu Rida
P
70
Peceren
23-04-2008
4
Bu Lamegogo
P
78
Kabanjahe
20-01-2008
5
Pak Sadarta
L
80
Patumbak
18-12-2006
6
Pak Bayu
L
81
Rumah Pil-Pil
16-08-2006
7
Bu Vira
P
58
Medan
21-11-2004
8
Bu Lita
P
80
Silakar
12-01-2007
3.5 Alat pengumpul data
3.5.1 Observasi lapangan
Observasi lapangan merupakan penelitian secara langusung yang dilakukan peneliti kelapangan penelitian. Observasi lapangan ini digunakan untuk melihat atau meneliti secara langsung apa yang responden lakukan dalam kehidupan sehari-hari sebelum dan sesudah pelayan pastoral dilaksnakan. Untuk itu peneliti ikut bergabung dalam setiap kegiatan dan kehidupan mereka sehari-hari selama penelitian berlangsung.
3.5.2 Percakapan pastoral
Percakapan pastoral dilaksanakan adalah untuk mengetahui sejauhmana peran percakapan pastoral ini dapat membantu orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS untuk mengatasi masalahnya. Dan dari hal ini juga bisa diketahui tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS GBKP Sukamakmur. Adapun jumlah pertemuan dan materi percakapanya adalah :
Table 2 Materi pertemuan
No
Pertemuan
Materi pertemuan
1
I
Membicarakan tentang latar belakang dan alasanya masuk ke PPOS. Disamping itu peneliti membacakan alat ukur mengenai ketenangan hidup dan penyerhan diri untuk di isi.
2
II-III
Membicarakan tentang kegelisahan mereka selama tinggal di PPOS.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui apa-apa saja yang mempengaruhi ketidaktenangan hidup pada orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
3
IV
Membicarakan tentang hal-hal yang mempengaruhi menikatkan tingkat penyerahaan diri. Dari hal ini orang tua lanjut usia bisa memahami bahwa di usianya yang sudah tua harus benar-benar bisa menyerahkan dirinya kepada Tuhan karena lanjut usia adalah berkat yang datangnya dari tuhan
4
V
Membicarakan tentang bagaimana keadaan keluarganya apakah sering dikunjungi .
5
VI
Mengisi alat ukur mengenai ketenangan hidup dan penyerhan diri setelah pelayanan pastoral dilaksanakan
3.5.3 Alat Ukur
Dalam melaksanakan penelitian ini maka penulis mengambil sebuah alat ukur untuk mengetahui bagaimana tingkat penyerahan diri dan ketenangan hidup di PPOS GBKP. Adapun alat ukur itu adalah sekumpulan pernyataan yang akan disampaikan dan di jawab langsung oleh klien.[78] Dalam hal ini klien yang menjadi penelitian adalah kalangan orang tua lanjut usia yang sudah mengalami kemunduran fisik sehingga dia tidak sanggup lagi untuk membaca dan menulis. Maka dari pada itu alat ukur ini di bacakan oleh peneliti ikut membantu membacakan isi kumpulan gejala atau pernyataan itu dan menuliskanya jawaban pada kolom yang tersedia sesuai dengan jawaban yang mereka berikan secara lisan.
3.5.1 Alat ukur Penyerahan diri
Berbicara tentang penyerahan diri dalam kalangan orang tua lanjut usia adalah mengenai permasalahan kehidupan rohani. Dalam hal ini alat ukur yang digunakan adalah sekumpulan pernyataanuntuk mengetahui sejauh mana tingkat penyerahan diri pada kalangan orang tua lanjut usia. Alat ukur ini nantinya akan digunakan dua kali dimana sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan yaitu diawal pertemuan pertama dan sesudah pelayanan pastoral dilaksnakan yaitu pertemuan ke enam. Hal ini dilaksanakan untuk melihat seberapa besar pengaruh pelayanan pastoral terhadap mereka.
Nilai dari setiap kelompok gejala atau pernyataan dijumlahkan, dan dari hasil penjumlahan dapat diketahui tingkat penyerhan dirinya yaitu:
0-20 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri sangat kurang.
21-40 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri masih tradisi/kebiasaan
41-60 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri kerinduaan
61-80 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri pada Lansia sangat baik
3.5.2 Alat Ukur Ketenangan hidup
Dalam mengunakan alat ukur tingkat ketenangan hidup peneliti membuat pernyatan beranjak dari faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak tenangan hidup pada orang tua lanjut usia di PPOS. Dalam hal ini alat ukur yang digunakan adalah sekumpulan pernyataan untuk mengetahui sejauh mana tingkat ketenangan hidup pada kalangan orang tua lanjut usia. Alat ukur ini juga nantinya akan digunakan dua kali dimana sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan yaitu diawal pertemuan pertama dan sesudah pelayanan pastoral dilaksnakan yaitu pertemuan ke enam. Hal ini dilaksanakan untuk melihat seberapa besar pengaruh pelayanan pastoral terhadap mereka. Dalam arti apakah pelayanan pastoral bisa menurunkan tingkat dari kegelisahan yang merasa diabaikan dari keluarga dan ditempakan di PPOS.
Nilai dari setiap kelompok gejala atau pernyataan dijumlahkan, dan dari hasil penjumlahan dapat diketahui tingkat ketenangan hidup. Adapun penilaian dari alat ukur ketenangan hidup adalah:
0-20 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup sangat baik
21-40 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup baik
41-60 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup kurang
61-80 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup sangat kurang
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN REFLESI THEOLOGIS
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
4.1.1.1 Status klien
Table 3 status klien
No
Nama Klien
Status
1
Bu Rosi
Janda
2
Bu dewi
Janda
3
Bu Rida
Janda
4
Bu Lamegogo
Janda
5
Pak Sadarta
Duda
6
Pak Bayu
Lengkap
7
Bu Vira
Lengkap
8
Bu Lita
Janda
Table 3 memperlihatkan bagaimana status klien ketika pelayanan pastoral dilaksanakan di PPOS. Dalam hal mengenai status di jelaskan bahwa yang di maksud dengan status lengkap pada klien adalah pasagan hidip mereka masih hidup. Klien dengan status lengkap ada sebanyak 2 orang (25%), yaitu klien no 6 dan 7. Klien yang bersatus janda ada sebanyak 5 orang (62.5%) , yaitu klien no 1,2,3,4, dan 8. klien yang bersatus duda ada 1 orang (12.5%) yaitu klien no 5. Dengan demikian berdasarkan penjelasaan tersebut pelayanan pastoral yang dilaksanakan di PPOS sebahagian besar kepada yang bersatus janda yaitu sebanyak 5 orang (62.5 %).
4.1.1.2 Pendidikan Klien
Table 4 Pendidikan terakhir Klien
No
Nama Klien
Pendidikan terakhir
1
Bu Rosi
Tidak sekolah
2
Bu dewi
Sekolah guru padang panjang
3
Bu Rida
Tidak sekolah
4
Bu Lamegogo
Tidak sekolah
5
Pak Sadarta
SD
6
Pak Bayu
SD
7
Bu Vira
SPG
8
Bu Lita
Tidak sekolah
Table 4 memperlihatkan bagaimana pendidikan terakhir klien sebelum di tempatkan di PPOS, ada yang tidak sekolah dan ada juga yang sampai pendidikan keguruaan. Data pada table menujukan klien yang tidak sekolah ada 4 orang (50 %), yaitu klien no 1,3,4, dan 8. Klien yang pendidikan terakhirnya sekolah ke guruan ada 2 orang (25%) yaitu klien no 2 dan 7. Klien yang berpendidikan SD ada 1 orang (12.5%) yaitu klien no 5. Klien yang berpendidikan SMP 1 orang (12.5 %) yaitu klien no 6. Jadi dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang tidak bersekolah yaitu 4 orang (50 %.).
4.1.1.3 Pekerjaan klien sebelum di tempakan di PPOS
Tabel 5 Pekerjaan klien sebelum di PPOS
No
Nama Klien
Pekerjaan sebelum di PPOS
1
Bu Rosi
Wiraswasta (Pedagang)
2
Bu dewi
Ibu rumah tangga
3
Bu Rida
Bertani
4
Bu Lamegogo
Bertani
5
Pak Sadarta
Wiraswasta
6
Pak Bayu
Bertani
7
Bu Vira
Guru SD
8
Bu Lita
Bertani
Table 5 Menujukan mengenai jenis pekerjaan klien sebelum mereka di tempatkan di PPOS. Data pada tabel memperlihatkan pekerjaan klien yang bertani ada 4 orang (50 %), yaitu klien no 3, 4, 6 dan 8. Klien yang bekerja sebagai wiraswasta (pedagang) ada 2 orang (25%), yaitu no 1 dan 5. Klien yang bekerja sebagai ibu rumah tangga 1 orang (12.5%) yaitu no 2. Klien yang bekerja sebagai guru SD ada 1 orang (12.5 %), yaitu no 7. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang pekerjaan sebelumnya petani, yaitu 4 orang (50 %.).
4.1.1.4 Penyakit klien
Tabel 6. Penyakit Klien
No
Nama Klien
Penyakit Klien
1
Bu Rosi
Maagh
2
Bu dewi
Sulit mendengar
3
Bu Rida
Maagh,
4
Bu Lamegogo
Maagh
5
Pak Sadarta
Batuk
6
Pak Bayu
Sakit perut (maagh)
7
Bu Vira
Lumpuh (kursi roda)
8
Bu Lita
Lumpuh (Kursi Roda)
Tabel 6 memperlihatkan bagaimana gambaran penyakit klien yang sering di keluhkanya. Data pada tabel 6 memperlihatkan 4 orang (50%) memiliki jenis penyakit yang sama yaitu maagh, yaitu no 1,3,4 dan 6. Klien yang duduk di korsi roda atau lumpuh ada 2 orang (25%) yaitu no 7 dan 8. Klien yang pendengaranya sulit untuk mendengar ada 1 orang (12.5%) yaitu no 2. Klien yang memiliki gaganguan kerongkongan (batuk) ada 1 orang (12.5%) yaitu no 5. Dari penjelasan diatas bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang memiliki penyakit maagh yaitu 4 orang (50 %.).
4.1.1.5 Latar Belakang Masuk PPOS
Tabel 7. Latar belakang masuk PPOS
No
Nama Klien
Latar Belakang masuk PPOS
1
Bu Rosi
Keinginan sendiri
2
Bu dewi
Keinginan sendiri
3
Bu Rida
Keinginan Keluarga
4
Bu Lamegogo
Keinginan Keluarga
5
Pak Sadarta
Kenginan Keluarga
6
Pak Bayu
Keinginan Keluarga
7
Bu Vira
Keinginan sendiri
8
Bu Lita
Keinginan keluarga
Table 7 Menujukan mengenai latar belakang masuk PPOS klien sebelum mereka di tempatkan di PPOS. Data pada tabel memperlihatkan latar belakang masuknya ke PPOS di karenakan keinginan keluarga ada 5 orang (62.5%), yaitu no 3,4,5,6 dan 8. klien yang di tempatkan di PPOS karena keinginan sendiri ada 3 orang (37.5%) yaitu no 1, 2 dan 7. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang latar belakang masuknya ke PPOS di karenakan keinginan keluarga ada 5 orang (62.5%).
4.1.1.6 Kunjungan keluarga
Tabel 8. Kunjugan keluarga
No
Nama Klien
Kunjungan keluarga
1
Bu Rosi
Sebulan 1 kali
2
Bu dewi
Sebulan 1 kali
3
Bu Rida
Sebulan 1 kali
4
Bu Lamegogo
Sebulan 1 kali
5
Pak Sadarta
Sebulan 1 kali
6
Pak Bayu
3 bulan sekali
7
Bu Vira
Sebulan 1 kali
8
Bu Lita
Sebulan 1 kali
Tabel 8 memperlihatkan bagaimana kunjungan keluarga terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS. Data pada tabel 8 menujukan rata-rata klien dikunjungi keluarganya sebulan sekali ada 7 orang (87.5%), yaitu no 1,2,3,4,5,7 Dan 8. klien yang sangat jarang di kunjungi keluarganya yakni 3 bulan sekali ada 1 orang (12.5%) yaitu no 6. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua yang sebulan 1 kali dikunjungi keluarganya yaitu 7 orang (87.5%).
4.1.2 Faktor-faktor yang menyebabkan klien ditempatkan di PPOS
Tabel 9. fator-faktor yang menyebabkab klien di tempatkan di PPOS
No
Nama Klien
Keterangan
1
Bu Rosi
Nenek br bukit ini berasal dari daerah kabanjahe. Menurut pengakuanya dia berada di tempat ini karena keinginanya sendiri. Alasannya adalah dia terkena penyakit maagh. Dia mendengar PPOS dari kawan-kawanya. Dimana teman-teman seusianya mengatakan bahwa di PPOS ada dokter spesialis yang mengobati penyakitnya. Padahal sebenarnya dokter specials maagh itu hanya perasaanya saja, yang di katakana teman-temanya itu bukanlah dokter special maagh akan tetapi dokter umum. Selain itu alasan lain maka dia bersedia ditempatkan di PPOS adalah dikarenakn masalahnya dengan keluarganya yaitu kepada menantunya dia sering selisih paham. Ini dikarenakan menantunya tinggal di belakang rumahnya dan dia sering memangil menantunya untuk menemaninya. Akan tetapi menantunya sering tidak mau dan akirnya dia sering mersa sepi di rumah di masa-masa dia sakit. Untuk itu dia memutuskan untuk tinggal di PPOS
2
Bu dewi
Nenek br tarigan ini dulunya adalah seorang istri dari raja sibayak lingga. Dimana pada zaman belanda raja ini adalah orang yang sangat berpengaruh di mata masyrakat. Dia adalah istri kedua dari suaminya. Dia memiliki 4 anak, yang 2 bergama islam dan 2 beragama Kristen. Dua anaknya telah meninggal, dan satu medan dan satulagi dia Jakarta. Jika di Jakarta dia tidak mau tinggal sedangkan jika di medan dia tidak mau dengan anaknya yang beragama Islam. Hal inilah yang menjadi faktor utama maka dia ingin tinggal di PPOS. Selain itu saudara dari nenek ini adalah salah satu perintis didirikanya PPOS, jadi dia mengetahui tempat ini dari saudaranya.
3
Bu Rida
Nenek ini dulunya tinggal bersama anaknya di Medan, keluarnya yang menempatkannya disini. Nenek ini berkata di rumah tidak ada lagi temannya di rumah akibat kesibukan keluarga. Sebenarnya dia tidak ingin tinggal disini, karena jauh dari keluarga. Akan tetapi karena lama-kelaman sudah ada disini mau apa lagi seperti ini penuturanya kepada penulis. Secara umum keluarga menempatkan nenek ini disini karena dia sering sakit dan kadang kala dia menampakan gejala pikun dengan mengatakn selalu sakit padahal tidak. Ini dikarenakan dia sering merasa sepi di rumah
4
Bu Lamegogo
Nenek ini ada di PPOS karena keinginan keluarganya. Hal ini di karenakan dia dulunya tinggal di desa bawang bersama suaminya, sedangkan anaknya tinggal di luar dari desa. Ketika suaminya telah meninggal di sudah menjadi seorang yang sendiri ditambah kondisi fisinya yang semakin menurun. Jadi pada awalnya ia tinggal bersama anaknya di kabanjahe. Akibat kesibukan keluarga maka nenek ini tidak ada yang mengurus, sedangkan dia tidak bias mengurus dirinya sendiri “aku tidak mampu lagi” maka keluarga sepakat untuk menemaptkanya di PPOS.
5
Pak Sadarta
Kakek purba adalah orang simalungun, yang berasal dari patumbak. Pada awalnya dia tingal bersama anaknya di medan. Karena kesibukan anaknya maka kakek ini tidak ada yang mengurusnya maka dia ditempatkan di PPOS. Dia adalah jemaat GBKP jadi sudah banyak tahu tentang PPOS. Tanggapanya terhadap kelauragnya biasa saja karena menempatkan disini.
6
Pak Bayu
Kakek guru singa ini adalah berasal dari desa rumah pil-pil. Sebenarnya tidak jauh dari PPOS sukamakmur. Dia di tempatkan disini karena keinginan keluarganya. Padahal dia masih memiliki istri dan anak-anak yang mengurusnya. Dia sering mengatakan aku masih kuat, aku masih sanggup aku bingung mengapa anaku menpatkan aku disi. Kata-kata ini sering kakek ini ucapkan secara berulang-ulang.
7
Bu Vira
Nenek br sembiring ini adalah orang yang paling lama tinggal di PPOS. Sebelum di PPOS dia bekerja sebagai guru SD. Dia memiliki 2 anak., dia mengalami kelumpuhan pada saat melahirkan anak yang kedua. Setelah itu dia tinggal di medan bersama keluarganya. Selama di medan dia mengalami hal yang sangat menyakitkan yaitu suaminya menikah lagi dengan orang lain.namun demikian istri keduanya meninggal dunia. Dan apa akhirnya suaminya kembali lagi kepada nenek biring. Pada satu ketika ibu mertuanya menyuruh keluarganya tinggal di batu karang. nenek biring ini tidak bersedia karena ketakutanya akan di tinggal suaminya lagi. Jadi dia memilih tinggal di PPOS.
8
Bu Lita
Nenek br bangun ini ditempatkan di PPOS karena keinginan keluarga. Dia adalah seorang yang lumpuh, pada awalnya dulu dia tidak lumpuh. Dulunya dia memiliki 3 orang anak, 2 orang laki-kali sedangkan 1 orang perempuan. Pada saat itu seorang anaknya laki-laki meninggal dunia. Hal ini membuat dia sangat terluka. Selang beberapa waktu anaknya laki-laki yang paling muda meningal dunia. Hal ini membuat hatinya semakin tidak menerima kehidupan ini. Maka ketika dia di kamar mandi dia jatuh dan storke yang mengakibatkan kelumpuhan pada kakinya. Hal inilah yang menjadi factor utama dia di tempatkan di PPOS karena keinginan kelurganya yang tidak bias mengurusnya. Sedangkan anaknya yang perumpuan sudah anjut usia dan tinggal di siantar.
Tabel 9 memperlihatkan faktor-faktor klien (orang tua lanjut usia) di tempatkan di PPOS. Data tabel ini adalah hasil percakapan penulis dengan orang tua lanjut usia padapertemuan ke II. Dimana secara umum faktor yang menyebabkan mereka di tempatkan di PPOS adalah dikarenakan mereka sudah sering sakit sehingga di rumah tidak ada lagi yang merawat dan menemaninya akibat dari kesibukan keluarganya
4.1.3 Penerimaan dan perasaan orang tua yang di tempatkan di PPOS
Tabel 10. Penerimaan dan Perasaan orang tua yang di tempatkan di PPOS
No
Nama Klien
Keterangan
1
Bu Rosi
Seperti yang sudah dituliskan diatas bahwa nenek br bukit ini datang ke PPOS karena keinginan sendiri. Pada saat di PPOS pada awalnya dia merasa senang ada di tempat ini. Akan tetapi lama-kelamaan tempat ini bukan seperti yang dia inginkan yaitu ditempat ini memiliki dokter sepesials untuk penyakitnya. selama di tempat ini dia mengatakan “saya merasa sangat sepi tinggal disini, saya menyesal ada di sini, seharusnya saya belum ada di tempat ini dia mengatakanya sambil ingin menangis tetapi air matnya tidak keluar. Setelah itu dia menjelaskan lagi selama disini dia jarang di periska dokter. Padahal saya merasa sering sakit di bahagian perut saya. Ketika saya menayakan berapa kali dia di periksa dokter dia tidak ingat akan tetapi dia mengatakan terhitung dengan jari tangan. Dan hal inilah yang sering membuat dia kwatir akan hidupnya yang sudah sering sakit-sakitan.
2
Bu dewi
Nenek rita adalah salah seorang yang paling tenang di banding penghuni lainya. Dia bercerita ketika dia di tempatkan di tempat ini dia merasa senang dan tidak mendapat masalah. Hal ini dikarenakan ketika dia tinggal bersama anak-anaknya yang beragama lain dia merasa tidak tenang dan takut nantinya anaknya mengajak dia ke agamanya. Jadi dia mengatakan lebih baik disini sering kebaktian masalahnya saya sudah tua pendengaran saya sudah tidak seperti dulu lagi. Akan tetapi kadangkala saya juga merasa kesepian tinggal di sini jadi dengan bekerja membersihkan pekarang yang saya lakukan untuk mengisi waktu.
3
Bu Rida
Dalam pertemuan ini kondisi nenek karo ini dalam kondisi kurang sehat. Ketika diajak untuk bercerita bagaimana perasaanya selama di sini dia langsung menangis. Sedih saya rasa dimana saya sangat merasa kesepian tinggal disini. Meskipun disini banyak orang yang seumur tetapi pikiran saya pada keluarga saya. Saya sering kwatir bagaimana keadaanya dan cucu saya. Selama disini dia merasa tidak enak makan dan perunya sering merasa sakit. Hal yang sama seperti nenek bru bukit juga di tuturkan olehnya mengenai dokter yang jarang memerisanya. Sementara dia sering merasa sakit perut.
4
Bu Lamegogo
Nenek br tarigan ini pada awalnya juga sangat merasa senang tinggal disini. Tetapi lama-kelamaan dia juga merasa ksepian dan jauh dari keluarga. Dia yang dulunya bekerja sebagai para petani kini tidak bisa lagi bekerja akibat dia di tempatkan disini. Kadang kala dia merasa bosan dengan kehidupan-kehidupan begini saja disini dia mengatakan “lalit kai idahiken ijenda” (tidak ada pekerjaan disini). Jadi untuk mengisi waktunya supaya dia tidak merasa sepi dia mengusuk orang lain dan mendapat upah kepada sesamanya penghuni PPOS.
5
Pak Sadarta
Selama tinggal di PPOS kakek purba kadang kala merasa sepi tingal disni. Untuk mengisi kekosongan dia sering membaca Alkitab dan koran. Hal yang menyebakan dia merasa sepi dikarenakan kegiatan baginya sangatlah kurang di tambah kondisi fisiknya yang mulai menurun
6
Pak Bayu
Kakek guru singa adalah salah seorang yang merasa paling tidak nyaman tinggal di PPOS. Dia mengatakan banyak sekali keluhan, pada awalnya dia sebenarnya tidak senang tinggal di PPOS akan tetapi karena keinginan keluarga mau tidak mau ya harus. Selama tinggal di PPOS dia sering merasa kesepian dan jauh dari keluarga. Dia merasa banyak kekurangan dari tempat tinggalnya di PPOS. Dia sering sakit perut dan sering obatnya itu-itu saja dia tidak merasa nyaman dan penyakitnya tidak sembuh-sembuh.
7
Bu Vira
Berbicara tentang kesepian dan keceasaan kepada nenek br depari dia merasa tidak ada keluhan untuk hal ini. Mungkin pada awlnya dia ditempatkan perasaan sepi dan cemas itu sering ada akan tetapi ketika dia sudah lama tinggal disini kurang lebih selama 4 tahun dia menikmati untuk tingal disini
8
Bu Lita
Nenek br bangun ini pada walnya juga sering merasa kesepian tinggal disini. Hal ini dikarenkan kondisninya yang sudah tidak bisa berjalan. Dia sering mengatakan beginilah kalo sudah lumpuh mau apa lagi. Kadang kala dia sering kwatir akan hisudupnya. Dia sering mengigat harta bendanya yang ada di kampung. Bagaimana keadaan keluarganya kesehatan keluarganya dan sebagainya. Mengenai keluhan selama di PPOS sebenarnya dia ingin sekali berjalan kesana kemari untuk mendapat udara segar. Karena selama ini dia hanya bisa duduk diam disamping ruang makan dan jika mau tidur dia kemara. Kadangkala dia ingin disorong ketaman dan lain sebagainya.
Tabel 10 memperlihatkan penerimaan dan perasaan klien (orang tua lanjut usia) yang di tempatkan di PPOS. Data tabel ini adalah hasil percakapan penulis dengan orang tua lanjut usia pada pertemuan ke III. Dimana dari hasil percakapan dapat dikatakan kebanyakan dari klien tidak menerima dia di tempatkan di PPOS, sehingga ketika dia di tempatkan di sanadia merasa dijauhkan dari keluarga dan juga perasaan kesepian yang sering muncul dalam pikiranya.
4.1.4 Faktor-Faktor yang menyebabkan orangtua lanjut usia yang tinggal di PPOS memiliki ketidaktenangan hidup.
Tabel 11. Hasil alat ukur tingkat ketenangan hidup sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan
No Pernyataan
PERNYATAAN O-4
0
1
2
3
4
1
- orang
- orang
1 orang
7 orang
- orang
2
1 orang
1 orang
6 orang
- orang
- orang
3
- orang
- orang
1 orang
7 orang
- orang
4
-orang
2 orang
5 orang
1 orang
- orang
5
- orang
3 orang
5 orang
- orang
- orang
6
3 orang
- orang
5 orang
- orang
- orang
7
- orang
- orang
3 orang
5 orang
- orang
8
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
9
- orang
1 orang
2 orang
5 orang
- orang
10
- orang
- orang
3 orang
5 orang
orang
11
3 orang
2 orang
3 orang
- orang
- orang
12
- orang
1 orang
5 orang
1 orang
- orang
13
- orang
1 orang
3 orang
4 orang
- orang
14
- orang
- orang
3 orang
5 orang
- orang
15
- orang
3 orang
4 orang
1 orang
- orang
16
- orang
1 orang
4 orang
3 orang
- orang
17
- orang
1 orang
5 orang
2 orang
- orang
18
orang
- orang
5 orang
3 orang
- orang
19
- orang
3 orang
3 orang
2 orang
- orang
20
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
Tabel 11 memperlihatkan bahwa ada 7 orang (87.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 1 dan 3, menyatakan pernyataan 3. pernyataan 3 pada kumpulan pernyataan no 1 adalah sering mersa sepi tinggal di PPOS; pada kumpulan pernyataan no 3 adalah sering merasa jauh dari keluarga.
Ada 6 orang (75%) klien untuk kumpulan pernyataan no 2,8 dan 20, menyatakan pernyataan 2. Pernyataa 2 pada kumpulan no 2 adalah kadang-kadang merasa senang tinggal di PPOS; pada kumpulan pernyataan no 8 adalah kadang-kadang kematian adalah hal yang menakutkan bagiku; pada kumpulan pernyatan no 20 adalah kadang-kadang merasa tenang tinggal di PPOS.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan 4,5,6,12, 17 dan 18, menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan no 4 adalah kadang-kadang saya merasa tidak berguna; pada kumpulan pernyataan no 5 adalah kadang-kadang saya merasa aman; pada kumpulan pernyataan no 6 adalah kadang-kadang saya merasa tidak aman; pada kumpulan no 12 adalah kadang-kadang saya merasa takut dijauhi keluarga. pada kumpulan no 17 adalah kadang-kadang saya merasa gugup; pada kumpulan no 18 adalah saya merasa gelisah.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan 7 ,9 dan 10, dan 14 menyatakan pernyataan 3. Pernyataan 3 pada kumpulan no 7 adalah saya sering merasa takut tinggal disini; pada kumpulan no 9 adalah sering merasa kematian adalah sesuatu yang kunanitikan; pada kumpulan no 10 adalah saya sering merasa sudah siap untuk dipanggil Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 14 adalah saya merasa sering merasa bingung menjalani kehidupan.
Ada 4 orang (50 %) klien untuk kumpulan pernyataan no 8, menyatakan pernyataan 0. Pernyataan 0 pada kumpulan no 8 adalah tidak pernah merasa kematian adalah hal yang menakutkan.
Ada 4 orang (50 %) klien untuk kumpulan pernyataan no 15 dan 16 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan no 15 adalah kadang-kadang saya sedang mencemaskan kemungkinan buruk; pernyataan no 16 adalah kadang-kadang saya kurang percaya diri
Ada 4 orang (50 %) klien untuk kumpulan pernyataan no 13 menyatakan pernyataan 3. Pernyataan 3 pada kumpulan no 13 adalah saya sering merasa tidak bahagia.
Dengan demikian, dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ketidaktenangan hidup dari kalangan orang tua yang lanjut usia ketika di tempatkan di PPOS adalah karena untuk hal-hal yang berikut ini: sering merasa sepi tinggal di PPOS, sering merasa jauh dari keluarga, sering merasa takut tinggal di PPOS, sering merasa kematian adalah sesuatu hal yang dinantikanya, sering merasa sudah siap untuk dipanggil Tuhan, sering merasa tidak bahagia, sering merasa bingung menjalani kehidupan.
Selain itu hal-hal yang berikut ini: saya merasa senang tinggal di PPOS, saya merasa tidak berguna, saya merasa aman, saya merasa tidak aman, kematian adalah hal yang menakutkan bagiku, saya merasa takut dijauhi keluarga, saya kurang percaya diri, saya merasa gugup, sedang mencemaskan kemungkinan buruk, saya merasa gilisah, hanya sebatas kadang-kadang.
Seperti yang telah dipaparkan pada bahagian terdahulu (bab.2.4) ketenangan hidup adalah menyakut sikap perasaan jiwa seseorang. Dilihat dari alat ukur yang diberikan kepada orangtua lanjut usia yang tinggal di PPOS, maka bisa dikatakan tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia masih sangat kurang, dimana mereka masih sangat sering merasa kesepian dan juga memiliki perasan-perasan yang sangat tidak menentu yang menyebakan dia tidak memaknai kehidupan di usianya yang senja.
4.1.5 Faktor-faktor yang menyebabkan menurunya tingkat penyerahan diri terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
Tabel 12. Hasil alat ukur Penyerahan diri sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan
No Pernyataan
PERNYATAAN O-4
0
1
2
3
4
1
- orang
1 orang
7 orang
- orang
- orang
2
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
3
- orang
7 orang
1 orang
orang
- orang
4
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
5
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
6
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
7
- orang
5 orang
3 orang
- orang
- orang
8
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
9
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
10
- orang
3 orang
5 orang
- orang
- orang
11
- orang
- orang
8 orang
- orang
- orang
12
- orang
1 orang
7 orang
- orang
- orang
13
1 orang
4 orang
3 orang
- orang
- orang
14
1 orang
3 orang
4 orang
- orang
- orang
15
- orang
3 orang
5 orang
- orang
- orang
16
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
17
- orang
7 orang
1 orang
- orang
- orang
18
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
19
- orang
1 orang
7 orang
-orang
- orang
20
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
Tabel 12 memperlihatkan bahwa ada 8 orang (100%) klien untuk kumpulan pernyataan no 11, menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 11 adalah kadang-kadang merasa senang bernanyi.
Ada 7 orang (87.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 3 dan 17, menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 3 adalah pernah merasa diperbaharui dari hari ke hari; pada kumpulan pernyataan no 17 adalah pernah merasakan kehadirat Tuhan saat bersaat tuduh.
Ada 7 orang (87.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 1, 12 dan 19 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 1 adalah kadang-kadang percaya pada kebenaraan firman Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 12 adalah kadang-kadang bernyanyi membuat hati saya lebih tenang; pada kumpulan pernyataan no 19 adalah kadang-kadang punya kerinduaan untuk ibadah minggu.
Ada 6 orang (75%) klien untuk kumpulan pernyataan no 6, 8, 9 dan 18 menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 6 adalah pernah berdoa dalam segala hal; pada kumpulan pernyataan no 8 adalah pernah berserah diri dengan sunguh-sunguh kepada Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 9 adalah pernah setiap mau tidur saya berdoa; pada kumpulan pernyataan 18 pernah ingin ikut ambil bahagian dalam kegiataan saat teduh.
Ada 6 orang (75%) klien untuk kumpulan pernyataan no 2, 4, 5, 16 dan 20 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 2 adalah kadang-kadang merasakan firman Tuhan menyegarkan jiwa; pada kumpulan pernyataan no 4 adalah kadang-kadang percaya pada firman Tuhan tentang kebangkitan dan hidup yang kekal; pada kumpulan pernyataan no 5 adalah kadang-kadang merasakan hidup ini adalah pemberian Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 16 adalah kadang-kadang punya kerinduaan untuk saat teduh; pada kumpulan pernyataan no 20 adalah kadang-kadang kerinduaan untuk ibadah malam.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 7 menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 7 adalah pernah percaya Tuhan mendengarkan doaku.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 10 dan 15 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 10 adalah kadang-kadang mensyukuri segala pemberiaan Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 15 adalah kadang-kadang bersyukur setiap waktu lewat nyanyian.
Ada 4 orang (50%) klien untuk kumpulan pernyataan no 13 menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 13 pernah berserah diri dengan nyanyian.
Ada 4 orang (50%) klien untuk kumpulan pernyataan no 14 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 14 adalah kadang-kadang nyanyian bisa mengubah kehidupanku.
Dengan demikian, dari penjelasaan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor- faktor yang menyebabkan menurunya tingkat penyerahan diri terhadap orang tua lanjut usia karena untuk hal-hal berikut ini: senang bernanyi, percaya pada kebenaraan firman Tuhan, punya kerinduaan untuk ibadah minggu, merasakan firman Tuhan menyegarkan jiwa, percaya pada firman Tuhan tentang kebangkitan dan hidup yang kekal, merasakan hidup ini adalah pemberian Tuhan, punya kerinduaan untuk saat teduh, kerinduaan untuk ibadah malam, mensyukuri segala pemberiaan Tuhan, bersyukur setiap waktu lewat nyanyian, bernyanyi membuat hati saya lebih tenang, nyanyian bisa mengubah kehidupanku, hanya sebatas kadang-kadang
Dan untuk hal-hal yang berikut ini: Merasa diperbaharui dari hari ke hari, merasakan kehadirat Tuhan saat bersaat tuduh, berdoa dalam segala hal, berserah diri dengan sunguh-sunguh kepada Tuhan, setiap mau tidur saya berdoa, ingin ikut ambil bahagian dalam kegiataan saat teduh, percaya Tuhan mendengarkan doaku, berserah diri dengan nyanyian, hanya sebatas pernah.
Seperti yang telah di paparkan pada bagian terdahulu (bab.2.5) penyerahan diri adalah menyerahkan selruh hidupnya secara totalitas kepada Tuhan. Dari penjelasan diatas memperlihatkan bahwa penyerhan diri dalam kalangan orang tua lanjut usia masih sangat belum menyerhan dirinya secara sunguh-sunguh kepada Tuhan. Ini dikarenakan setiap pernyataan yang diajukan hanya sebatas pernah dan kadang-kadang saja, dalam artian belum menjadi sebuah kerinduaan.
4.1.6 Tingkat ketenangan hidup dan penyerahaan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayan pastoral dilaksnakan.
4.1.6.1 Tingkat Ketenangan hidup orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayanan pastoral.
Tabel 13. Tingkat ketenangan hidup sebelum pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
46
Tingkat Ketenangan hidup kurang
2
Bu dewi
32
Tingkat Ketenangan hidup baik
3
Bu Rida
48
Tingkat Ketenangan hidup kurang
4
Bu Lamegogo
46
Tingkat Ketenangan hidup kurang
5
Pak Sadarta
39
Tingkat Ketenangan hidup baik
6
Pak Bayu
47
Tingkat Ketenangan hidup kurang
7
Bu Vira
33
Tingkat Ketenangan hidup baik
8
Bu Lita
47
Tingkat Ketenangan hidup kurang
Data pada tabel 13 menujukan bahwa skore klien mulai 32 hingga 48. data memperlihatkan bahwa kien dengan skore antara 0-20 tidak ada. Klien dengan skore antara 21-40, ada 3 orang (37.5%), yaitu klien no 2, 5, dan 7. klien dengan skore antara 41-60 ada 5 orang (62.5%), yaitu klien no 1, 3, 4, 6 dan 8. dengan demikian, klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik ada 3 orang (37.5%). Klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup kurang ada 5 orang (62.5%).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sebelum dilaksanakan percakapan pastoral (pelayanan pastoral) tingkat ketenangan hidup yang dialami seluruh klien terdiri dari : memiliki ketenangan hidup yang baik dan kurang. Sebahagian klien kurang memiliki ketenangan hidup, sebanyak 5 orang (62.5%).
4.1.6.1 Tingkat Penyerahan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayanan pastoral.
Tabel 14. Tingkat Penyerahan diri sebelum pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
32
tradisi/kebiasaan
2
Bu dewi
38
tradisi/kebiasaan
3
Bu Rida
21
tradisi/kebiasaan
4
Bu Lamegogo
32
tradisi/kebiasaan
5
Pak Sadarta
31
tradisi/kebiasaan
6
Pak Bayu
31
tradisi/kebiasaan
7
Bu Vira
36
tradisi/kebiasaan
8
Bu Lita
26
tradisi/kebiasaan
Data pada tabel 14 menujukan bahwa skore klien mulai dari antara 21 hingga 38. data tabel memperlihatkan bahwa klien dengan skore 0-20, tidak ada. Klien dengan skore antara 21- 40, 8 orang (100%). Klien dengan skore antara 41-60 tidak ada. Klien dengan skore antara 61-80 tidak ada. Dengan demikian, seluruh klien (100%) mengalami tingkat penyerahan diri sebagai tradis/kebiasaan.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh klien sebelum dilaksanakan pelayanan pastoral dalam hal percakapan pastoral mengalami tingkat penyerahaan diri hanya sebagai suatu tradisi atau kebiasaan.
4.1.7 Tingkat ketenangan hidup dan penyerahaan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sesudah pelayan pastoral dilakasnakan.
4.1.7.1 Tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayan pastoral dilaksanakan.
Tabel 15. Tingkat ketenangan hidup sesudah pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
40
Tingkat Ketenangan hidup baik
2
Bu dewi
23
Tingkat Ketenangan hidup baik
3
Bu Rida
42
Tingkat Ketenangan hidup kurang
4
Bu Lamegogo
34
Tingkat Ketenangan hidup baik
5
Pak Sadarta
25
Tingkat Ketenangan hidup baik
6
Pak Bayu
37
Tingkat Ketenangan hidup baik
7
Bu Vira
23
Tingkat Ketenangan hidup baik
8
Bu Lita
38
Tingkat Ketenangan hidup baik
Data pada tabel 15 menujukan bahwa skore klien mulai 23 hingga 42. Data memperlihatkan bahwa kien dengan skore antara 0-20 tidak ada. Klien dengan skore antara 21-40, ada 7 orang (87.5%), yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6, 7 dan 8. Klien dengan skore antara 41-60 ada 1 orang (12.5%) , yaitu klien no 3. Dengan demikian, klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik ada 7 orang (87.5%). Klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup kurang ada 1 orang (12.5%).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh klien setelah dilaksanakan peercakapan pastoral maka tingkat ketenangan hidup yang dialami sekuruh klien adalah kurang memiliki ketenangan hidup dan sudah memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik. Pada umumnya klien sudah memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik yaitu 7 orang (87.5%).
4.1.7.2 Tingkat Penyerhan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayan pastoral dilaksanakan.
Tabel 16. Tingkat Penyerahan diri sebelum pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
48
Kerinduaan
2
Bu dewi
53
Kerinduaan
3
Bu Rida
35
Tradisi/kebiasaan
4
Bu Lamegogo
49
Kerinduaan
5
Pak Sadarta
46
Kerinduaan
6
Pak Bayu
46
Kerinduaan
7
Bu Vira
51
Kerinduaan
8
Bu Lita
45
Kerinduaan
Data pada tabel 15 menujukan bahwa skore klien mulai dari antara 35 hingga 53. Data tabel memperlihatkan bahwa klien dengan skore 0-20, tidak ada. Klien dengan skore antara 21- 40, 7 orang (87.5%) yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6, 7 dan 8. Klien dengan skore antara 41-60 ada 1 orang (12.5%) , yaitu klien no 3. Klien dengan skore antara 61-80 tidak ada. Dengan demikian, ada 1 orang klien yang masih mengalami tingkat penyerahan diri sebagai suatu tradis/kebiasaan. Klien yang mengalami tingkat penyerahan diri menjadi suatu kerinduaan ada 7 orang (87.5%).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa setelah diadakan percakapan pastoral tingkat penyerahaan diri yang dialami oleh seluruh klien terdiri dari ; tradisi/kebiasaan dan kerinduaan. Sebahagian klien (87.5%) mengalami tingkat penyerhan diri pada tingkat kerinduaan.
4.1.8 Dampak Pelayanan Pastoral menikatkan tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri terhadap orang tua lanjut usia.
4.1.8.1 Dampak pelayanan pastoral menikatkan tingkat ketenanganhidup terhadap orang tua lanju usia
Tabel 17. Dampak Pelayanan Pastoral terhadap tingkat ketenangan hidup
No
Nama Klien
Skore tingkat ketenangan hidup
Hasil
Sebelum Percakapan
Sesudah Percakapan
Skore
Tingkat
skore
Tingkat
skore
Tingkat
1
Bu Rosi
46
Kurang
40
Baik
Turun
Turun
2
Bu dewi
32
Baik
23
Baik
Turun
Tetap
3
Bu Rida
48
Kurang
39
Baik
Turun
Tetap
4
Bu Lamegogo
46
Kurang
34
Baik
Turun
Turun
5
Pak Sadarta
39
Baik
25
Baik
Turun
Tetap
6
Pak Bayu
47
Kurang
37
Baik
Turun
Turun
7
Bu Vira
33
Baik
23
Baik
Turun
Tetap
8
Bu Lita
47
Kurang
38
Baik
Turun
Turun
Data pada tabel 17 memperlihatkan bahwa pada klien no 1, terjadi penurunan skore 6 angka, dari 46 menjadi 40. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 2, terjadi penurunan skore 9 angka, dari 32 menjadi 23, namun penurunan ini belum sigifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup. Dari tingkat ketenangan hidup baik menjadi tingkat ketenangan hidup sangat baik.
Pada klien no 3, terjadi penurunan skore 9 angka, dari 48 menjadi 39, Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 4, terjadi penurunan skore 12 angka, dari 46 menjadi 34. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 5, terjadi penurunan skore 14 angka, dari 39 menjadi 25, namun penurunan ini belum sigifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup. Dari tingkat ketenangan hidup baik menjadi tingkat ketenangan hidup sangat baik.
Pada klien no 6, terjadi penurunan skore 10 angka, dari 47 menjadi 37. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 7, terjadi penurunan skore 10 angka, dari 33 menjadi 23, namun penurunan ini belum sigifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup. Dari tingkat ketenangan hidup baik menjadi tingkat ketenangan hidup sangat baik.
Pada klien no 8, terjadi penurunan skore 9 angka, dari 47 menjadi 38. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Dari penjelasan di atas dapat di katakan bahwa skore tingkat ketenangan hidup untuk seluruh klien (100%) mengalami penurunan signitifikan . Penurunan skore tingkat ketenangan hidup terdiri dari dua tingkatan signitifikan (62.5%) dan tidak signitifikan (37.5%). Klien yang mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 5 orang (62.5%), yaitu klien no 1, 3, 4, 6, dan 8. Penurunan tingkat ketenangan hidup itu terdiri dari kurang memiliki ketenangan hidup menjadi memiliki ketenangan hidup yang baik. Klien yang tidak mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 3 orang (37.5%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral terhadap klien berdampak pada menurunya skore ketenangan hidup klien (100%) dan tingkat keteangan klien (62.5%).
4.1.8.1 Dampak pelayanan pastoral menikatkan penyerahaan diri terhadap orang tua lanju usia
Tabel 18. Dampak Pelayanan Pastoral terhadap tingkat ketenangan hidup
No
Nama Klien
Skore tingkat penyerahan diri
Hasil
Sebelum Percakapan
Sesudah Percakapan
Skore
Tingkat
skore
Tingkat
skore
Tingkat
1
Bu Rosi
32
Tradisi/kebiasaan
48
Kerinduaan
Naik
Naik
2
Bu dewi
38
Tradisi/kebiasaan
53
Kerinduaan
Naik
Naik
3
Bu Rida
21
Tradisi/kebiasaan
35
Tradisi/kebiasaan
Naik
Tetap
4
Bu Lamegogo
32
Tradisi/kebiasaan
49
Kerinduaan
Naik
Naik
5
Pak Sadarta
31
Tradisi/kebiasaan
46
Kerinduaan
Naik
Naik
6
Pak Bayu
31
Tradisi/kebiasaan
45
Kerinduaan
Naik
Naik
7
Bu Vira
36
Tradisi/kebiasaan
51
Kerinduaan
Naik
Naik
8
Bu Lita
26
Tradisi/kebiasaan
40
Tradisi/kebiasaan
Naik
Tetap
Data pada tabel 18, memperlihatkan bahwa pada klien no 1, terjadi kenaikan skore 16 angka, dari 32 menjadi 45. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 2, terjadi kenaikan skore 15 angka, dari 38 menjadi 53. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 3, terjadi kenaikan skore 14 angka, dari 21 menjadi 35. Namun kenaikan skore ini belum signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 4, terjadi kenaikan skore 17 angka, dari 32 menjadi 49. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 5, terjadi kenaikan skore 15 angka, dari 46 menjadi 31. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 6, terjadi kenaikan skore 14 angka, dari 45 menjadi 31. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 7, terjadi kenaikan skore 15 angka, dari 36 menjadi 51. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 8, terjadi kenaikan skore 14 angka, dari 26 menjadi 40. Namun kenaikan skore ini belum signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Dari penjelasan di atas dapat di katakan bahwa skore tingkat penyerahan diri untuk seluruh klien (100%) mengalami kenaikan. Kenaikan skore itu terdiri dari dua tingkatan: signitifikan (75%) dan tidak signitifikan (25%). Klien yang mengalami kenaikan tingkat penyerahan diri ada 6 orang (75%), yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6 dan 7. Kenaikan tingkatan itu terdiri dari tradisi/kebiasaan menjadi kerinduaan. Klien yang tidak mengalami kenaikan tingkat penyerahaan diri, namun skore mendekati “ambang batas” tingkat kerinduan ada 2 orang (25%), yaitu klien no 3 dan 8. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral terhadap klien berdampak pada kenaikan skore penyerahaan diri klien (100%) dan tingkat penyerahan diri klien (75%)
4.2 Pembuktian Hipotesa
Dari hasil penelitian menujukan bahwa sebelum dilaksanakan pelayanan pastoral terhadap klien yang dialami oleh klien terdiri dari kurang memiliki ketenangan hidup ada 5 orang dan memiliki ketenangan hidup yang baik ada 3 orang; seluruh klien mengalami tingkat penyerahaan diri sebagai tradisi atau kebiasaan.
Setelah dilaksanakan pelayanan pastoral, hasil penelitian menujukan bahwa:
1. Seluruh klien menujukan penurunan skore tingkat ketenangan hidup (100%). Klien yang mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 5 orang (62.5%), yaitu klien no 1, 3, 4, 6, dan 8. Penurunan tingkat ketenangan hidup itu terdiri dari kurang memiliki ketenangan hidup menjadi memiliki ketenangan hidup yang baik. Klien yang tidak mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 3 orang , yaitu klien no 2, 5 dan 7. Untuk klien no 2, 5 dan 7, memiliki skore “diambang batas” tingkat ketenangan hidup sangat baik.
2. Terjadi kenaikan skore untuk seluruh klien (100%) dan kenaikan tingkat penyerhaan diri pada 6 orang (75%), yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6 dan 7. Kenaikan tingkatan itu terdiri dari tradisi/kebiasaan menjadi kerinduaan. Klien yang tidak mengalami kenaikan tingkat penyerahaan diri, namun skore mendekati “ambang batas” tingkat kerinduan ada 2 orang (25%), yaitu klien no 3 dan 8.
Dengan demikian dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral terhadap klien berdampak pada menurunya skore dan tingkat ketenangan hidup klien; pada naiknya skore dan tingkat penyerhaan diri klien.
Berdasarkan hal di atas, maka hipotesa penelitian: “Jika pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia dilaksanakan maka akan meningkatkan tingkat peyerahan diri dan ketenangan hidup mereka di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) GBKP taman jubelium Sukamakmur” dapat dibuktikan
4.3 Reflesi Teologis
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Gambaran umum klien (orang tua lanjut usia) yang tinggal di PPOS
Berusia antara 58-87 tahun, pada umunya berstatus janda (tidak lengkap), di tempatkan di PPOS karena keinginan keluarga, di kunjungi sebulan sekali mengalami perasaan kesepian dan jauh dari keluarga di tempatkan disana.
2. Faktor-faktor penyebab orang tua lanjut usia mengalami ketidaktenangan hidup dan menurunya tingkat penyerahan diri mereka.
1. Faktor-faktor penyebab orang tua lanjut usia mengalami ketidaktenangan hidup
Faktor-faktor penyebab orang tua lanjut usia mengalami ketidaktenangan hidup adalah karena untuk hal-hal yang berikut ini: sering merasa sepi tinggal di PPOS, sering merasa jauh dari keluarga, sering merasa takut tinggal di PPOS, sering merasa kematian adalah sesuatu hal yang dinantikanya, sering merasa sudah siap untuk dipanggil Tuhan, sering merasa tidak bahagia, sering merasa bingung menjalani kehidupan. Selain itu hal-hal yang berikut ini: saya merasa senang tinggal di PPOS, saya merasa tidak berguna, saya merasa aman, saya merasa tidak aman, kematian adalah hal yang menakutkan bagiku, saya merasa takut dijauhi keluarga, saya kurang percaya diri, saya merasa gugup, sedang mencemaskan kemungkinan buruk, saya merasa gilisah, hanya sebatas kadang-kadang.
2. Faktor-faktor penyebab menurunya tingkat penyerahan diri orang tua lanjut usia
Faktor-faktor penyebab menurunya tingkat penyerahan diri orang tua lanjut usia adalah karena hal-hal berikut ini: senang bernanyi, percaya pada kebenaraan firman Tuhan, punya kerinduaan untuk ibadah minggu, merasakan firman Tuhan menyegarkan jiwa, percaya pada firman Tuhan tentang kebangkitan dan hidup yang kekal, merasakan hidup ini adalah pemberian Tuhan, punya kerinduaan untuk saat teduh, kerinduaan untuk ibadah malam, mensyukuri segala pemberiaan Tuhan, bersyukur setiap waktu lewat nyanyian, bernyanyi membuat hati saya lebih tenang, nyanyian bisa mengubah kehidupanku, hanya sebatas kadang-kadang. Dan untuk hal-hal yang berikut ini: Merasa diperbaharui dari hari ke hari, merasakan kehadirat Tuhan saat bersaat tuduh, berdoa dalam segala hal, berserah diri dengan sunguh-sunguh kepada Tuhan, setiap mau tidur saya berdoa, ingin ikut ambil bahagian dalam kegiataan saat teduh, percaya Tuhan mendengarkan doaku, berserah diri dengan nyanyian, hanya sebatas pernah.
3. Tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri orang tua lanjut usia sebelum pelayanan pastoral.
Tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan terdiri dari : memiliki ketenangan hidup yang baik dan kurang.
Tingkat penyerahaan diri orang tua lanjut usia sebelum pelayanan pastoral adalah seluruhnya mengalami tingkat penyerahaan diri hanya sebagai suatu tradisi atau kebiasaan.
4. Tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri orang tua lanjut usia sesudah pelayanan pastoral.
Tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia sesudah pelayanan pastoral dilaksanakanselurunya sudah memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Tingkat penyerahaan diri orang tua lanjut usia sesudah pelayanan pastoral dilaksanakan bahwa setelah diadakan percakapan pastoral tingkat penyerahaan diri yang dialami oleh seluruh klien terdiri dari tradisi/kebiasaan dan kerinduaan.
5. Dampak pelayanan pastoral meningkatkan tingkat ketenangan hidup dan penyerahaan diri orang tua lanjut usia.
Pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia berdampak pada menurunya skore tingkat ketenangan hidup dari kurang memiliki ketenangan hidup menjadi memiliki ketenangan hidup yang baik.
Pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia berdampak pada kenaikan skore dan tingkat penyerahaan diri dari sebahagiaan besar mereka dari tingkat tradisi/kerinduaan menjadi tingkat bermakna.
5.2 Saran
Pada saat sekarang ini tempat penitipaan untuk orang tua lanjut usia semakin diminati, meskipun bagi sebahagian orang masih anti dengan tempat ini. Secara khusus PPOS sangat berbeda dengan panti wreda pada umunya.dimana PPOS bukan hanya pelayanan dari segi fisik saja akan tetapi dari segi kerohanian juga di perlengkapi. Beranjak dari hal diatas tentu saja membutuhkan peran dan tanggung jawab semua pihak baik dari keluarga, pegawai yang melayani mereka dan juga gereja yang telah mendirikan tempat ini untuk kemajuan yang lebih baik, supaya setiap orang tua yang tinggal di PPOS merasakan bahwa di hari tua mereka masih merasakan berkat yang datangnya dari Tuhan.
Beranjak dari hal diatas maka penulis yang telah melaksanakan pelayanan pastoral dan penelitian di PPOS mengajukan saran-saran sebagai berikut:
Kepada PPOS
- Menikatkan kualitas pegawai yang melayani orang tua lanjut usia. Dalam arti pegawai hendaknya ahli dalam bidang orang tua lanjut usia (gerontology) baik dari segi perawatan dan memahami kondisi karakter orang tua lanjut usia.
- Memperhatikan kebutuhaan orang tua lanjut usia, dari segi makanan yang masih kurang memenuhi gizi mereka, dan juga masalah kesehatan mereka yang sebaiknya di periksa seminggu sekali meskipun dokter berhalangan datang ada baiknya perawat yang memeriksanya.
- Menikatkan hiburan bagi orang tua lanjut usia seperti mengajak mereka untuk penyegaran ke retret center bagi mereka yang masih mampu supaya mereka tidak merasa kesepiaan tingal disana dan masih banyak hiburan yang lain yang perlu di tambah. Selain itu bagi orang tua lanjut usia yang masih mampu diberikan keterampialn atau pekerjaan yang di anggap cocok untuknya.
Kepada Gereja
- Untuk menikatkan perhatian terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS dalam hal kebutuhan rohani mereka. Dimana perlunya seorang pendeta yang selalu membimbing orang tua lanjut usia dalam hal kerohanian dan melaksanakan pelayanan pastoral.
- Memberikan pemahaman kepada warga gereja (jemaat) mengenai PPOS bukanlah suatu tempat yang buruk bagi orang tua lanjut usia.
- Mengingatkan warga gereja (jemaat) supaya memperhatikan PPOS bukan hanya sebatas memberikan sumbangan makanan dan dana untuk pembangunan saja akan tetapi perkunjungan kita kepada mereka lebih mereka rasakan.
Kepada STT Abdi Sabda
- Untuk lebih mendorong mahasiswa untuk melaksanakan pelayanan terhadap orang tua lanjut usia.
[1] Pada umumnya usia tua bermakna negatif, karena tua berarti keadaan uzur, sakit-sakitan, kurang tidur tanda-tanda merosotnya sisi kehidupan. Bnd. Richard L. Morgan, Tetap Ceria di Usia Senja, Jakarta: BPK-GM, 1999, hlm. 3
[2] Andi Mappcare, Psikologi Orang Dewasa, Surabaya: Usaha Nasional, 1983, hlm. 239
[3] Ibid, hlm. 241
[4] Bnd. E.P.Gintins, Gembala dan Pastoral Klinis, Bandung: Bina Media Informasi, hlm. 27
[5] M.S.E. Simorangkir, (peny.), Buku Konkord, Konfesi Gereja Lutheran, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 505
[6] E.P.Gintings, Makna Pastoral Dalam Jam Kehidupan Lanjut Usia, Dalam E.P.Gintings (red), Suara Abdi Sabda “ Jam Kehidupan” ,Medan: Abdi Sabda, 1994, hlm.12
[7] Ibid, hlm. 13
[8] Dalam pelayanan pastoral ini umumnya berbentuk konseling pastoral. Konseling pastoral sebagai bagian dari pengembalaan umumnya, selalu memperhitungkan faktor kehadiran Allah dalam relasi hubungan manusia dengan manusia, dan justru inilah yang membedakan dengan konseling psikiologis atau konseling psikiatri. Bnd. E.P.Gintings, Gembala dan Konseling Pastoral, Yogyakarta: Andi, hlm. 31
[9] E.P.Gintings., Membaca Manusia sebagai Dokumen hidup, Kabanjahe: Abdi Karya, 2006, hlm 16-17
[10] Herbert van der Rugt, Menghadapi Usia Senja (Menurut Pandangan Kristen), Jakarta: BPK-GM, 1986, hlm. 18
[11] Tp, KBBI, Jakarta: Balai Pustaka, 1988, hlm. 504
[12] A. Noordegraaf, Orientasi Diakonia Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 3
[13] Ibid, hlm. 4
[14] E. P. Gintings, Gembala dan Penggembalaan, Kabanjahe, Abdi Karya, 2002, hlm. 4
[15] M.Bonsstrom, Apakah Pengembalaan Itu?, Jakarta: BPK-GM, 2000, hlm.4
[16] Aart Van Beek, Konseling Pastoral Jilid I, Salatiga: Satya Wacana, 1987, hlm. 3
[17] J.L.Ch.Abineno, Pengembalaan, Jakarta: BPK-GM, 1967, hlm. 3
[18] M.Bonsstrom, Op.Cit,hlm. 4
[19] E.P.Gintings, Gembala dan Penggembalaan, Op.Cit, hlm 10
[20] Dalam Yeheskiel 34 dijelaskan tentang pelayanan Allah yang berfungsi sebagai panggilan yang mengesankan dan menarik kepada semua gembala untuk memenuhi tugas dan kewajibannya dan mempertimbangkan prioritas mereka dalam memberitakan injil, memulihkan, mengajar, mendorong dan memberi makan yang semuanya ini merupakan aspek-aspek dari peranan gembala. Bnd. Derek J.Tidball., Teologi Penggembalaan, Malang: Gandum Mas, 1998, hlm. 11
[21] J.L.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Pelayanan Pastoral, Jakarta, BPK-GM, hlm. 50
[22] Sokongan berupa kehadiran dan sapaan yang mendeduhkan dan sikap yang terbuka akan mengurangi penderitaan mereka. Sokongan ini juga dapat membantu mengurangi penderitaan yang begitu memukul. Bnd. Aart Van Beek,, Pendampingan Pastoral , Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 14
[23] J.L.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Pelayanan Pastoral ,Op.Cit, hlm 53
[24] Ibid, hlm. 57
[25] Piet Beintema, Theologia Pastoral Suatu Penghantar, Jakarta: UKSW, 1986, hlm. 14,
[26] Pastoral konsling adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara (pendeta,penginjil dsb) sebagai konselor dengan konselenya (klien, orang yang meminta bimbingan), dalam nama konselormencoba membibimbing konselenya kedalam suatu suasanan percakapan konseling yang ideal (condusive atmosphere) yang memungkinkan konseli itu betul-betul dapat mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, persolanya, kondisi hidupnya dimana ia berada, sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Yakub B.Susabda, Pastoral Konsling Jilid I, Malang: Gandum Mas, 1997, hlm 4
[27] E.P.Gintings, Gembala dan Penggembalaan, Op.Cit, hlm. 2
[28] E.P.Ginting, Gembala dan Konseling Pastoral , Op.Cit, hlm. 42
[29] Ibid, hlm 39
[30] J.L.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Pelayanan Pastoral, Op.Cit, hlm. 98
[31] Bnd. Yakub B.Susabda dan Tim, Pelayanan Konseling Melalui Telepon, Jakarta: People Helpers Ministry Inonesia, 2000, hlm 57-58
[32] Bnd. Charles R. Swindoll., Mantapkan Keyakinan Anda, Surabaya: Yakin, hlm. 151-153
[33] Tp, Op.Cit, hlm. 496
[34] Ilmu jiwa masa tua disebut gerontology yaitu suatu studi secra ilmiah mengenai orang lanjut usia. Kartini Kartono & Dali Gulo, Kamus Psikologi, Bandung: Pionir jaya, 1987, hlm. 190
[35] R.E.M Suling & Pelenkahu SS, Pedoman Praktis Bagi Manusia Usia Lanjut, BPK-GM, Jakarta: 1992: hlm 12. Fase klikmakterium adalah masa dewasa, Senesens artinya usia tua, Senelitas artinya lanjut usia. Jadi penggolongan usia lanjut tidak dapat ditetapkan dengan pasti oleh karena masing-masing individu masa mulai timbulnya gejala-gejala proses menua adalah berbeda.
[36] E.Oswari, Menyongsong Usia Lanjut Dengan Bugar dan Sehat, Sinar Harapan, Jakarta: 1997, hlm. 10
[37] Ibid, hlm. 13
[38] D.L.Baker dan A.A.Sitompul, Kamus Singkat Ibrani Indonesia, Jakarta: BPK-GM, hlm. 24
[39] Willem A.Van Gameran (ed), New Internasional Dictionary Of Old Testament Theology and Exegetis, Vol I, Carliste Cumbria United Kingdom: Patenoster Press, 1997, p. 1134-1135
[40] J.D.Douglas (ed), Ensiklopedi masa kini M-Z, Jakarta: YayasanKomunikasi Bina Kasih, hlm. 493
[41] Gerhard Friedrich (ed), Theological Dictionary of The New Testament, Vol VI, Grand Rapids, Michigan :WMB. Eerdmans Publishing co, 1973. p. 652
[42] Andar Ismail, Selamat Panjang Umur, Jakarta: BPK-GM, 2002, hlm. 99
[43] Charles R. Swindoll, Op.Cit, hlm. 162
[44] E.P.Gintins, Gembala dan Pastoral Klini, Op.Cit, hlm. 27
[45] Andi Mappcare, Op.Cit, hlm. 240
[46] Dari hal inilah kebanyakan orang yang sudah memiliki tanda-tanda demikian mencoba menunakan saleb untuk menghilangkan noda-noda coklat yang timbul dikulitnya karena usia yang menua. Bdk. Herbert van Der Rugt, Op.Cit, hlm. 30
[47] Elisabeth B Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 2004 , hlm. 387
[48] Ibid, hlm 394
[49] Bnd. Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa Muda, Jakarta; Grasindo, 2003, hlm. 44-45
[50] Singgih D. Gunarsa, Op.Cit, hlm. 5
[51] Elisabeth B Hurlock, Op.Cit, hlm. 404
[52] TP, Op.Cit, hlm. 927
[53] E.P.Gintings, Membaca Manusia sebagai Dokumen hidup, Op.Cit, hlm. 15
[54] D.F.Walker, Konkordansi Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 479
[55] Yakub B susabda, Pastoral Konsling Jilid dua, Malang: Gandum Mas: 1996, hlm 33
[56] Singgih D. Gunarsa Op.Cit, hlm. 417
[57] Elisabeth Kubler-Ross, On Death and Dying, New York: Macmillan Co, 1969, hlm. 39
[58] Lukas Tjandra, Pembimbing Pengembalaan, Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1992, hm.117
[59] Lyndon Saputra (ed), Penghantra Psikologi, Batam:Interksara, hlm.413
[60] Andar Ismail, Selamat Berkembang; Spritualitas, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 110
[61] Richard L. Strauss., Bagaimana Memahami Kehendak Allah, Jakarta: BPK-GM, 2002, hlm. 49
[62]E.P.Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penangulanganya, Yokyakarta: Andi,, hlm. 59
[63] Richard L, Morgan, Op.Cit, hlm. 94
[64] Bill Hybels., Terlalu sibuk? Justru Harus Berdoa, Jakarta: Yayasan Bina Kasih/omf, 2992, hlm.61
[65] Andar Ismail, Op.Cit, hlm. 65
[66] D.M.Arman, Penghantar Sederhana Penelitian Pendidikan Praktis, Jakarta: BPK-GM, 1987, hlm. 1989
[67]Tp, Rencana Kerja Panitia 100 tahun GBKP (1890-1990), Kabanjahe, Moderamen GBKP, hlm 5
[68] Wawancara dengan salah seorang pengurus yayasan pelayanan orang tua sejahtra GBKP, Pdt. Musa Sinulingga, S.Th
[69] Bndk. Dok. No:11/BPLS/92, Laporan Panitia Jubelium 100 tahun GBKP untuk BPL Synode tgl 27-30 April 1992, hlm. 30-31
[70] Hasil keputusan rapat panitia menetapkan bahwa nama pelayanan tidak memakai rumah jompo, supaya anggota jemaat tidak alergi untuk mendegarknya, maka diputuskan namanya Yayasan Pealayanan Orang Tua Sejahtra (YAPOS) GBKP.
[71] Bndk. Brosur PPOS tahun 2008
[72] Sebagai contoh nenek Rita br Tarigan dia berada di PPOS ini dikarenakan keinginanya sendiri. Dimana suaminya sudah mininggal dan anak-anaknya tinggal di luar kota sumatera, meskipun anak dari nenek ini mengajak untuk tinggal bersama dia tidak bersedia karena dia lebih senang berkumpul dengan sesamanya orang tua di tempat ini danmenghabiskam masa tuanya untuk kemulian nama Tuhan .Wawancara dengan nenek Rita br Tarigan salah seorang penghuni PPOS tanggal 6 Agustus 2008
[73] Misalnya nenek ndkiet br Karo yang berasal dari desa Merdeka, dia sudah berumur 83 tahun. Dia ditempatkan di PPOS karena keinginan keluarganya yang sudah tidak sempat lagi mengurusnya. Seringkali dia minta pulang kekampungnya untuk bertemu keluarganya, salah satu faktor ia ditemaptkan keluarganya ditempat ini dikarenakan kondisi fisik dan mentalnya yang sudah menurun.
[74] Bndk. Singgih D.Gunarsa, Op.Cit, hlm. 409
[75] Disamping itu gerbang PPOS ditutup atau dikunci, hal ini dikarenakan supaya orang tua lanjut usia tidak bias keluar. Hal ini dikarenakan kondisi fisik mereka yang sangat tidak memungkinkan yaitu rata-rata “pikun” hanya sebahagian kecil saja yang tidak.
[76] Tp, Penerapan Metode Kuantitatif dalam penelitian Gerejawi, Dapertermen Agama RI Direktorat Jendsarl Bibibingan masyrakat Kristen Protestan. Hlm 31
[77] Ibid, hlm. 31
[78] Hal ini dikarenakan yang akan di teliti adalah orang tua lanjut usia yang tidak sanggup lagi untuk membaca.
(Dampak Pelayanan Pastoral Dalam Meningkatkan Tingkat Penyerahan Diri Dan Ketenangan Hidup Terhadap Orangtua Lanjut Usia di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtera GBKP Taman Jubelium Sukamakmur)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas
Dan Memenuhi Syarat-syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Theologia
OLEH :
Bangun Firdaus Sembiring
NIM. 03. 01. 197
SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA ABDI SABDA
JURUSAN THEOLOGIA
MEDAN
2008
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Kehadiran seseorang di tengah-tengah dunia ini pastilah dalam konteks keluarga. Manusia lahir, bertumbuh dewasa, berumah tangga, bahkan sampai masa tuanya selalu berada dan membutuhkan keluarga. Seseorang sebagai individu adalah sekaligus sebagai mahluk sosial. Masa muda adalah masa enerjik yang memungkinkan seseorang untuk berprestasi, memberi banyak hal kepada orang lain. Akan tetapi masa muda akan berlalu dan disusul oleh masa tua, yang mana seseorang akan sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam menjalani hidupnya. Masa tua adalah masa semakin menurunya daya tahan dan kemampuan fisik dan psikis sehingga dia mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi akan orang lain.[1] Dalam menentukan usia tua ada yang mengambil tolak ukur lanjut usia itu dengan keadaan fisik, yakni jika orang merasa tidak kuat lagi bekerja, sakit-sakitan, lekas capek dan sebagainya. Selain itu ada juga yang memakai tolak ukur perubahan status dan peranan dalam keluarga, misalnya bila sudah mempunyai cucu, dianggap sudah tua meskipun sebenarnya hal itu belum bisa dijadikan tolak ukur lanjut usia karena yang menentukan ukuranya adalah usia.
Secara teoritis usia tua dimulai antara 60/65 tahun sampai meninggal dunia.[2] Akan tetapi ketika seseorang memasuki masa tua banyak orang yang belum siap untuk menerimanya. Ini terlihat kebanyakaan orang yang menjadi gelisah ketika mereka berumur 50 tahun, karena di usia ini tanda-tanda usia tua seperti kerut diwajah, rambut yang memutih, gangguan kesehatan dan berkurangnya tenaga menjadikan mereka merasa dirinya tidak seperti dulu lagi. Akan tetapi manusia jauh lebih menyukai kemudaan, karena kemudaan identik dengan menarik.
Sebagai contoh media yang telah mengkontruksi sedemikian rupa bahwa yang menarik mata adalah yang berkulit kencang, yang dimiliki mereka yang muda. Iklan kosmetik dipaparkan sedemikian rupa dalam berbagai produk yang menentang “ketuaan” seperti krim penghilang kriput pada area wajah. Demikian juga ada orang yang menolak kenyataan bahwa mereka sudah memasuki usia tua dengan berpakaian dan bertingkah laku seperti orang muda. Ada pula orang yang menjadi acuh tak acuh pada penampilanya dan menghadapi kenyataan tersebut dengan keluh kesah.
Hal ini terjadi karena usia tua lebih identik dengan stereotip negatif seiring dengan penurunan fungsi fisik dan kognitif misalnya pikun, cerewet, kesepian, menyusahkan orang lain, tidak dapat mandiri, tidak menarik dan sebagaimana menjadi label sehari-hari yang harus diterima orang yang mulai memasuki usia tua. Selain itu beberapa persoalan yang dihadapi oleh orang yang memasuki usia tua adalah karena tidak lagi bekerja meliputi meningkatnya hambatan-hambatan psikis, kurangnya kontak sosial, rasa jemu dan lesu kerja atau tidak aktif.[3] Hal itu sangat tidak disukai bagi orang-orang lanjut usia yang biasa kerja Selain itu keadaan-keadaan tadi menjadi perasaan-perasaan tidak berguna, sudah tidak berarti lagi dalam hidup. Perasaan-perasaan inilah yang sering muncul dikalangan orang tua lanjut usia.
Selain itu di usia tua juga sudah mengerti atau memahami bahwa kematian itu adalah bagian dari kehidupan.[4] Hal ini menujukan bahwa orang tua lanjut usia adalah orang yang rentan terhadap penyakit misalnya badanya menjadi bungkuk, pendengaranya sangat berkurang, pengelihatnya kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Dari hal inilah dibutuhkan perawatan-perawatan yang khusus terhadap orang tua lanjut usia. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam merawat atau menagani orang tua lanjut usia. Secara umum dalam budaya timur, orang tua lanjut usia itu dirawat oleh anggota keluarga seperti anak, cucu, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara dengan penuh kesabaran dan pengorbanan.
Perhatian dan pertolongan keluarga sangatlah dibutuhkan oleh orang tua dalam menjalani masa tuanya. Perhatian dan pertolongan keluarga bukan saja karena orang tua membutuhkannya, melainkan juga karena sudah seharusnya setiap anak atau keluarga harus memperhatikan dan memelihara orang tuanya. Kita mesti menghormati mereka dengan perbuatan kita yaitu dengan tubuh dan milik kita, dengan membantu mereka, menolong serta memelihara mereka pada waktu mereka sudah lanjut usia, sakit, atau miskin (Kel 20:12).
Semua ini kita lakukan bukan hanya dengan senang hati, melainkan juga dengan rendah hati dan penuh hormat sambil menyadari, kita melakukannya di hadapan Allah.[5] Namun bagi mereka yang tidak mempunyai keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasanganya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar. Disitulah pentingnya panti wredha sebagai tempat untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lansia.
Melihat hal ini gereja secara khusus GBKP mendirikan sebuah tempat untuk orang tua lanjut usia yaitu pusat pelayanan orang tua sejahtera (PPOS) di taman jubelium Sukamakmur. Dimana tujuanya adalah agar orang tua lanjut usia mendapat perhatian dalam pelayanan rohani, mendapat teman berbagi rasa supaya di hari-hari tuanya mereka masih dapat menikmati berkat-berkat dari Tuhan dan tidak merasa sebagai orang yang tidak dibutuhkan lagi. Tetapi pada kenyataanya kebanyakaan orang tua lanjut usia tidak seberapa suka di tempakan di PPOS. Ini terlihat ketika mereka ditempatkan di PPOS kebanyakan dari mereka merasa dirinya diabaikan oleh keluarganya, hal ini menyebabkan ketidaktenangan dalam hidupnya karena tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Ada beberapa hal yang diharapkan oleh orang tua lanjut usia, antara lain:[6]
a. Keinginan untuk masih dipedulikan dan diakui sebagai bagian dari lingkungan hidupnya, khusunya dilingkungan keluarga.
b. Mendapatkan dan merasakan hubungan persahabatan yang wajar, mereka butuh teman sebaya untuk berkomunikasi, mengenang masa lalu yang penuh arti, kesempatan berkumpul. Dari lingkungan keluarga dan teman-teman ia mengharapkan memberikan kepada mereka sekedar masa “masih diperhitungkan dan diperhatikan”.
c. Dapat mengisi waktu luang dengan cara-cara yang sesuai dan memuaskan dirinya; misalnya dengan melakukan bakat atau hobinya tanpa diganggu. Mereka perlu kesibukan yang tetap, dalam hal meyalurkan bakatnya dan kegiatan sosial yang tidak terikat.
d. Mendapat pelayanan kesehatan yang cukup (termasuk pengobatan dan perawatan), khusunya mendapat pelayanan dan perawatan tentang penyakit usia lanjut: agar keluhan mereka tidak dianggap sepele.
e. Memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri selaras dengan umurnya, tidak tinggal bersama dengan anak-anaknya.
Dari hal-hal diatas kebanyakan tidak mereka temukan di PPOS, tetapi yang mereka temukan adalah kejenuhan dengan tidak adanya kegiatan dan kesepian sehingga membuat spritualitas mereka juga menurun. Selain itu faktor budaya juga mempengaruhi orang tua lanjut usia tidak bersedia ditempatkan di PPOS. Hal ini dikarenakan dalam budaya Karo orang tua lanjut usia itu adalah orang yang dihormati atau dibanggakan. Dimana dalam setiap acara adat mereka mendapat peranan penting misalnya para lanjut usia dalam masyarakat adat diberi kehormatan dalam musyawarah adat secara proporsional menurut fungsi dan perananya dalam sesuatu secara adat sebagai konsultan atau penasihat dalam permusyawarahan adat[7]. Akan tetapi ketika mereka sudah ditempatkan di PPOS mereka nantinya tidak akan bisa mengunjungi kerabatnya dalam acara-acara adat dan juga memenuhi tanggung jawabnya didalam adat. Dari hal ini budaya juga menuntut bagaimana tanggung jawab anak terhadap orang yang sudah lanjut usia dengan merawatnya bersamanya. Ada berapa faktor orang tua lanjut usia ditempatkan disana yaitu:
- Kesibukan keluarga (tidak ada yang merawat)
- Orang tua lanjut usia sudah sering sakit jadi dibutuhkan perawataan khusus (kolihen).
- Keinginan dari orang tua lanjut usia itu sendiri ingin berkumpul dengan seusianya
Dari hal inilah dibutuhkan pelayanan pastoral[8] terhadap mereka yang membutuhkan orang lain sebagai teman untuk berbagai. Karena di usia ini cenderung di identikan dengan masa-masa yang lemah atau tidak berdaya. Untuk itu dalam melaksanakan pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia ada 5 tipe yang harus dipelajari yaitu:[9]
1. Tipe arif bijaksana
Tipe arif bijaksana memiliki banyak pengalaman mudah menyusaikan diri terhadap perubahan, memiliki kesibukan, ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, berusaha memenuhi undangan-undangan yang sampai kepadanya dan menjadi panutan bagi orang sekitarnya.
2. Tipe mandiri
Tipe mandiri biasanya mengganti kegiatan-kegiatan yang telah berhenti dengan kegiatan-kegitan baru, selektif memilih teman bergaul dan undangan-undangan.
3. Tipe pasrah
Tipe pasrah ialah orang yang menerima dan menunggu nasip baik, ia yakin “bila habis gelap akan datang terang”, rajin beribadah, ingin aktif adalam segala hal dimana saja, ringan langkah kemna saja, pekerjaan apapun dilakukanya.
4. Tipe tidak puas
Tipe tidak puas adalah orang yang mengalami konflik batin melawan proses ketuaan yang membuat kecantikanya pudar (hilang), kehilangan daya tarik badaniah disebabkan kehilangan kekuasaan, jabatan, status teman yang dikasihi, menjadi pemarah, mudah tersingung, sering sifatnya menuntut, sulit dilayani dan tukang kritik
5. Tipe Bingung
Tipe bingung ialah orang yang kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa rendah diri, sering menyesal, pasif dan kurang tertarik akan semua hal.
Dari hal diatas maka bisa dikatakan dengan mengetahui tipe orang tua lanjut usia, akan semakin mudah dalam melaksanakan pelayanan pastoral.
Memasuki usia lanjut adalah hal yang sangat berat, tetapi di usia ini juga yang ditutuntut adalah bagaimana orang tua lanjut usia itu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan (Mazmur 71:17-18). Dalam Alkitab kita menemukan banyak orang yang sudah memasuki usia lanjut tetapi Allah memakainya dalam pelayanan, misalnya Abraham usianya pada saat itu adalah 75 tahun (Kej 12:4). Kita ketahui bahwa di usia itu adalah masa-masa kritis bagi usia hidup. Usia tua dalam kehidupan merupakan waktu yang indah untuk memuliakan Allah dengan membiarkan Roh Kudus menumbuhkan buahNya dalam dirinya yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtra, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasan diri (Gal 5:22,23)[10]. Sebenarnya, masa tua bukanlah masa yang tidak berarti atau masa tidak dapat berbuat apa sama sekali. Dalam masa tua pun, pastilah masih ada hal-hal yang dapat dikembangkan dan diberikan oleh mereka kepada Tuhan.
Semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan semakin memberi diri kepada Tuhan dapat dilakukan oleh para orang tua lanjut usia, baik ketika dia masih berada di tengah-tengah keluarganya, maupun ketika dia sedang berada di PPOS. Dalam mewujudkan hal ini, orang tua memerlukan bantuan dari orang lain (keluarga maupun pengelola PPOS) sehingga mereka semakin termotivasi mendekatkan dan memberi diri kepada Tuhan, mengingat pada masa tua ini para orang tua lanjut usia sering kehilangan semangat hidup.
Dari hal inilah dibutuhkan sebuah pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia supaya semakin mengetahui makna hidup. Dimana dimasa usia tua yang diperlukan adalah bagaimana penyerahan diri terhadap Allah (Maz 62:2). Dengan melihat berbagai hal di atas, maka penulis merasa sangat perlu untuk mengadakan penelitian dan menuliskannya dengan judul: “PELAYANAN PASTORAL TERHADAP ORANG TUA LANJUT USIA”, dengan sub judul: “Dampak Pelayanan Pastoral Dalam Meningkatkan Tingkat Penyerahan Diri dan Ketenangan Hidup Terhadap Orang Tua Lanjut Usia Di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtera GBKP Taman Jubelium Sukamakmur”.
1.2 Identifikasi Masalah
Adanya anggapan usia tua identik dengan stereotip negatif.
Adanya perasaan-perasaan tidak diterima di keluarga dari orang tua lanjut usia yang ditempatkan di PPOS.
Adanya faktor budaya yang mengakibatkan orang tua lanjut usia tidak bersedia ditempatkan di PPOS.
Kurangnya peyerahan diri sehingga menimbulkan ketidaktenangan hidup di kalangan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS.
Kurangnya perhatian keluarga orangtua lanjut usia yang di tempatkan di PPOS
1.3 Pembatasan Masalah
Dari permasalahan yang muncul di atas dan luasnya permasalahan mengenai orang tua lanjut usia maka perlu kiranya dibatasi agar tidak terlalu luas. Dalam hal ini penulis hanya membatasi dalam hal pelayanan pastoral secara khusus kepada orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS dalam meningkatkan tingkat penyerahan diri dan tingkat ketenangan hidup.
1.4 Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah adalah:
Bagaimana pandangan Alkitab mengenai orang tua lanjut usia?
Bagaimanakah gambaran umum orang tua lanjut usia yang tingal di PPOS?
Faktor-faktor apakah yang menyebabkan orang tua lanjut usia ditempatkan di PPOS?
Bagaimana penerimaan dan perasaan orang tua yang di tempatkan di PPOS?
Bagaimanakah tingkat penyerahaan diri dan ketenangan hidup orang tua lanjut usia sebelum dan sesudah mereka ditempatkan di PPOS?
Sejauh manakah pelayanan pastoral meningkatkan penyerahan diri dan ketenangan hidup orang tua lanjut usia ?
1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research) yakni mengumpulkan, mempelajari dan menganalisa buku-buku refrensi yang berhubungan dengan judul. Selain itu penulis memakai penelitian lapangan (Field Research) yaitu mengadakan penelitian pada kalangan orang tua lanjut usia di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) GBKP taman jubelium Sukamakmur. Metode yang penulis lakukan yaitu dengan wawancara/percakapan, dengan tujuan mendapatkan data informasi yang lebih baik.
1.6 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan ini adalah:
Untuk mengetahui apa dan bagaimana orang tua lanjut usia.
Untuk mengetahui pentingnya kehadiran PPOS ditengah-tengah Gereja dan masyarakat
Untuk mengetahui bagaimana keadaan orang tua lanjut usia yang ditempatkan di PPOS.
Untuk mengetahui perasaan-perasaan apa yang muncul terhadap orang tua lanjut usia ketika mereka ditempatkan di PPOS.
Untuk mengetahui bentuk pelayanan pastoral yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Untuk memberdayakan lansia melalui kegiatan-kegiatan yang menambah income
1.7 Manfaat Penulisan
Menambah wawasan penulis bagaimana pelayanan pastoral yang sesuai terhadap orang tua lanjut usia.
Bermanfaat bagi orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS.
Agar jemaat menganggap bahwa pentingnya kehadiran PPOS ditengah-tengah gereja.
Bermanfaat bagi gereja untuk mengetahui pentingnya pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia khusunya yang tinggal di PPOS.
Bermanfaat bagi pelayan yang bekerja di PPOS untuk memberikan pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia.
1.8 Sistematika Penulisan
Adapun yang menjadi sitematika penulisan adalah:
Bab I : Pendahuluan: Latar belakang masalah, Identifikasi masalah, Pembatasan masalah, Perumusan masalah, Metode penulisan, Tujuan penulisan, Manfaat penulisan, dan Sistematika penulisan.
Bab II : Kerangka Teoritis, Kerangka Konseptual dan Hipotesa tentang orang tua lanjut usia .
Bab III : Metode Penelitian dan Gambaran umum penelitian.
Bab. IV : Hasil penelitian, Pembuktian hipotesa dan refleksi teologis.
Bab. V : Kesimpulan dan saran
BAB II
KERANGKA TEORITIS, KONSEPTUAL
DAN HIPOTESA
2.1 Kerangka Teoritis
2.2. Pelayanan Pastoral
2.2.1. Pengertian Pelayanan Pastoral
2.2.1.1 Pengertian pelayanan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pelayanan berasal dari kata “layan” yang berarti membantu, menyiapkan (mengurusi) apa-apa yang diperlukan seseorang. Kata “pelayanan” diartikan orang-orang yang melayani (pembantu:pesuruh).[11] Ini menujukan pelayanan adalah suatu pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain dalam hal membantu orang yang memerlukan. Kata pelayanan berasal dari bahasa yunani yaitu “diakonia” (pelayanan) yang berarti memberi pertolongan atau pelayanan.
Dalam dunia Yunani purba kata “diakonia” biasa dipakai untuk pelayanan di meja makan sebagai pribadi kepada orang lain. Hal ini bisa kita temukan dalam Perjanjian Baru ada beberapa ungkapan dengan arti harafiah “melayani di meja” dengan arti mempersiapkan jamuan makan (Kis 6:2) maupun dalam arti pekerjaan pelayanan meja yang siap melayani para tamu (Luk 12:37; 17:8; Yoh 2:5,9).[12] Dari arti harafiah ini terungkap juga arti melayani sesama secara umum, yaitu sesama yang lebih rendah kedudukanya (Luk 22:26-27). Misalnya mengenai para wanita yang mengikuti Yesus dikatakan mereka melayaniNya dengan harta bendanya (Luk 8:3) demikian juga dalam Matius 25:31-46 melukiskan pelayanan sebagai memberi makan dan minum, memberi pakaian dan tumpangan, perawatan dan kunjungan orang sakit serta para tahanan yang dilihat sebagai pelayanan bagi Tuhan Allah.[13]
Pada saat sekarang ini pelayanan itu memang lebih dari pada perawatan orang yang memerlukan bantuan saja. Seperti rasul Paulus yang pelayanan mereka meliputi berkhotbah, mengajar, mengembalakan, memimpin jemaat, mengadakan kunjungan, mengumpulkan kolekte, dan menghantar uang kepada saudara-saudara yang ada di Yerusalem yang juga disebut diakonia (2 Kor 8:19; Rom 15:25). Ini menujukan bahwa pelayanan merupakan bentuk nyata sesuai kata (firman yang diberitakan), dengan perbuatan nyata yaitu untuk mendemostrasikan kasih. [14] Dari hal ini dapat dilihat bahwa pelayanan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen. Dimana setiap orang Kristen harus melakukanya karena kita telah dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus yang terlebih dahulu memberi pelayanan kepada manusia.
2.2.1.2. Pengertian Pastoral
Kata Pastoral berasal dari bahasa latin yaitu “pastor” yang berarti gembala. Didalam Perjanjian Lama kata yang digunakan adalah ( ra`ah) dari bahasa ibrani. Kata ini digunakan 173 kali untuk menggambarkan tindakan memberi makan kepada domba-domba seperti dalam Kej 29:7 dan juga sehubungan dengan manusia seperti dalam Yeremia 3:15 “Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hatiku, mereka akan mengembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. Dalam Perjanjian Baru istilah yang dipakai adalah poimhn (Poimen) dari bahasa Yunani yang diterjemahkan dengan arti gembala. Oleh sebab itu pengembalaan dapat juga disebut “poimenika” atau “pastoralia”[15] Kata ini digunakan 18 kali dalam PB misalnya Ef 4:11 “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.
Selain itu dalam Yohanes 10:11 Yesus juga menyebut dirinya sebagai gembala yang baik. Demikian juga dalam Yoh 10:11 “gembala yang baik adalah gembala yang rela menerikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yesus Kristus). Menurut Aart van Beek mengatakan bahwa:
“Pastoral adalah kata sifat dari pastor yang artinya bersifat gembala, yang bersedia merawat, memelihara, melindungi dan menolong orang lain. Bahkan seorang pastor dalam pastoral harus merasakan tugas tersebut merupakan tugas yang harus ia lakukan sebab hal itu adalah tanggung jawab dan kewajibanya”.[16]
Ini menujukan bahwa pastoral itu adalah pengembalaan. Lebih lanjut J.L.Ch.Abineno Mengatakan bahwa:
“Pengembalaan merupakan percakapan dialogis antara pendeta sebgai gembala dan warga jemaat sebgai domba-domba. Percakapan dialogis itu tetap dalam suasana kasih kebebasan dan kebersamaan. Sehingga pastoral konseling adalah proses yang berusaha untuk menyelesaikan masalah atau persoalan melainkan relasi antara pendeta sebagai gembala dengan warga jemaat ”.[17]
Sedangkan M.Bonsstrom dalam bukunya, Apakah Pengembalaan Itu mejelaskan bahwa pengembalaan adalah :
a. Mencari dan mengunjungi anggota jemaat satu-persatu
b. Mengabarkan firman Allah kepada jemaat ditengah situasi hidup mereka pribadi
c. Melayani jemaat sama seperti bila Yesus melayani mereka
d. Supaya mereka lebih menyadari iman mereka dan dapat mewujudkan iman itu dalam hidupnya sehari-hari.[18]
Berdasarkan pandangan dan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembalaan itu berarti menjalankan proses percakapan (komunikasi ) dan hubungan antara gembala (konselor) dengan jemaat (konseli) untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi oleh anggota jemaat dalam hidupnya.
Hal kebersamaan dalam proses pengembalaan bukan berarti menghilangkan fungsi gembala sebagai pembimbing, penuntun dan pemelihara.[19] Tetapi melalui kebersamaan dalam proses pengembalaan tersebut justru memudahkan tugas gembala karena permasalahan jemaat dapat diutarakan secara terbuka dan menyeluruh. Dengan demikian berarti seorang gembala harus tetap memperhatikan domba-dombanya secara terus menerus dan mengetahui kebutuhan domba-dombanyanya baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Jadi pengembalaan itu dilakukan dalam pandangan perhatian Allah terhadap umanNya, yang berarti berkomunikasi dengan Allah dan bermanfaat untuk mempengaruhi segala aspek hidup manusia seutuhnya. sebabAllah juga digambar sebagai gembala (Yeh 34).[20] Jadi hal mengembalakan tersebut merupakan kepedulian ataupun penghiburan terhadap jemaat yang berduka, yang memiliki pergumulan berat dalam hidupnya (orang tua lanjut usia dengan segala permasalahanya) sama seperti Allah yang memperdulikan umatnya.
2.2.2. Fungsi Pelayanan Pastoral
Dalam hal fungsi pelayanan pastoral tidak sama dengan tugas atau maksud pelayanan pastoral. Fungsi pelayanan pastoral adalah apa yang pelayanan pastoral benar-benar secara nyata , kerjakaan atau hasilkan. Ada 4 fungsi pelayanan pastoral yaitu:
Menyembuhkan manusia seutuhnya
Fungsi pelayanan pastoral sebagai penyembuh sejak lama sudah ada. Ini terlihat ketika Yesus hadir di dunia ini dan memulai pekerjaanya. Dalam Perjanjian Baru pekerjaan penyembuhan Yesus dirumuskan dengan rupa-rupa istilah Yunani “therapeuo” (Mat 4:23; 8:7; Luk 4:23) “Iaomai” (Mat 8:8), “my giano” (Yoh 5:4-15; Kis 4:10) “katharzo” (Mat 8:28; 10:8; 4:9; Luk 4:27; 17:14-17), “soizo” (Mat 9:21; Mrk 10:52; Luk 17:19) dan “apolyo” (Luk 13:11) yang diterjemahkan dengan menyembuhkan, melenyapkan penyakit, membuat orang menjadi sehat, mentahirkan dan menyelamatkan. Dari nats-nats di atas nyata bahwa pekerjaan penyembuhan Yesus mencakup baik penyakit-penyakit jasmaniah (orang-orang yang buta, orang-orang yang tuli, orang-orang yang lumpuh Dll) maupun penyakit-penyakit rohaniah orang-orang yang dirasuk roh jahat. Dalam pekerjaan ini yang Yesus lakukan dengan perkataan dan perbuatan penyembuhan erat dihubungkan dengan pengampunan.[21]
Dalam kaitan ini pelayanan pastoral sebagai penyembuh disini berarti segala bentuk pelayanan yang menyakut kesembuhan, kebahagian dan kesehjahtraan manusia. Seseorang dapat sembuh jika dia dapat hidup dengan sembuh dalam hubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang-orang lain disekitarnya.
Membantu orang yang kita layani dalam pastoral
Pelayanan pastoral dalam membantu dimaksudkan mengadakan hubungan dengan orang lain yang biasanya berada dalam keadaan menderita. Penderitaan yang dimaksudkan adalah apabila seseorang yang tiba-tiba mengalami krisis mendalam (kehilangan , kematian orang yang dikasihi, dukacita dll). Dalam hal inilah fungsi pelayanan pastoral sebagai membantu melakukan pendampingan terhadap mereka yang membutuhkan.[22]
Dari hal ini maka maka akan sedikit meredakan persoalan-persoalan kehidupan mereka , ada beberapa cara kita dalam memberikan pelayanan pastoral terhadap mereka yang menghadapi persolan demikian yaitu:[23]
Berusahalah membantu mereka dengan perkataan dan perbuatan supaya pergumulan, penderitaan mereka tidak bertambah berat.
Berusahalah menghibur dan menguatkan mereka, kalau mereka terbuka untuk bantuan itu.
Berusahalah memobilisasi dan menyusun kembali tenaga-tenaga mereka yang masih ada, supaya mereka dapat menghadapi persoalan-persoalannya.
Berusahalah membantu mereka supaya mereka dapat memulai lagi suatu hidup yang baru dalam situasi baru, dimana mereka sekarang berada.
Menuntun orang yang kita layani dalam pastoral
Pelayanan pastoral atau pengembalaan adalah suatu proses yang panjang. Proses ini dapat kita umpamakan dengan suatu jalan yang harus ditempuh oleh anggota jemaat yang kita layani, tetapi jalan ini biasanya tidak lurus dan tidak licin, kadang-kadang malahan berliku-liku. Karena itu anggota jemaat tadi tidak dapat menempunya seorang diri, ia membutuhkan kawan yang menuntunya.[24] Dari hal ini seorang pastor/pendeta ditutuntun supaya bisaa menuntun setiap orang yang memerlukan.
Mendamaikan orang dalam pelayanan pastoral
Fungsi terakhir dari pelayanan pastoral adalah mendamaikan. Dari segi mendamaikan ini dimaksudkan agar orang lain yang telah menjauhi diri sendiri atau menjahui orang lain ataupun menjahui Tuhan akan mengalami keyakinan baru, penerimaan, pengampunan lalu dengan demikian belajar hidup dalam hubungan baru dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan Tuhan.[25] Fungsi ni menujukan bahwa didalam melakukan pelayanan pastoral seorang pastor/pendeta mampu mendamaikan orang yang memiliki permasalahan.
Secara umum fungsi pelayanan pastoral yang sesunguhnya adalah menyembuhkan. Tetapi dalam kaitan pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS fungsi yang diambil adalalah membantu orang yang kita layanai dalam pastoral. Hal ini dikarenakan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS adalah orang-orang yang sangat membutuhkan perhatian yang khusus ditambah lagi mereka mengalami permasalahan-permasalahan yang sangat berat di usia mereka yang sudah tua. Permasalahan-permasalahan itu adalah menyakut masa lalu mereka, baik dalam hal keluarga mereka atau kesalahan-kesalahan mereka dimasa yang lalu. Dalam hal ini pelayanan pastoral dapat membantu mereka keluar dari hal-hal tersebut supaya di usianya yang sudah tua yaitu tahap akhir mereka bisa hidup tenang di akhir hidup mereka. Disaat itulah pelayanan pastoral berfungsi dalam membantu mereka tentu saja dapat menyembuhkan mereka.
2.2.3. Bentuk Pelayanan Pastoral
Dalam pelayanan pastoral ada beberapa bentuk yang dikenal. Secara umum bentuknya adalah percakapan. Dalam kaitan ini percakapan yang dimaksudkan adalah percakapan pastoral yaitu antara pendeta/gembala dan anggota jemaat yang ia gembalakan dan sering disebut pastoral konsling.[26] Ada beberapa bentuk pelayanan pastoral yaitu percakapan pastoral, kunjungan rumah tangga , pelayanan yang meliputi pelayanan pastoral lewat surat dan telepon.
2.2.3.1. Percakapan Pastoral
Bentuk pelayanan pastoral dalam hal percakapan yang dimaksudkan disini adalah bagaimana seorang pendeta/gembalaa membimbing anggota jemaatnya. Dalam percakapan pastoral ini sering disebut konsling pastoral. Dimana konseling pastoral berbeda dengan pastoral care (pengembalaan umunya, Zeelzorg, Seelsorge, Pastoral work), yang secara umum pastor/pendeta mengunjungi anggota jemaatnya.[27] Dimana dalam konseling pastoral, sianggota jemaatlah yang datang kepada gembala atau pendeta karena sesuatu yang tertentu, misalnya: kesusahan hati yang normal atau keruwetan jiwa yang tidak diketahui apa penyebabnya. Dari hal inilah terjadi sebuah percakapan pastoral.
Dalam percakapan tersebut kita menyadari konsep triologi sehingga kita hanya sebagai alat Tuhan. Sebab dalam pelayanan tersebut Allah sendiri menjadi subjek (bnd Mat 10, Mrk 6) dan roh Allah yang memimpin percakapan percakapan tersebut (Mat 10:19,20; Luk 12:11,12).[28] Karena tugas pengembalaan adalah tugas yang berat dan perlu tanggung jawab yang tidak dapat kita lakukan dengan kekuatan serta kemampuan kita sendiri. Oleh sebab itu tugas pengembalan harus dilakukan didalam doa dan meminta pertolongan Tuhan.
2.2.3.2. Perkunjungan Rumah Tangga
Pelayanan pastoral dengan perkunjungan rumah tangga adalah pertama-tama pelayanan gerejawi. Dimana yang melakukan pelayanan ini adalah penatua-penatua dan diaken. Begitu juga dengan pendeta tetapi pada umunya yang sering melaksanakan tugas ini adalah pendeta sebagai gembala. Perkunjungan rumah tangga ialah perkunjungan para pengembala kerumah-rumah anggota atau yang sering disebut perkunjungan keluarga. Perinsipnya adalah jauh lebih perlu perkunjungan seseorang pendeta kerumah anggotanya dari pada kedatangan anggota kerumah pendeta atau gereja.
Dalam perkunjungan rumah tangga yang perlu di tanyakan adalah bagaimana tentang kesehatannya, hasil-hasil kerjanya, tentang musim hujan/kemarau, tentang pekerjaan atau lain-lain. Seturut dengan kedaan umum kehidupan orang itu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bertujuan agar ia mengetahui bahwa kita memerlukan keadaanya, menujukan kita peduli tentang dia. Namun kita tidak bisa berhenti dalam soal-soal tersebut karena hal itu bukanlah tujuan kita dalam perkunjungan rumah tangga.[29] Dimana tujuan dari perkunjungan rumah tangga ini adalah memimpin orang itu lebih dekat kepada Tuhan.
2.2.3.3. Pelayanan
2.2.3.3.1. Pelayanan Pastoral Dengan Surat
Pelayanan pastoral lewat surat adalah sebuah pelayanan yang cukup lama dikenal. ini terlihat sejak masa rasul Paulus melayani dia mengunakan surat sebagai alat untuk mengabarkan injil. Demikian juga ketika dia dipenjara masih mengunakan surat sebagai alat untuk melakasanakan pelayanan pastoral. Ini berati dalam pelayanan pastoral juga surat bisa digunakan.
Disamping itu kita juga tahu, bahwa surat sangat “hidup” sifatnya dan sangat terikat pada orang yang menulis dan menerimanya.[30] Karena itu kita tidak boleh heran bahwa surat sangatlah baik digunakan dalam pelayanan pastoral
2.2.3.3.2. Pelayanan Pastoral Dengan Telepon
Pada saat sekarang ini telepon merupakan salah satu alat komunikasi yang paling penting. Dimana jika seseorang berada dalam dalam kesusahan atau kesulitan, ia dengan segera dapat mengunakan telepon untuk menghubungi alamat yang ia butuhkan dan ia akan sangat kecewa, jika ia tidak mendapat jawaban. Untuk menghindari atau mengurangi kecewa anggota jemaat, baiklah pendeta/gembala mengusahakan supaya pada jam-jam yang sudah ditentukan untuk menerima telepon. Tetapi perlu diketahui dalam melaksanakan pelayana pastoral lewat telepon ada beberpa hal yang perlu diperhatikan yaitu:[31]
Konselor harus menyadari akan keterbatasan pelayan dengan telepon, bahkan keterbatasannya sebagai konselor (apapun juga latar belakang pendidikanya). Dalam kasus-kasus yang tidak mungkin ditanganinya sendiri, konselor harus siap bekerja sama dengan orang-orang yang lebih tepat, misalnya dokter, psikolog, pendeta, psikiater, pekerja sosial, polisi dsb. Untuk maksud itu, konselor dalam pelayanan konseling melalui telepon, dianjurkan untuk mempunyai daftar referensi (rujukan yang siap pakai, termaksuk nama alamat dan nomor telepon).
Didalam hal menjaga kerahasian, konselor tetap bisa menyampaikan kepada orang lain jikalau:
o Klien mengijinkan
o Klien dalam kondisi yang sangat berbahaya, misalnya klien akan bunuh diri dan sebagainya.
Dari beberapa bentuk diatas, bentuk percakapan pastoral adalah yang paling tepat bagi kalangan orang tua lanjut usia secara khusus bagi mereka yang tinggal di penitipan orang tua lanjut usia seperti PPOS. Hal ini dikarenakan di usia mereka yang sudah tua dan kondisi fisiknya sangat menurun, maka mereka membutuhkan teman untuk bercerita setiap permasalahan-permasalalahan hidupnya baik tentang keluarganya ataupun kehidupan pribadinya. Selain itu tinggal di tempat penitipan orang tua adalah sesuatu hal yang sangat menyakitkan bagi mereka. Ini disebabkan karena di tempat ini mereka kesepian dan jauh dari keluarga mereka dan bisa saja hal ini menyebabkan adanya kemarahaan dari orang tua lanjut usia yang tinggal di tempat penitipaan orang tua lanjut usia. Dari hal inilah bentuk pelayanan pastoral yaitu percakapaan sangat mereka butuhkan supaya orang tua lanjut usia yang tinggal di tempat seperti ini yang mempunyai luka batin dapat sembuh dan memperoleh kebahagiaan dihari tua mereka.
2.2.4. Pentingnya Pelayanan Pastoral Terhadap Orangtua Lanjut Usia
Menjadi orang lanjut usia adalah hal yang tidak bisa dielakan jika orang berumur panjang. Tetapi kebanyakan orang yang berusia lanjut ingin mengelakan hal tersebut. Hal ini di karenakan di usia lanjut banyak mengalami penurunan kondisi fisik. Dalam arti orang tua lanjut usia adalah orang-orang yang mulai banyak mengalami ganguan penyakit di seluruh tubuhnya. Misalnya ketidakberdayaan dalam bekerja, tidak memiliki pendengaran yang baik, sudah bungkuk dan lain sebagainya. Dari hal ini tidak jarang orang untuk menolok yang namanya usia tua. Kebanyakan apabila seseorang memasuki usia perasaan-persaan yang sering muncul adalah:[32]
Rasa tak berguna
Dalam hal ini sering sekali orang tua yang sudah lanjut usia mengatakan “aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi”......”aku hanya merepotkan orang lain saja”, pikiran-piran seperti ini sering muncul dari mereka yang tadinya pintar dan penuh semangat. Tidak jarang terjadi bagaimana orang yang dulunya memegang peranan yang sangat penting dalam hidup ini lalu merasa paling tidak berguna begitu usia lanjut menjelang, sehingga mereka mengubur prestasi masa lampau.
Rasa bersalah
Perasaan bersalah muncul dari kalangan orang tua lanjut usia yang merasa tidak puas akan kehidupanya di masa yang lalu. orang seperti ini sering merasa tidak berguna dengan mengatakan “ kalau saja aku mendapat kesempatan lagi aku akan...”
Rasa kasihan pada diri sendiri
Ada satu sikap lagi yang suka menggangu orang lanjut usia, yakni rasa kasihan pada diri sendiri. Gejalanya yaitu dia mengatakan “betapa malangnya aku ini”, tidak ada yang peduli apakah aku hidup atau mati”. Rasa kasihan pada diri sendiri menghubungkan kutub-kutub rasa bersalah dan kepahitan.
Rasa takut
Dibandikan dengan sikap-sikap yang lain, mungkin persaan takut ini lebih sering muncul pada orang lanjut usia. Takut akan keadaan keuangan, takut kehilangan kesehatan atau akal, pasangan maupun teman.
Dari hal diatas bisa dilihat bahwa orang tua lanjut usia adalah orang-orang yang memiliki banyak pergumulan yang sangat berat dan juga perlu mendapat perhatian. Perhatian yang mereka butuhkan yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Perhatian secara rohani mereka dapatkan melalui pelayanan pastoral. Dari hal inilah peran gembala (pendeta, penatua/diaken dan anggota jemaat yang di bina untuk hal ini) untuk memberikan pendapingan pastoral kepada mereka orang tua lanjut usia. Supaya mereka mampu memahami bahwa usia lanjut adalah berkat/pemberian dari Tuhan yang tidak semua orang dapat menerimanya.
Secara umum ada beberapa hal pentingnya pelayanan pastoral kepada orang tua lanjut usia yaitu bahwa dengan pelayanan pastoral orang tua lanjut usia dapat memahami bahwa usia lanjut adalah bagian dari rancangan Tuhan. Karena sering sekali seseorang yang sudah lanjut usia bersungut-sungut, tidak mau menerima usia tua dan marah kepada Tuhan dengan mengatakan “kenapa aku menderita begini lebih baik engaku panggil saja aku”. Dari hal ini gembala yang akan menjalankan pelayanan pastoral membina orang tua lanjut usia dengan mengatakan usia lanjut bukanlah penderitaan tetapi suatu rencana yang indah. Selain itu pentingnya pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia adalah untuk membantu mereka mempersiapkan ke kehidupan yang terakhir yaitu kematian. Sering sekali orang tua lanjut usia di usianya yang sudah tua belum siap menghadapi kematian bahkan ada juga yang sudah tua memiliki luka batin terhadap keluarganya atau orang lain. Dari hal inilah pelayanan pastoral sangat mereka butuhkan.
2.3. Orang Tua Lanjut Usia
2.3.1. Pengertian Lanjut Usia
Menurut KBBI lanjut usia berasal dari kata lanjut dan usia. Lanjut berarti tua, berumur, atau memiliki usia yang panjang.[33] Di usia ini sering disebut masa kematangan integritas ego yang dimulai umur 55-65 (70) tahun. Manusia dalam masa ini mulai mengintegrasikan semua perasaan, kejadian dan pengalaman yang ia pelajari.[34] Proses menjadi tua sampai saat ini belum begitu dimengerti dengan baik oleh kalangan medis mapun awam. Ada suatu pembagian dalam fase hidup yang dapat dipakai sebagai pegangan, yaitu pada umumnya:[35]
· Klimakterium terjadi antara 40-50 tahun
· Senesens terjadi antara 50-60 tahun
· Senilitas terjadi antara 60-80 tahun
Pengertian lanjut usia sebaiknya tidak saja dititik beratkan dari umur seseorang. Sebenarnya semua yang ada di dunia ini akan menjadi tua baik benda mati maupun sebagai benda hidup. Seseorang yang sudah berumur 60 tahun, sering dikatakan sudah lanjut usia. Sebenarnya batasan demikian tidak sepenuhnya tepat, karena untuk menentukan seseorang tergolong lansia tidak ditentukan oleh faktor umur saja, tetapi masih perlu diperhatikan faktor kesehatan tubuh, faktor psikologis, faktor sosial dan lingkungan yang didiami seseorang.[36]
Hal ini dikarenakan pada kenyataanya terdapat bermacam-macam umur dalam kehidupan manusia yang dapat mengalami penyakit tua. Ada orang yang pada umur 50-60 tahun menderita penyakit senilitas yang artinya penyakit ketuaan. Sebaliknya ada orang yang berusia 80 tahun masih produktif dan aktif.[37]
Dalam tulisan ini lanjut usia yang dimaksudkan adalah orang-orang yang sudah memiliki usia 60 tahun keatas ditandai dengan kondisi fisiknya yang menurun.
2.3.2. Pandangan Alkitab Tentang Lanjut Usia
Didalam Perjanjian Lama istilah yang menujuk pada “tua” adalah (Zaqen)[38] yang artinya orang yang tua, penatua. Dimana artinya adalah seseorang yang berjangut, sebagai tanda kedewasaan secara umum. Kata zagen biasanya digunakan untuk menujuk pada usia tua (kej 18:12; 19:31) dan juga sebgai suatu istilah untuk menujuk kepada seseorang yang dituakan.[39] Sesorang yang tua adalah sebagai gambaran dari orang yang memiliki banyak pengalaman (ul 32:7), sehingga mempunyai kemampuan untuk memberikan pandangan-pandangan yang bijak dalam masalah-masalah politis (1 raja-raja 12:6-8) karenanya, seseorang yang tua memiliki syarat terbaik untuk menduduki jabatan tua-tua.
Pada bangsa Israel kebanyakaan kekuasaan diberikan kepada orang-orang yang berdasarkan usia tua. Ini disebabkan karena pada usia ini sudah dianggap banyak memiliki pengalaman dan dianggap layak untuk memerintah. Dalam kitab Pentateukh disinggung adanya tua-tua orang mesir (Kej 50:7), orang Moab dan Midian (Bil 22:7), maupun tua-tua Israel. Dalam Keluaran 3:16 bangsa Israel dilukiskan mempunyai tua-tua sejak zaman pembangunan di Mesir dan Musa diperintahkan untuk bekerja sama dengan mereka dalam upaya memperoleh kebebasan.[40] Mula-mula para tua-tua itu mungkin kepala-kepala keluarga, tapi Kel 24:1 menceritakan jumlah yang tetap, yaitu 70 orang. Kepada kalangan ke 70 tua-tua ini dicurahkan Roh Tuhan dengan maksud supaya mereka turut bersama Musa memerintah umat Israel (bil 11:25). Dari hal ini nampak jelas bahwa para tua-tua itua adalah orang yang mendapat peran yang baik dimasyarak atau dia sebagai orang yang dihormati.
Dalam Perjanjian Baru kata yang digunakan untuk menujuk manusia yang sudah lanjut usia adalah Presbuterz (presbuteros). Kata “presbuteros” umunya dipergunakan untuk menujuk kepada usia seseorang yang sudah tua diatas 50 tahun. Namun kata ini juga mempunyai arti ganda, yaitu menujuk pada usia dan juga pada gelar atau jabatan. Dalam PB gambaran lanjut usia digambarkan sebagai orang-orang yang harus dihormati dan mereka juga harus memberi teladan kepada yang muda ( 1 Tim 5:1, 4; Ef 3:20 dan Tit 2:1-3).[41]
Didalam alkitab mengatakan bahwa usia lanjut sebagai berkat pemberian Tuhan “ Takut akan Tuhan memperpanjang umur, tetapi tahun tahun-tahun orang fasik diperpendek (Amsl 10:27), Rambut putih adalah mahkota yang indah yang didapat pada jalan kebenaran. (Amsl 16:31). Selain itu di dalam Alkitab juga kita menemukan bagaimana ciri-ciri orang yang sudah lanjut usia dimana dikatakan, penglihatan menjadi kabur (Kej 48:10), panca indra melemah (2 sam 19:35), kekuatan tubuh berkurang (Mzm 71:9), kedua kaki terasa sakit (1 raja-raja 15:23), badanya selalu kedinginan (1Raj 1:1).
Alkitab juga mengakui bahwa dalam usia lanjut orang dapat berkembang ke dua arah, yaitu jahat atau baik. Raja salomo pada masa mudanya terkenal bijak, tetapi ketika ia sudah tua ia malah berbalik “ sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondong hatinya kepada allah-allah lain sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, allanya seperti Daud, ayahnya. (1 Raja 11:4). Sebaliknya di dalam alkitab kita juga menemukan tentang banyak orang lanjut usia yang bijak misalnya: Nabi Elia, dalam usia lanjut ia mendapat 3 printah dari Tuhan yaitu: mencari pengganti raja Siria, pengganti raja israel dan pengganti untuk dirinya sendiri sebagai nabi. Dari ketiga printah itu, maka perintah terakhirlah terlebih dahulu dilakukanya. Itu pertanda bahwa ia takut akan Tuhan dan tidak takut kehilangan kedudukanya ( 1 Raja 2:1-18).[42]
Hana (Luk 2:36-40), seorang janda yang berumur 84 tahun. Ia telah tua namun tidak pernah berhenti berharap. Umur dapat menggeroti kecantikan dan kekuatan tubuh kita; dan lebih buruk waktu dapat memeggeroti kehidupan kita sehingga pengharapan yang pernah menggahirahkan kita menjadi mati, dan hidup kita menjadi membosankan dan menerima saja apa adanya. Seperti halnya Hana yang sudah lanjut usia, ia tidak pernah meninggalkan Tuhan malahan ia makin mempererat hubungannya dengan Allah, dengan cara: ia tidak pernah berhenti untuk beribadah. Ia menghabiskan waktunya dalam rumah Allah bersama umat Allah dan ia tidak henti-hentinya berdoa. Oleh sebab itu tahun-tahun berlalu tanpa perasaan sedih dan harapanya tidak tergoyahkan, karena setiap hari ia berhubungan dengan Allah, sumber kekuatan.
Kaleb (Yosua 14:7-12), seseorang yang berusia 85 tahun. Walaupun umurnya lanjut namun ia masih memiliki semangat yang tinggi untuk hidup.[43] Ia masih mampu dan memenuhi syarat untuk dapat berperang maupun memberi nasihat, mengunakan senjata maupun akalnya. Ini berarti bahwa ia tidak memunculkan perasaan-perasaan yang negatif (rasa bersalah, takut) tetapi ia meras tetap kuat.
Dari hal diatas maka bisa dikatakan bahwa usia tua didalam Alkitab adalah usia yang mendapat peranan penting. Dimana di usia ini orang tua itu dianggap sebagai orang yang selalu memberikan nasihat kepada orang yang lebih muda. Demikian juga sebalikinya orang yang muda harus menghormati orang yang sudah lanjut usia.
2.3.3. Pandangan Psikologi Tentang Lanjut Usia
Sejak dilahirkan, manusia secara bertahap mengalami pertumbuhan dan perubahan yang menuju kepada kedewasaan dan keberfungsian. Perubahan-perubahan ini bersifat evolusionar dan sesuai dengan hukum dan kodrat manusia. Menurut Erickson ada 8 tahap perkembangan manusia, dimana setiap tahap itu berbeda dan reaksi itu adalah normal artinya tidak ada situasi stasis karena jika statis berarti abnormal.[44]
1. Anak berumur 0-1 tahun
Tahap ini adalah masa oral, anak mau makan dan minum secara oral. Alat sensorinya belum berfungsi (sensoris artinya ia merasakan lingkunganya). Ia belum mampu mensensor atau menseleksi linkungan, belum tahu warna lingkungan.
2. Masa anak analmaskulator (umur 2-3 tahun)
Periode ini masa mengerakan badanya sendiri, otot-otonya sendiri, dalam periode sebelumnya hanya “air susu ibu” yang egitu dekat kepadanya. Akan tetapi pada masa ini ia mulai dekat dengan lingkungan lain. Ia akan mencoba secara kreatif bereaksi dengan lingkunganya.
3. Masa Genital – Lokomotor (umur 3-4 tahun)
Masa ini adalah tahap untuk bermain dengan orang lain, bermain bersama. Anak mulai belajar inisiatif dan akan terjadi intraksi sosial misalnya bermain bola dan sebagainya.
4. Masa sekolah (umur 6-11 tahun)
Jika dalam tahap sebelumnya bayi bersimbiose, sekarang ia mulai memiliki kesadaran akan adanya orang lain, maka dalam tahap ini anak belajar bahwa dunia ini lebih besar dari keluarganya sendiri. Ia masuk sekolah untuk mendapatkan pendidikan yang tidak dia daptkan di keluarga.
5. Masa Adolesensi (masa remaja umur 12-17 tahun)
Tahap ini adalah masa yang sulit sekali, dimana mereka mersa terasing didunia ini. Identitas mereka tidak cocok dengan harapan manusia pada umumnya. Mereka pada usia ini sedang mencari identitas sendiri.
6. Masa dewasa Muda (umur 18-25 tahun)
Ini adalah priode keintiman atau kekompakaan, dimana priode ini mencoba bergaul akrab sebelum mereka menikah nanti. Menurut erickson kalau tidak mampu tidak mampu berelasi intim dengan satu orang tentu tidak mungkin ia berelasi dengan banyak orang.
7. Masa dewasa (umur 25 atau 30-65 tahun)
Dalam tahap ini terdapat kreatifitas yang positif, tetapi aspek negatifnya ialah hampa bila tidak ada inisiatif. Polaritasnya ialah mereka “berintegrasi” atau sebaliknya negatif adakesulitan keluarga (kasus-kasus keluarga)
8.Masa kematangan integritas ego
Pada tahap ini manusia mulai mengintegrasikan semua perasaan , kejadiaan, pengalaman yang ia belajar. Pintu bereaksinya ialah produktifitas berhenti dan ia memiliki integritas ego, memasuki masa tua dengan ceria atau polaritas negatifnya belum siap untuk pensiun.
Dari hal diatas tahap terakhir pada rentan kehidupan manusia yang berkisar antara usia 60 thn sampai akhir kehidupan sering disebut sebagai usia lanjut.[45] Pada usia lanjut ini manusia tidak lagi mengalami evolusionar, biasanya pria atau wanita lanjut usia akan mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran ke tahap sebelumnya. Kemunduran ini dikenal dengan istilah “menua”. Hal ini mempengaruhi baik secara fisik maupun psikologis atau mental.
Kemunduran fisik yang dialami lanjut usia ini lebih disebabkan oleh beberapa faktor fisik seperti sel-sel tubuh yang semakin kurang berfungsi dengan baik. Kemunduran psikologis yang dialami lanjut usia lebih disebabkan oleh penerimaan akan situasinya pada saat ini, relasi dan pandangan terhadap orang lain, pekerjaan dan situasi lainnya yang dapat mempengaruhi fisik, mental, dan sosial.
2.3.3.1. Perubahan Fisik bagi Usia Lanjut
Sebagian besar perubahan kondisi fisik yang terjadi pada usia lanjut terjadi kearah yang memburuk. Proses dan kecepatannya sangat berbeda untuk masing-masing individu walaupun mereka berada pada usia yang sama. Selain itu juga pada bagian-bagian tubuh yang berbeda pada individu yang sama terjadi proses dan kecepatan, kerusakan yang bervariasi. Misalnya organ reproduksi lebih cepat usang daripada organ lain.
Perubahan yang paling jelas dapat dilihat pada usia lanjut adalah pada penampilan luarnya, terutama pada wajah dan pengenduran pada kulit.[46] Meskipun ada usaha yang dilakukan untuk menutupi tanda ketuaan ini tapi selalu banyak aspek yang tidak dapat tertutupi, misalnya saja pada bagian tangan. Sama seperti wajah pengenduran kulit pada bagian tangan sering kali kelihatan lebih cepat berubah seiring bertambahnya usia.
Selain perubahan pada penampilan luar bagian dalam tubuh individu yang mengalami perubahan walaupun tidak dapat terlihat dengan jelas namun perubahan pada bagian dalam tubuh jelas terjadi dan menyebar keseluruh oragan tubuh.
Perubahan ini terutama terjadi pada sistem syaraf dan isi perut. Perubahan pada sistem syaraf terutama terjadi pada sistem syaraf pusat. Ini diketahui dari menurutnya kecepatan individu dalam menangkap suatu informasi dan memprosesnya (kemampuan intelektual). Isi perut (viscera) mengalami perhentian pertumbuhan yang ditandai dari menurutnya fungsi limpa, hati, alat reproduksi, jantung, paru-paru, pankreas dan ginjal. Perubahan pada fungsi oragan ini kan berakibat pada banyak hal seperti memburuknya sistem pengaturan temperatur badan, kesulitan dalam bernafas, penurunan dalam jumlah waktu tidur, perubahan pencernaan, dan menurunnya ketahanan dan kemapuan dalam kerja.[47]
Perubahan pada fungsi inderawi usia lanjut juga sangat jelas dapat terlihat. Pada usia lanjut fungsi organ penginderaan yang meliputi penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, dan perabaan kurang mempunyai sensitifitas dan efesiansi kerja dibanding yang dimilki oleh orang yang lebih muda. Masa berhentinya reproduksi keturunan (menopouse) juga terjadi pada usia lanjut. Biasanya pada wanita ini akan terjadi lebih cepat dibanding pada pria. Selain itu keinginan untuk melakukan hubungan seksual juga dipengaruhi oleh budaya masyarakat.
2.3.3.2. Perubahan Mental Pada Usia Lanjut
Kondisi lain yang perlu diperhitungkan pada usia lanjut adalah terjadinya penurunan mental yang menyertai bertambahnya usia. Penurunan mental untuk setiap individu juga sangat berbeda. Tak ada usia yang dianggap sebagai awal mula terjadinya penurunan mental dan tidak ada pola khusus dalam penurunan mental yang berlaku untuk semua orang berusia lanjut.
Perubahan mental pada usia lanjut mempengaruhi beberapa hal antara lain proses belajar, berpikir dalam memberi argumentasi, kreativitas, ingatan, mengingat kembali, mengenang, rasa humor, perbendaharaan kata dan kekerasan mental.[48]
Orang berusia lanjut memerlukan waktu yang lebih banyak dalam belajar, yakni untuk mengintegrasikan jawaban mereka. Dalam berpikir secara umum terdapat penurunan kecepatan dalam mencapai kesimpulan untuk memberi argumentasi, baik dalam alasan induktif maupun deduktif. Dalam hal kreativitas, kapasitas atau keinginan yang berpikir kreatif cenderung kurang. Dalam hal ingatan, orang berusia lanjut pada umumnya cenderung lemah dalam mengingat hal-hal yang baru dipelajari dan sebaliknya, baik terhadap hal-hal yang telah lama dipelajari. Kecenderungan untuk mengenang sesuatu yang terjadi pada masa lalu juga meningkat semakin tajam sejalan dengan arah bertambahnya usia. Dalam hal humor, orang berusia lanjut kehilangan rasa dan keinginan terhadap hal-hal yang lucu. Disisi lain, menurunnya perbendaharaan kata yang dimiliki usia lanjut menurun sangat kecil karena mereka secara konstan menggunakan sebagian besar kata yang pernah dipelajari pada masa kanak-kanak dan remajanya. Kekerasan mental sangat tidak bersifat universal bagi usia lanjut. Apabila mental yang keras dimilki selama usia madya (30-50 thn), hal ini cenderung menjadi semakin tampak sejalan dengan bertambahnya usia.[49] Perubahan metal juga mempengaruhi minat pada usia lanjut. Penyesuaian pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh perubahan minat dan keinginan yang dilakukan. Apabila orang yang berusia tua ingin mengubah minat atau keinginannya karena alasan kesehatan, situasi keuangan atau alasan lainya akan memperoleh kepuasaan yang lebih baik dibanding mereka yang menghentikan kegiatan. Minat yang diangga sebagai tipe keinginan orang berusia lanjut pada umumnya, antara lain minat pribadi, minat untuk berekreasi, keinginan yang bersifat keagamaan dan keinginan untuk mati.[50]
Minat atau ketertarikan pribadi pada usia lanjut antara lain miliputi minat terhadap diri sendiri, minat terhadap penampilan, minat pada pakaian dan pada uang. Dalam hal berekreasi. Pria dan wanita berusia lanjut biasanya senang melakukan kegiatan yang biasa mereka lakukan pada usia mudanya.
Sementara itu, orang berusia lanjut menjadi lebih tertarik pada kegiataan keagamaan karena pada usia ini menujuk hari kematianya sudah dekat. Walaupun tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda mendahului mereka. Hal ini lebih disebabkan banyak penurunan fisik yang mereka hadapi. Pada waktu kesehataannya memburuk, mereka cenderung untuk berkonsentrasi pada masalah kematian dan mulai dipengaruhi oleh perasaan seperti itu.
Masalah kematian ini akan memunculkan pertanyaan pada lanjut usia yakni: apakah saya dibenarkan bunuh diri?, dan bagaimana saya dapat mati dengan cara yang baik? Alasan bunuh diri biasanya muncul karena satu atau alasan lain hidupnya tidak dapat dipertahankan lagi. Cara yang baik untuk mati mungkin berbedaub untuk setiap orang. Orang berusia lanjut biasanya setuju bahwa kematian dapat dianggap baik, seperti yang ditunjukan oleh schulz yaitu kebutuhan tentang kontrol terhadap rasa saikt, kesempatan untuk berpartiosipasi dalam membuat keputusan dan mendapat kasih sayang serta perawatan[51].
2.3.3.3. Perubahan sosial
Secara umum banyak orang yang menggambarkan bahwa usia lanjut sebagai manusia dalam keadaan fisik dan mental yang lemah, usang, sering pikun, jalanya membungkuk dan sulit hidup dengan siapapun. Beberapa orang memandang lanjut usia sebagai masa dimana orang tersebut tidak bermanfaat lagi dan harus dijauhkan dari orang muda karena hanya akan menghambat mobilitas dan kinerja kaum muda. Hal ini menjadikan alasan beberapa orang menitipkan orang tua mereka yang sudah lanjut usia di panti jompo. Arti penting tentang sikap sosial terhadap lanjut usia yang tidak menyenangkan mempengaruhi cara mereka memperlakukan orang yang berusia lanjut.
Dalam bertambahnya usia, banyak lanjut usia yang mersa menderita karena jumlah kegiatan sosial yang dapat mereka lakukan menjadi terbatas dan berkurang. Pengunduran diri ini baik disebabkan menurunya sumber-sumber dalm diri yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kontak sosial dan menurunya partisipasi sosial.
2.4. Ketenangan Hidup
2.4.1. Pengertian Ketenangan Hidup
Menurut KBBI Tenang adalah tidak gelisah; tidak rusuh; tidak kacau; tidak ribut; aman dan tentram (perasaan hati).[52] Dari pengertian ini bisa dikatakan bahwa ketenangan hidup itu menyakut dengan perasaan jiwa seseorang. Dalam kalangan orang tua lanjut usia ketenangan hidup merupakan suatu hal yang perlu di soroti. Hal ini disebabkan orang tua sering sekali tidak lagi memilki ketenangan hidup. Dalam arti disini mereka sering cemas atau khatir akan sesuatu hal yang menyakut kehidupanya, baik keluarga, keuangan, dan juga dalam hal ketakutan menghadapi kematian. Karena di usia ini mereka mulai mengerti bahwa kematian itu adalah bahagian dari kehidupan.[53]
2.4.2. Ketenangan Hidup didalam Alkitab
Ketengan hidup adalah suatu sikap perasaan yang tidak gelisah atau kwatir. Di dalam alkitab kita banyak menemukan ayat yang mengharuskan kita untuk hidup tenang (Ams 14:30; Yes 7:4; 1 Tes 4:11; 1 Ptr 4:7 dsb).[54] Salah satu contoh ketidaktenangan didalam alkitab adalah Ayub, dimana ketika dia memiliki pergumulan dikatakan “Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman; aku tidak mendapat istirahat tetapi kegelisahan yang timbul” (ayub 3:26). Dari contoh ini jelas terlihat apabila seseorang itu tidak memiliki ketenangan maka yang timbul adalah kegelisahan atau perasan yang kacau.
Didalam alkitab memang tidak dikatakan sikap yang tidak tenang itu adalah bahagian dari dosa. Tetapi sebenarnya Allah mengingatkan kepada setiap manusia untuk selalu memiliki persaan yang tenang (tidak gelisah). Ini dikarenakan Allah selalu mencukupkan kebutuhan manusia (Mat 6:26).[55]
Dari hal ini kita ketahui bahwa apabila kita mempunyai, sikap hati yang tenang maka setiap persoalan-persolan hidup akan semakin mudah untuk terselesaikan. Demikian juga ketika kita semakin medekatkan diri kepada Tuhan maka jiwa kita juga akan semakin tenang (Mzm 62:2).
2.4.3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi ketidaktenangan hidup Lanjut Usia
Masa lanjut usia adalah masa dimana menurunya setiap kondisi tubuh. Dari hal inilah timbul ketidaktenangan dalam kehidupna. Dimana banyak orang tua yang sudah lanjut usia memiliki kegelisahan didalam hidupnya. Adapun kegelisahan yang menyebabkan ketidak tenangan dalam hidupnya adalah :
2.4.3.1. Kesepian
Kesepian merupakan istilah yang lebih khas sebagai salah satu bentuk isolasi sosial. Isolasi sosial itu sendiri dapat mengandung makna keterpisahan secara fisik dan lingkungan sosial, namun hal ini tidak serta-merta menimbulkan kesepian. Sebaliknya, kesepian merupakan bentuk perasaan terpisah dari lingkungan sosial sekalipun secara fisik individu yang bersangkutan tidak terisolasi. kesepian merupakan kondisi yang sering mengancam kehidupan para orang tua yang sudah lanjut usia. Dimana ketika anggota keluarga misalnya anak-anak hidup terpisah dari mereka. Kesepian tidak semata-mata muncul akibat kesendirian fisik atau akibat ketidakberadaan orang lain disekeliling hidup seseorang, tetapi juga akibat perasaan ditinggalkan, khusunya oleh mereka yang tadinya memilki hubungan emosional yang amat dekat.[56]
Orang tua yang lanjut usia adalah orang-orang yang selalu merasa kesepian didalam hidupnya. Dimana seakan-akan mereka tidak memiliki teman yang diakibatkan kesibiukan dari anggota keluarga. Tidak mengherankan pada saat sekarang ini yang hanya tinggal di rumah senderian adalah orang tua yang sudah lanjut usia, sementara anggota keluarga yang lainya sibuk untuk bekerja. Demikian juga ketika orang tua lanjut usia di tempatkan di penitipan yang mengakibatkan perasaan mereka hampa jauh dari keluarga, mesikpun dia memiliki teman yang seusia dengan mereka.
2.4.3.2. Ketakutan menghadapi kematian
Pada kalangan orang tua lanjut usia kesehatan yang menurun adalah hal yang sangat wajar. Tetapi sering sekali usia tua yang ditandai dengan kesehatan yang menurun menyebabkan adanya kegelisahan mereka yang pada ahkirnya menimbulkan ketakutan. Ketakutan yang berlebihan ini sering sekali bukan hanya berhenti pada masalah kesehatan melainkan juga mereka takut akan keuangan, kematian pasangan hidup dan juga ketakuan akan menhadapi kematian. Elisabeth Kubler Rose telah meneliti 5 tahap yang lazim dihadapi seseorang yang mendekati saat-saat terakhir.[57]
1. Penyangkalan
Kematian merupakan suatu kejutan, sering sekali orang sangat terkejut apabila dia dikatakan akan menghadapi kematian. Perasaanya sering berkata “ini tidak mungkin terjadi atas diri saya, ini pasti tidak benar dan sebagainya. Seringkali si penderita menyangkal bahwa penyakit yang sedikit di deritanya akan membahayakan dirinya, sehingga harus menemui ajalnya. Memang kematian dapat datang dengan tiba-tiba dan tidak terduga, namun si penderita menyangkal dengan menjauhkan pikiran tersebut.[58]
2. Amarah
Penderita tidak dapat lagi menyangkali fakta yang sesunghunya yang sedang ia hadapi, sehingga lambat laun mereka menyadari bahwa fakta terbutsudah ada di ambang pintu, dan ia berada pada detik-detik terakhir kehidupanya. Bersamaan dengan itu rasa mudah marah sering menginggapinya.
3. Tawar menawar
Apabila keinginan seorang anak kecil tidak terpenuhi, ia akan membanting-banting diri atau melakukan hal yang lain dengan maksud untuk membujuk orang lain agar memenuhi keinginanya. Seringkali penderitapun bertindak demikian dengan mengatakan suatu pernyataan kepada tuhan misalnya, “Tuhan tambahlah hidupku, maka aku akan melayani engkau dengan setia dalam sisa hidupku ini”.
4. Depresi
Ada dua jenis depresi:
- Depresi reaktif
Depresi ini timbul karena penderitaan yang sedang dideritanya, sehingga ia merasa kecewa, kehilangan hobi, tidakmau menghadri kebaktian, secara fisik merasa kurang menarik dibanding dengan waktu lalu.
- Depresi persiapan
Suatu depresi yang mendatangkan rasa sedih apabila ia teringat akan hari esoknya. Mungkin ia seseorang beriman yang melihat pada hidup yang jauh lebih baik setelah kematian. Akan tetapi ia gelisah apabila ia mengingat orang-orang yang ia kasihi yang harus ia tinggalkan dan mungkin mereka akan menghadapi banyak kesukaran apabila ia meninggal.
5. Menerima
Jikalau ia cukup lama menderita, ia akan mencapai suatu titik yang penuh penyerahaan. Penderita yang demikian mungkin kurang suka bercakap-cakap, tetapi mereka terhibur apabila mengetahui bahwa ia tidak dilupakan, walapun akhir hidupnya segera tiba.
2.4.3.3. Kecemasan
Setiap manusia pasti memiliki perasaan cemas atau tegang, jika menghadapi situasi yang mengancam atau stres. Perasaan tersebutadalah reaksi normal terhadap stres. Kecemasan dianggap abanormal hanya jika terjadi dalam situasi yang sebagaina besar orang dapat menanganinya tanpa kesulitan berarti. Ganguan kecemasan adalah sekelompok ganguan dimana kecemasan merupakan gejala utama (ganguan kecemasan umum dan ganguan panik) atau dialamiu jika seseorang berupaya mengendalikan perilaku maladaptif tertentu (ganguan fobik dan ganguan obseif-kompulusif).[59] Sikap kecemasan inilah yang muncul dari kalangan orang tua lanjut usia.
Dimana orang tua lanjut usia sering cemas akan kehidupanya, baik keluarganya, keuanganya dan juga kesiapanya dalam menghadapi kematian. Dimana perasaan cemas ini sering muncul apabila ketika mereka jatuh sakit dan masuk kerumah sakit. Dari hal ini persaan cemas itu akan semakin kuat dalam hidup mereka. Dari hal inilah pelayanan pastoral memberikan bantuan kepada mereka untuk memberikan penguatan.
2.5. Penyerahan Diri
2.5.1. Penyerahan Diri dalam Alkitab
Hidup pada lanjut terdiri dari kesenangan dan juga kesengsaraan. Dalam hal kesengsaraan pemazmur mengatakan “kasihanilah aku, ya Tuhan sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku. Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sesengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah. Dihadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kejutan bagi kenalan-kenalanKu; mereka yang melihat aku dijalan lari daripada aku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati; telah menjadi seperti barang yang pecah (Mazmur 31:10-13). Dari hal ini nampak jelas bahwa kondisi dari orang tua lanjut usia adalah orang yang lemah baik fisik maupun psikis.[60] Maka dari pada itulah dibutuhkan penyerahan diri kepada Tuhan.
Didalam Alkitab kita melihat banyak yang sudah berusia lanjut tetapi dia tetap mau menyerahkan hidupnya untuk Tuhan. Seperti abraham yang sudah Tua tetapi dia mau melayani untuk Tuhan. Ini menujukan bahwa dia meyerahkan hidupnya untuk Tuhan.
2.5.2. Faktor-Faktor Yang meningkatkan penyerahan diri terhadap Orang Tua Lanjut Usia
Orang tua lanjut usia adalah orang-orang yang memiliki banyak pergumulan kehidupan. Secara khusus kesepian, kecemasan dan ketakutan terhadap kematian adalah salah satu faktor permasalahan hidup mereka. Didalam kalangan orang tua lanjut usia yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan itu adalah bagaimana sikap dari orang tua lanjut usia itu sendiri. Dimana bagaimana mereka meyerahkan hidupnya secara totalitas kepada Tuhan. Karena hanya dengan meyerahkan hidup sepenuhnya kepada tuhan maka hidup semakin bermakna. Ada beberapa faktor yang akan menikatkan penyerahan diri kepada Tuhan yaitu:
2.5.3.1. Percaya
Percaya adalah salah satu sikap seseorang dalam peyerahan diri yang harus dilakukan. Karena bagaimana mungkin dikatakan seseorang itu menyerahkan diri kepada Allah apabila dia belum percaya kepada Allah. Dalam amsal 3:5,6 mengatakan percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, maka iya akan meluruskan jalanmu. Kepercayaan atau iman adalah sangat penting dalam kehidupan ini karena tapa itu kita tidak bisa mendapat tutunan.[61] Dalam kaitan ini orangtua lanjut usia sering memiliki perasaan gelisah yang mengakibatkan ketidaktenangan dalam hidupnya. Dari hal ini orang tua lanjut usia dituntut supaya percaya sepenuhnya kepada firman Allah, karena Ia akan selalu menolong orang yang membutuhkanNya (bnd Yes 41:10; Maz 118:16; 1 Ptr 5:17).[62]
2.5.3.3. Berdoa
Doa merupakan unsur utama dalam hubungan dengan Tuhan. Orang tua lanjut usia yang telah mengalami berbagai hubungan yang meyenangkan dalam hidupnya memerlukan sedikit bantuan untuk bertumbuh kedalam hubungan yang paling menajubkan itu.[63] Bagi banyak orang, pertumbuhan wajar tersebut dilakukan dengan menikmati percakapan dengan teman yang dikasihi dan dipercaya. Demikian juga dengan orang tua lanjut usia, supaya dapat bertumbuh dan semakin dekat kepada Tuhan mereka perlu membina hubungan yang baik dengan Tuhan, layaknya seperti seorang teman yang setiap saat ada didekat mereka sehingga mereka dengan bebas mengukapkan apa yang ada dari lubuk hati mereka.[64] Dalam penyerhan diri ini orang tua lanjut usia selalu ditekankan untuk mengucap syukur setiap waktu.
2.5.3.3 Saat Teduh
Saat teduh adalah salah satu sarana bagaimana kita mendengarkan apa yang Tuhan inginkan kepada kita untuk dilakukan. Pada kalangan orang tua lanjut usia saat teduh merupakan salah satu faktor dalam menikatkan penyerahaan diri. Dimana pada saat pagi hari orang tua lanjut usia bersyukur atas setiap kehidupan yang Tuhan berikan kepadanya. Dari hal ini bisa dikatakan fokus utama dari saat teduh itu adalah bagaimana kita bisa merenungkan semua perbuatan Allah yang telah ia berikan kepada kita.
2.5.3.4. Bernyanyi
Bernyanyi adalah salah satu cara dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Dimana didalam bernyanyi ini, kedekatan dan kehalusaan perasaan kita kepada Tuhan semakin nyata. Ini dikarenakan bernyanyi itu adalah mengeluarkan perasaan kita tentang Tuhan dan serempak memasukan kembali perasaan-perasaan itu kedalam jiwa kita.[65]
Demikian juga terhadap orangtua lanjut usia. Di tengah-tengah banyaknya permasalahan kehidupan mereka, bernyanyi adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
2.6 Kerangka Konseptual
Bertambahnya usia menjadikan mental dan fisik seseorang akan berkurang. Aktivitas kehidupan juga berkurang yang mengakibatkan makin bertambahnya ketidakmampuan tubuh dalam berbagai hal, akibat proses menua juga menyebabkan fungsi organ-organ dan sel-sel tubuh yang menurun. Hal inilah yang sering menjadi lebel bagi orang tua lanjut usia. Tidak mengherankan dengan banyaknya ganguan kesehataan di usia tua bahkan ke pikunan banyak orang yang semakin takut menghadapi masa tua dari pada menghadapi kematian. Selain itu di usia tua sering di artikan dengan orang-orang yang tidak memiliki kegunaan sehingga sering sekali orang tua yang sudah lanjut usia di tempatkan di penitipan (panti wreda) atau di tinggal dirumah bersama cucu atau perawat. Hal ini mengakibatkan kesepian yang mendalam bagi orang tua lanjut usia yang kurang produktif.
Salah satu tempat penitipan orang tua lanjut usia adalah PPOS GBKP. Dimana orang tua lanjut usia yang ditempatkan disana adalah orang-orang yang tidak produktif lagi dalam arti sudah memiliki banyak ganguan kesehatan. Kebanyakan keluarga menempatkan orangtuanya disana dikarenakan kesibukan yang mengakibatkan tidak ada yang mengurus. Dari hal ini orang tua lanjut usia sering sekali kecewa di tempatkan disana secara khusus karena faktor budaya yang belum bisa menerima tempat seperti ini. Dimana orang tua lebih senang tinggal dirumah bersama anak dan cucunya. Kekecewaan mereka bertamabah menjadi kesepian dan kecemasaan yang mereka dapatkan di PPOS sehingga menyebabkan ketidak tenangan hidup dalam dirinya. Ditambah lagi dengan permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi dan kebanyakan dari mereka merasa terkurung dalam suatu tempat, dan juga keluarga yang jarang sekali untuk menjenguk mereka.
Dari hal inilah pelayanan pastoral berfungsi untuk mengatasi ketidaktenangan hidup ini dengan menikatkan penyerhaan diri bagi kalangan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS. Penyerahaan diri itu meliputi bagaimana orang tua lanjut usia untuk percaya kepada Tuhan, berdoa, bersaat teduh, bernyanyi (Mazmur 62:6). Hal ini dikarenakan orang tua lanjut usia yang di tempatkan disana dengan latar belakang yang berbeda-beda misalnya ada yang dulunya tidak perbah ke gereja dan mengikuti kegiatan yang lain. Supaya dihari tuaamereka semakin menyadari bahawa usia tua itu adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh setiap ciptaan Tuhan dan merupakan rencana Allah dalam hidup manusia (Mzm 92:15-16).
2.7. Pengajuan Hipotesa
Kata “hipotesis” terdiri dari kata “hipo” dan kata “tesis”. Hipo berarti “sebelum”, sedangkan tesis berarti teori yang kokoh yang masih membuktikan pengujian untuk pengukuhan dan sering disebut dengan teori dugaan.[66] Dengan demikian kata hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementar yang dianggap secara kemungkinan menjadi jawaban yang benar. Karena, hipotesis masih perlu di uji kebenaranya karena masih bersifat dugaan.
Berdasarkan hal diatas maka penulis membuat hipotesa yaitu, Jika pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia dilaksanakan maka akan meningkatkan tingkat peyerahan diri dan ketenangan hidup mereka di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) GBKP taman jubelium Sukamakmur
BAB III
METODE PENILITIAN DAN GAMBARAN UMUM PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Dalam mengadakan penelitian lapangan (Field Research), maka penulis harus mengambil suatu tempat penelitian. Dimana sesuai dengan judul penulis yaitu pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia, maka penulis mengambil tempat penelitian di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra GBKP. Dimana tempat ini merupakan suatu tempat penitipan orang tua yang sudah lanjut usia secara khusus kepada warga jemaat GBKP. Adapun PPOS berada di Jalan Jamin Ginting Komples Taman Jubelium GBKP Sukamakmur Kab Deli Serdang Sumatra Utara.
Di taman Jublium GBKP ada beberapa yayasan yang berdiri yaitu panti asuhan (PAK) gelora kasih (mengasuh anak-anak yatim piatu), bank perkreditan rakyat (BPR) yang memberi pinjaman kepada orang yang kurang mampu, Yayasan ate keleng (PARPEM), Retert center (RC) yang digunakan untuk tempat retereat bagi pengujung dan Yayasan pelayanan orang tua sejahtra (YAPOS) yang berfungsi tempat penitipan orang tua yang sudah lanjut usia dan inilah yang menjadi tempat penilitian penulis. Untuk memperjelas bagaimana gambaran umum YAPOS/PPOS maka dalam bahagian selanjutnya akan di jelaskan secara terperinci.
.
3.1.1 Sejarah berdirinya Pusat Pelayanan Orang tua Sejahtra (PPOS) GBKP
Gereja GBKP yang semakin lama terus bergerak kearah yang lebih maju. Hal ini tidak terlepas dari peran serta penginjil yang memberitakanya ke tanah karo. Dimana pada awalnya injil pertama diberitakan oleh Pdt. HC Kruyt di desa Buluhawar. Demikian seterusnya injli itu terus diberitakan oleh zending (NZG) ketanah karo. Pengijilan yang mereka lakukan bukan hanya sebatas kata-kata saja, tetapi pengijil (NZG) juga melakukan pelayanan dalam wujud nyata. Sebagai contoh membangun rumah sakit, rumah sekolah, saranana pendidikan dsb.
Hal inilah yang terus dikembangkan warga gereja GBKP dengan membangun beberapa yayasan yang berguna bagi pelayanan gereja yang salah satunya adalah YAPOS. Latar belakang terbentuknya yayasan pelayanan orang tua sejatra ini tidak terlepas dari kegiatana perayaan jubelium 100 tahun GBKP. Dimana pada Tahun 1987 dibentuklah sebuah panita untuk mempersiapkan perayaan besar yaitu “jubelium 100 tahun GBKP”. Acara ini adalah suatu perayaan untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas perjalanan injil di tanah karo yang sudah 100 tahun dan sekaligus tempat untuk mengevalwasi terhadap apa yang sudah dibuat dan membicarakan bagaimana GBKP kedepan.[67]
Dalam hal ini ada sebuah gagasan kepada panitia jubelium 100 tahun GBKP, dari Nora Pdt.Y.P.Sibero seorang pengurus moria (kaum ibu) pusat, untuk membuat sebuah pelayanan untuk orang tua lanjut usia. Pada awalnya sebahagian anggota jemaat tidak setuju dengan pelayanan semacam panti jompo. Menurut mereka tanggung jawab perawatan orang tua lanjut usia baik secara agama Kristen maupun adat karo, adalah tanggung jawab anak. Dikwatirkan bahwa adanya rumah pelayanan orang tua lanjut usia oleh gereja, tanggung jawab ini akan bergeser dan ini bertentangan dengan keyakinan beragama dan tututan adat.[68]
Dengan berbagai proses yang panjang akhirnya gagasan itupun diterima dan hal ini diserahkan kepada Ny. Rasmita Br Perangin-angin yang menjabat sebagai bidang bakti sosial untuk menindaklajuti hal ini. Pada waktu itu pelayanan yang sudah ada adalah Kebaktian anak dan remaja (KA-KR), Pemuda (Permata), Kaum Ibu (Moria), Demikian juga yayasan yang sudah berdiri adalah yayasan Panti asuhan Kristen (YPAK) Gelora Kasih, Yayasan Kristen penyandang cacat (YKPC) Alfa Omega, tetapi pelayanan untuk orang tua lanjut usia belum ada.
Untuk itu moderamen GBKP dan panitia bakti soasial memfokuskan untuk mendirikan sebuah yayasan untuk orang tua lanjut usia. Dimana pelayanan ini dianggap perlu, karena orang tua lanjut usia adalah orang-orang kondisi fisiknya sudah menurun. Maka dari pada itu gereja merasa perlu untuk memperhatikan orang yang demikian suapaya dimasa tuanya dia selalu merasa mendapat berkat dari Tuhan. Disamping itu pendirian yayasan ini juga dikarenakan seiring dengan perkembangan zaman dimana banyak warga jemaat yang mulai kewalahan dan merasa kasihan melihat orang tua yang lanjut usia tinggal sendiri dirumah ditambah lagi orang tua ini tidak sanggup lagi untuk bekerja
Dalam mendirikan pusat pelayanan ini maka panitia mengambil tempat di kompleks taman jubelium GBKP sukamakmur, disamping Panti asuhan Gelora Kasih. Untuk mendirikan sebuat bangunan maka diperlukannya suatu dana. Maka dari pada itu diadakan beberapa pertemuan dan kegiatan untuk mendiskusikan pembangunan yayasan ini sekaligus pengalangan dana yaitu:[69]
Dalam diskusi dan ramah tamah pengumpulan dana pembangunan rumah pelayanan orang tua sejahtra.
Pada tanggal 8 Mei 1988, di rumah keluarga Ir. D. Bangun di Medan diadakan pertemuan yang membicarakan mengenai pembangunan yayasan orang tua lanjut usia. Dalam pertemuan ini dihadiri oleh 50 orang tokoh-tokoh masyarakat karo dan para pendeta serta panitia jubelium 100 tahun GBKP. Dalam diskusi ini dikemukakan masalah-masalah tentang penjelasan sepintas tentang keadaan orang tua lanjut usia di daerah pedesaanoleh proyek Pengembangan Wanita Pedesaan (PPWP) Yasasan Pijer podi (YAPIDI) Berastagi. Yayasan ini suatu LSM yang melayani kelompok wanita di pedesaan, terutama di kab Karo dan Dairi. Dari uraian dan tanya jawab dapat disimpulkan bahwa orang tua lanjut usia di pedesaan terutama wanita, tetap di manfaatkan tenaganya sampai tidak mampu yakni menjaga cucu dan pekerjaan rumah
Dalam hal ini apabila keadaan fisik mereka semakin lemah biasanya mereka di tinggal. Perawatan kepada mereka sangatlah kurang, sepanjang hari menderita kesunyiaan. Bukan karena anak-anak mereka tidak menaruh perhatian akan tetapi dikarenakan anak-anaknya sibuk bekerja untuk kebutuhan hidup. Selain itu orang tua lanjut usia juga tidak mampu lagi turut dalam kegiatan gerejani seperti kebaktian minggu, perpulungen jabu-jabu, kumpulan moria dsb. Pelayanan rohani yang sangat mereka butuhkan untuk menguatkan dan menghibur mereka hampir-hampir tidak ada. Melihat hal ini PPWT menyatakan sudah waktunya perlu dipikirkan bentuk bentuk pelayanan kepada orang tua lanjut usia, yang dapat mensejahterakan mereka baik dari segi rohani mapun jasmani. Akhirnya dalam pertemuan diskusi itu usulan dari PPWT sangat perlu untuk ditindak lanjuti, maka pada waktu itu diadakan pengalangan dana secara sepontan sehingga terkumpulah uang sejumlah 3.221.600.
Pertemuan pelayanan kesehatan dan diskusi dengan orang tua lanjut usia.
Salah satu kegiatan seksi bakti sosial bekerja sama dengan seksi kesehatan panitia jubelium 100 tahun GBKP adalah merupakan pertemuan ramah tamah dan pengobatan untuk orang tua lanjut usia pertemuan dilaksanakan di dua tempat yakni:
Kabanjahe, untuk klasis di dataran tinggi Karo ( Kabanjahe, Sinabung, Tigabinanga, Tiga lingga) yang di adakan di gedung PPWG GBKP pada tanggal 31 Mei 1988 dan di hadiri 709 orang tua.
Medan, untuk klasis dataran rendah ( Sibolangit, Medan Delitua, Medan Kampung lalang, Lubuk Pakam, Siantar dan Binjai) yang di adakan di asrama Maranata pada tanggal 24 Juli 1988 dan dihadiri oleh 382 orang tua.
Dari diskusi dengan orang tua lanjut usia itu keluhan kesehatan dan persaan kesunyiaan merupakan masalah utama mereka.
Hasil-hasil diskusi tersebut disampaikan oleh seksi bakti sosial ke rapat panitia 100 tahun jubelium GBKP. Panitia berpendapat bahwa pelayanan kepada orang tua lanjut usia adalah suatu pelayanan yang sangat dibutuhkan sekarang dan masa depan. Namum perlu diperhatikan bahwa pelayanan orang tua sejahtra haruslah tidak sama dengan pelayanan di panti jompo. Artinya pelayanan orang tua sejahtra yang direncanakan bukan pengganti tanggung jawab anak terhadap pelayanan orang tuanya. Disini anak harus turut memberi peranan pelayanan kasih kepada orang tua mereka.
Perlu diketahui juga bahwa pada setiap pertemuan ini disebarkan angket untuk mengetahui pendapat orang tua lanjut usia tentang pentingnya pelayanan bagi mereka. Kesimpulan yang didapat dari angket yang terkumpul adalah orangtua lanjut usia merasa perlu mendapatkan pelayanan. Setelah terkumpul beberapa dana yang pada saat itu sudah ada 35 juta rupiah, maka pada tahun 1989 dimulailah pembangunan. Akan tetapi yang dibangun hanya sebahagian kecil saja yaitu meliputi gedung dan 18 kamar semi permanen.
Selanjutnya pada perayaan jubelium 100 tahun GBKP yang diadakan tanggal 18 april 1990, maka diambilah sebuah keputusan mendirikan sebuah tempat pelayanan orang tua lanjut usia yang diberi nama Yayasan Pelayanan Orang Tua Sejahtra (YAPOS) GBKP.[70] Dalam perkembangan selanjutnya YAPOS mendirikan Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) sebagai sarana pelayanan terhadap orang tua lanjut usia. Pendirian YAPOS ternyata mendapat sambutan yang baik dari masyarakat demikian juga mitra dari luar negeri. Ini terlihat ketika diadakan pengumpulan dana untuk pembangunan YAPOS yang diadakan pada tanggal 14 Juni 1992 mitra gereja di Belanda yaitu Yayasan Groot Huppes memberikan bantuan dana yang cukup besar untuk pembangunan. Selain itu masyarakat luas juga pemerintah ikut terlibat dalam memberikan bantuan dana untuk pembangunan kamar-kamar di YAPOS. Akhirnya pada tanggal 23 maret 1993 YAPOS/PPOS resmi diresmikan oleh Moderamen GBKP. [71] Dengan tujuan agar orangtua yang lanjut usia menyadari bahwa hidup mereka tergantung kepada Allah dan mereka diharapkan mengenal Allah. Sehingga dengan adanya PPOS di usianya yang tua mereka tidak merasa tersisihkan tetapi merasa mendapatkan berkat dari Tuhan
3.1.2 Latar belakang masuknya orang tual lanjut usia ke PPOS GBKP
Setiap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga alasan mereka juga di tempatkan di PPOS GBKP juga sangat berbeda-beda juga. Disamping itu untuk masuk dan tingal di PPOS memiliki syarat-syrat tertentu, jadi bukan mudah saja bisa tinggal disana. Adapun syarat-syarat itu adalah:
Wanita/Pria berusia 60 tahun ke atas.
Mempunyai penanggung jawab sebanyak dua orang.
Tidak mengidap penyakit menular (TBC atau paru-paru) dilengkapi dengan hasil ronsen.
Berobat di klinik PPOS dalam status obname dikenakan biaya dan berobat di luar klinik PPOS ditanggung sepenuhnya oleh penangung jawab.
Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dapat bekerja sama dengan penghuni lainnya, tidak boleh berpergian sesama penghuni tanpa seizin pinpinan PPOS , tidak boleh membawa benda tajam dan perhiasan.
Masa percobaan satu sampai tiga bulan. Dalam arti apabila dalam percobaan, baik yang bersakutan ataupun pihak PPOS ternyata tidak ada penyesuaian setelah diusahakan berkali-kali maka penanggung jawab bersedia mengambil kembali penghuni tersebut.
Membayar biaya Asrama sesuai dengan ketentuan.
Penangung jawab bersedia memelihara hubungan yang seerat-eratnya dengan penghuni yang dititipkan.
Apabila penghuni yang dititipkan meninggal dunia maka penangung jawab bersedia: mengurus jenajah beserta admistrasi penghuni tersebut.
mengisi formulir pendaftaran, pasphoto 3 lembar, photocopy ktp penanggung jawab serta alamat yang jelas beserta no telphone atau handphone.
Ketika semua persayaratan itu telah dipenuhi maka orang tua lanjut usia bisa tinggal di PPOS GBKP dengan menaati semua peraturan yang telah ditetapkan. Melihat persayaratan diatas memang tidak sulit untuk menitipkan orang tua lanjut usia disana. Tetapi pada kenyataanya masih banyak masyarakat yang masih enggan untuk menitipkan orang tua lanjut usia disana. Ini dikarenakan pemikiran masyarakat apabila orangtuanya ditiutipkan disana anak merasa tidak bertangun jawab untuk mengurus orang tuanya. Dari hal ini ada beberapa faktor orang tua lanjut usia yang dititipkan disana yaitu:
1. Kebersediaan orang tua lanjut usia itu sendiri
Dalam hal ada beberapa orang tua lanjut usia yang secara keinginanya untuk tinggal di PPOS. Ini dikarenakan dia merasa bahwa berkumpul dengan seusianya adalah hal yang paling menyenangkan. Dimana hal ini terjadi mungkin diakibatkan oleh kematian salah satu pasangan hidup dan juga alasan yang lainya.[72] Dari hal ini apabila orang tua lanjut usia itu tinggal di PPOS oleh karena keinginanya sendiri maka biasanya lansia yang demikian cenderung bersikap tenang dan mudah untuk di atur dari pada yang lain.
2. Ke inginan keluarga
Keluarga adalah salah satu sarana tempat bertemunya antara anak, orangtua dan juga cucu bagi kalangan orang tua lanjut usia. Dimana di usianya yang sudah tua berkumpul bersama keluarga adalah suatu kebahagian tersendiri bagi mereka. Tetapi hal itu semuanya itu hilang ketika keluarga mereka sepakat untuk menitipkan orang tua mereka di PPOS. Hal inilah yang kebanyakaan terjadi di PPOS. Banyak orang tua lanjut usia yang tinggal disana adalah karena keinginan keluarganya. Hal ini terjadi karena kesibukan setiap anggota keluarga yang tidak bisa mengurus orang tuanya Dimana pada kondisi ini biasanya situasi orang tua lanjut usia adalah pada keadaan yang sudah sakit “pikun”. Akan tetapi ada juga yang sudah sakit-sakitan tetapi belum termaksuk kategori pikun. Dari hal ini juga kebanyakaan orang ta lanjut usia yang tidak bersedia ditempatkan di sana yang mengakibatkan kehidupan mereka selama disana menghadapi ketidaktenangan hidup.[73]
3. Sudah tua tidak ada yang merawat
Dalam hal ini adalah orang tua lanjut usia yang selama hidupnya tidak menikah. Dalam hal ini ada yang karena keinginanya sendiri dan juga ada yang dibawa keluarga untuk dititipkan di PPOS. Sebagai contoh kakek Sempat Ginting di usianya yang sudah 78 tahun dia belum pernah menikah, saudaranya tinggal di Pekan Baru. Melihat kondisi fisikinya dia sudah memakai tongkat, tidak bisa melihat dan susah berbicara.
Inilah gambaran secara umum latar belakang orang tua lanjut usia tinggal di PPOS GBKP. Secara umum respon dari orang tua lanjut usia yang tinggl di PPOS mereka merasa tidak diperdulikan lagi oeleh keluarganya. Seringkali mereka mengatakan “mate saja min aku nggo bosan aku jenda” artinya mereka ingin mati saja dari pada tinggal disini. Hal ini mungkin diakibatkan kesepian yang mereka alami yang akan mempengaruhi kehidupanya.[74]
3.1.3 Kegiatan Yang Dilaksanakan Di PPOS GBKP
PPOS GBKP yang merupakan sarana pelayanan bagi orang tua lanjut usia memiliki banyak kegiatan. Dimana kegiatan-kegiatan itu berdasarkan dari tujuan yang ditetapkan dari PPOS itu sendiri. Adapun tujuan didirikanya PPOS ini adalah:
Pusat kordinasi pelayanan orang tua lanjut usia GBKP
Memberi tempat tinggal yang layak bagi para orang tua lanjut usia di hari tuanya.
Melayani kebutuhan hidup orang tua lanjut usia sehari-hari, baik jasmani (kesehatanya yang semakin menurun) dan rohani (kehidupan rohaninya di masa tuanya).
Dari tujuan diatas maka dibuatlah sebuah kegiatan-kegiatan yang mencakup pelayanan terhadap orang tua lanjut usia. Secara umum kegiatan-kegiatan orang tua lajut usia itu dibagi menjadi dua bahagian yaitu kegiatan kedalam dan kegiatan keluar. Adapun kegiatan kedalam yaitu :
Melaksanakan rapat pengurus PPOS
Melaksanakan PA bagi orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS dan juga bergabung dengan orang tua lanjut usia di sekitar Sukamakmur yang bukan tinggal di PPOS GBKP (ini dilaksanakan disesuaikan dengan waktu yang tepat).
Mengadakan Kebaktian Minggu setia jam 15.OO WIB yang dibawakan oleh pendeta-pendeta GBKP yang telah disusun jadwalnya selama setahun.
Melaksanakan kegiatan natal bersama pegawai dan orang tua lanjut usia yang tingal di PPOS
Sedangkan kegiatan keluar adalah:
Menerbitkan buku PA lansis GBKP
Mengadakan Retetert yang dilaksanakan setahun 1 kali bagi orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
Memperkenalkan PPOS kepada seluruh jemaat GBKP dengan membuat berita di Maranata GBKP.
Dari hal diatas adadalah merupakan kegitan-kegiatan PPOS sebagai perpanjangan tangan gereja untuk pelayanan orang tua lanjut usia bukan hanya kepada lansia yang tingal di PPOS tetapi juga bagi orang tua lanjut usai yang tiadk tinggal di sana. Selain itu kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh perwat dan pegawai PPOS terhadap orang tua lanjut usia yag tinggal disana adalah:
1. Kegiatan yang bersifat umum ialah setiap pagi mereka memandikan orang tua lanjut usia. Mencuci pakainya dan selimut yang kotor setiap hari. Setelah itu menyapu, mengepel,membersihkan kamar. Selain itu pegawai juga mengadakan jaga malam dan selalu melihat keadaan orang tua lanjut usia manakala ada lansia yang membutuhkan pertolongan.
2. Kegiatan pelayanan makanan, makan pagi (70.00 WIB), makan siang (12.00 WIB) snack (15.00 WIB), Makan malam (18.00)
3. Kegiatan pelayanan kesehatan dilakukan dokter 2 minggu sekali dan setiap hari ada perawat yang melayani kesehatan lansia bagi yang membutuhkan.
4. Kegiatan yang bersifat kerohanian yaitu melaksanakan ibadah pagi (06.30-07.00 WIB). Dimana yang membawakan ibadah ini adalah para pewagawai dan pimpinan secara bergantian. Selain dari pada itu pukul 15.00 sewaktu snack pegawai dan orangtua lanjut usia diajak untuk bernyanyi bersama lagu rohani supaya mereka tidak merasa kesepian.
Inilah kegiatan secara rutinitas yang dilakukan sehari-hari di PPOS GBKP. Dari kegiatan-kegiatan diatas bisa dilihat bahwa kegiatan untuk orang tua yang tinggal di PPOS sangat sedikit, yaitu pada waktu pagi ibadah pagi dan sore hari yaitu bernyanyi. Hal ini tentu saja menyebabkan tingkat kejenuhan dan mengakibatkan kesepian yang mendalam dari kalangan orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS karena tidak adanya kegiatan. Jadi yang mereka lakukan adalah berdiam diri di kamar masing-masing dan bercakap-cakap dengan sesamanya penghuni.[75]
3.2. Waktu Penelititan
Dalam melaksanakan pelayanan pastoral membutuhkan suatu proses yang panjang. Adapun penilitan yang diadakan ini dipertukan kepada orang tua lanjut usia yang ada di PPOS GBKP. Untuk itu penulis mengadakan waktu penilitian dimulai dari pertengahan juli 2008 sampai pertengahan september 2008 dan selama penelitian berlansung penulis tinggal bersama-sama dengan mereka. Hal ini dilakukan supaya penulis dalam melaksanakan penilitian bisa memahami dan mengerti sejauh mana ketidak tenangan hidup mereka dan bagaimana mereka mengatasi hal tersebut. Dan juga penulis ikut bergabung dengan kegiatan mereka sehari-hari supaya mereka bisa merasakan bahwa penulis juga ikut merasakan apa yang mereka alami.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Dalam melaksanakan penilitan lapangan maka dibutuhkanlah sebuah perencanaan yang baik. Salah satu perencanaan itu adalalah menetukan populasinya. Populasi adalah kelompok dimana seorang peneliti akan memperoleh hasil penelitian yang dapat disamaratakan (digenerelasikan).[76] Dengan kata lain populasi adalah keseluruhan objek yang dapat dijadikan sumber data atau objek penilitan. Adapun populasi dari penelitian ini adalah semua orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS GBKP. Orang tua yang tinggal di PPOS berjumlah 22 orang, dimana 4 orang laki-laki dan 18 orang perempuaan.
3.3.2 Sample
Sample merupakan bagian dari populasi dimana sample adalah proses pemilihan sejumlah individu (objek penelitian) untuk suatu penelitian sedemikian rupa, sehingga individu-individu (obyek penelitian) tersebut merupakan perwakilan kelompok yang lebih besar pada mana obyek itu dipilih. Tujuan sample adalah menggunakan sebahagian obyek penelitian yang diselidiki tersebut untuk memperoleh informasi tentang populasi.[77]Sampel itu juga sering disebut sebagai wakil atau yang mewakili populasi yang selanjutnya dijadikan responden penelitian. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah 8 orang atau dari jumlah penghuni PPOS yaitu 22 orang. Penulis mengambil sample hanya 8 orang dikarenakan oleh orang tua lanjut usia yang lain kondisi fisik dan mentalnya sangat menurun jadi tidak efektif dalam melaksanakan percakapan pastoral.
3.4 Data klien
Table. 1. Data klien
No
Nama Klien
Jenis kelamin
Usia
Alamat
Tanggal Masuk
Di PPOS
1
Bu Rosi
P
73
Kabanjahe
20-01-2008
2
Bu dewi
P
87
Medan
8-03-2008
3
Bu Rida
P
70
Peceren
23-04-2008
4
Bu Lamegogo
P
78
Kabanjahe
20-01-2008
5
Pak Sadarta
L
80
Patumbak
18-12-2006
6
Pak Bayu
L
81
Rumah Pil-Pil
16-08-2006
7
Bu Vira
P
58
Medan
21-11-2004
8
Bu Lita
P
80
Silakar
12-01-2007
3.5 Alat pengumpul data
3.5.1 Observasi lapangan
Observasi lapangan merupakan penelitian secara langusung yang dilakukan peneliti kelapangan penelitian. Observasi lapangan ini digunakan untuk melihat atau meneliti secara langsung apa yang responden lakukan dalam kehidupan sehari-hari sebelum dan sesudah pelayan pastoral dilaksnakan. Untuk itu peneliti ikut bergabung dalam setiap kegiatan dan kehidupan mereka sehari-hari selama penelitian berlangsung.
3.5.2 Percakapan pastoral
Percakapan pastoral dilaksanakan adalah untuk mengetahui sejauhmana peran percakapan pastoral ini dapat membantu orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS untuk mengatasi masalahnya. Dan dari hal ini juga bisa diketahui tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS GBKP Sukamakmur. Adapun jumlah pertemuan dan materi percakapanya adalah :
Table 2 Materi pertemuan
No
Pertemuan
Materi pertemuan
1
I
Membicarakan tentang latar belakang dan alasanya masuk ke PPOS. Disamping itu peneliti membacakan alat ukur mengenai ketenangan hidup dan penyerhan diri untuk di isi.
2
II-III
Membicarakan tentang kegelisahan mereka selama tinggal di PPOS.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui apa-apa saja yang mempengaruhi ketidaktenangan hidup pada orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
3
IV
Membicarakan tentang hal-hal yang mempengaruhi menikatkan tingkat penyerahaan diri. Dari hal ini orang tua lanjut usia bisa memahami bahwa di usianya yang sudah tua harus benar-benar bisa menyerahkan dirinya kepada Tuhan karena lanjut usia adalah berkat yang datangnya dari tuhan
4
V
Membicarakan tentang bagaimana keadaan keluarganya apakah sering dikunjungi .
5
VI
Mengisi alat ukur mengenai ketenangan hidup dan penyerhan diri setelah pelayanan pastoral dilaksanakan
3.5.3 Alat Ukur
Dalam melaksanakan penelitian ini maka penulis mengambil sebuah alat ukur untuk mengetahui bagaimana tingkat penyerahan diri dan ketenangan hidup di PPOS GBKP. Adapun alat ukur itu adalah sekumpulan pernyataan yang akan disampaikan dan di jawab langsung oleh klien.[78] Dalam hal ini klien yang menjadi penelitian adalah kalangan orang tua lanjut usia yang sudah mengalami kemunduran fisik sehingga dia tidak sanggup lagi untuk membaca dan menulis. Maka dari pada itu alat ukur ini di bacakan oleh peneliti ikut membantu membacakan isi kumpulan gejala atau pernyataan itu dan menuliskanya jawaban pada kolom yang tersedia sesuai dengan jawaban yang mereka berikan secara lisan.
3.5.1 Alat ukur Penyerahan diri
Berbicara tentang penyerahan diri dalam kalangan orang tua lanjut usia adalah mengenai permasalahan kehidupan rohani. Dalam hal ini alat ukur yang digunakan adalah sekumpulan pernyataanuntuk mengetahui sejauh mana tingkat penyerahan diri pada kalangan orang tua lanjut usia. Alat ukur ini nantinya akan digunakan dua kali dimana sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan yaitu diawal pertemuan pertama dan sesudah pelayanan pastoral dilaksnakan yaitu pertemuan ke enam. Hal ini dilaksanakan untuk melihat seberapa besar pengaruh pelayanan pastoral terhadap mereka.
Nilai dari setiap kelompok gejala atau pernyataan dijumlahkan, dan dari hasil penjumlahan dapat diketahui tingkat penyerhan dirinya yaitu:
0-20 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri sangat kurang.
21-40 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri masih tradisi/kebiasaan
41-60 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri kerinduaan
61-80 : Pada nilai ini tingkat penyerahan diri pada Lansia sangat baik
3.5.2 Alat Ukur Ketenangan hidup
Dalam mengunakan alat ukur tingkat ketenangan hidup peneliti membuat pernyatan beranjak dari faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak tenangan hidup pada orang tua lanjut usia di PPOS. Dalam hal ini alat ukur yang digunakan adalah sekumpulan pernyataan untuk mengetahui sejauh mana tingkat ketenangan hidup pada kalangan orang tua lanjut usia. Alat ukur ini juga nantinya akan digunakan dua kali dimana sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan yaitu diawal pertemuan pertama dan sesudah pelayanan pastoral dilaksnakan yaitu pertemuan ke enam. Hal ini dilaksanakan untuk melihat seberapa besar pengaruh pelayanan pastoral terhadap mereka. Dalam arti apakah pelayanan pastoral bisa menurunkan tingkat dari kegelisahan yang merasa diabaikan dari keluarga dan ditempakan di PPOS.
Nilai dari setiap kelompok gejala atau pernyataan dijumlahkan, dan dari hasil penjumlahan dapat diketahui tingkat ketenangan hidup. Adapun penilaian dari alat ukur ketenangan hidup adalah:
0-20 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup sangat baik
21-40 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup baik
41-60 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup kurang
61-80 : Pada nilai ini tingkat ketenangan hidup sangat kurang
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN REFLESI THEOLOGIS
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
4.1.1.1 Status klien
Table 3 status klien
No
Nama Klien
Status
1
Bu Rosi
Janda
2
Bu dewi
Janda
3
Bu Rida
Janda
4
Bu Lamegogo
Janda
5
Pak Sadarta
Duda
6
Pak Bayu
Lengkap
7
Bu Vira
Lengkap
8
Bu Lita
Janda
Table 3 memperlihatkan bagaimana status klien ketika pelayanan pastoral dilaksanakan di PPOS. Dalam hal mengenai status di jelaskan bahwa yang di maksud dengan status lengkap pada klien adalah pasagan hidip mereka masih hidup. Klien dengan status lengkap ada sebanyak 2 orang (25%), yaitu klien no 6 dan 7. Klien yang bersatus janda ada sebanyak 5 orang (62.5%) , yaitu klien no 1,2,3,4, dan 8. klien yang bersatus duda ada 1 orang (12.5%) yaitu klien no 5. Dengan demikian berdasarkan penjelasaan tersebut pelayanan pastoral yang dilaksanakan di PPOS sebahagian besar kepada yang bersatus janda yaitu sebanyak 5 orang (62.5 %).
4.1.1.2 Pendidikan Klien
Table 4 Pendidikan terakhir Klien
No
Nama Klien
Pendidikan terakhir
1
Bu Rosi
Tidak sekolah
2
Bu dewi
Sekolah guru padang panjang
3
Bu Rida
Tidak sekolah
4
Bu Lamegogo
Tidak sekolah
5
Pak Sadarta
SD
6
Pak Bayu
SD
7
Bu Vira
SPG
8
Bu Lita
Tidak sekolah
Table 4 memperlihatkan bagaimana pendidikan terakhir klien sebelum di tempatkan di PPOS, ada yang tidak sekolah dan ada juga yang sampai pendidikan keguruaan. Data pada table menujukan klien yang tidak sekolah ada 4 orang (50 %), yaitu klien no 1,3,4, dan 8. Klien yang pendidikan terakhirnya sekolah ke guruan ada 2 orang (25%) yaitu klien no 2 dan 7. Klien yang berpendidikan SD ada 1 orang (12.5%) yaitu klien no 5. Klien yang berpendidikan SMP 1 orang (12.5 %) yaitu klien no 6. Jadi dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang tidak bersekolah yaitu 4 orang (50 %.).
4.1.1.3 Pekerjaan klien sebelum di tempakan di PPOS
Tabel 5 Pekerjaan klien sebelum di PPOS
No
Nama Klien
Pekerjaan sebelum di PPOS
1
Bu Rosi
Wiraswasta (Pedagang)
2
Bu dewi
Ibu rumah tangga
3
Bu Rida
Bertani
4
Bu Lamegogo
Bertani
5
Pak Sadarta
Wiraswasta
6
Pak Bayu
Bertani
7
Bu Vira
Guru SD
8
Bu Lita
Bertani
Table 5 Menujukan mengenai jenis pekerjaan klien sebelum mereka di tempatkan di PPOS. Data pada tabel memperlihatkan pekerjaan klien yang bertani ada 4 orang (50 %), yaitu klien no 3, 4, 6 dan 8. Klien yang bekerja sebagai wiraswasta (pedagang) ada 2 orang (25%), yaitu no 1 dan 5. Klien yang bekerja sebagai ibu rumah tangga 1 orang (12.5%) yaitu no 2. Klien yang bekerja sebagai guru SD ada 1 orang (12.5 %), yaitu no 7. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang pekerjaan sebelumnya petani, yaitu 4 orang (50 %.).
4.1.1.4 Penyakit klien
Tabel 6. Penyakit Klien
No
Nama Klien
Penyakit Klien
1
Bu Rosi
Maagh
2
Bu dewi
Sulit mendengar
3
Bu Rida
Maagh,
4
Bu Lamegogo
Maagh
5
Pak Sadarta
Batuk
6
Pak Bayu
Sakit perut (maagh)
7
Bu Vira
Lumpuh (kursi roda)
8
Bu Lita
Lumpuh (Kursi Roda)
Tabel 6 memperlihatkan bagaimana gambaran penyakit klien yang sering di keluhkanya. Data pada tabel 6 memperlihatkan 4 orang (50%) memiliki jenis penyakit yang sama yaitu maagh, yaitu no 1,3,4 dan 6. Klien yang duduk di korsi roda atau lumpuh ada 2 orang (25%) yaitu no 7 dan 8. Klien yang pendengaranya sulit untuk mendengar ada 1 orang (12.5%) yaitu no 2. Klien yang memiliki gaganguan kerongkongan (batuk) ada 1 orang (12.5%) yaitu no 5. Dari penjelasan diatas bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang memiliki penyakit maagh yaitu 4 orang (50 %.).
4.1.1.5 Latar Belakang Masuk PPOS
Tabel 7. Latar belakang masuk PPOS
No
Nama Klien
Latar Belakang masuk PPOS
1
Bu Rosi
Keinginan sendiri
2
Bu dewi
Keinginan sendiri
3
Bu Rida
Keinginan Keluarga
4
Bu Lamegogo
Keinginan Keluarga
5
Pak Sadarta
Kenginan Keluarga
6
Pak Bayu
Keinginan Keluarga
7
Bu Vira
Keinginan sendiri
8
Bu Lita
Keinginan keluarga
Table 7 Menujukan mengenai latar belakang masuk PPOS klien sebelum mereka di tempatkan di PPOS. Data pada tabel memperlihatkan latar belakang masuknya ke PPOS di karenakan keinginan keluarga ada 5 orang (62.5%), yaitu no 3,4,5,6 dan 8. klien yang di tempatkan di PPOS karena keinginan sendiri ada 3 orang (37.5%) yaitu no 1, 2 dan 7. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua lanjut usia yang latar belakang masuknya ke PPOS di karenakan keinginan keluarga ada 5 orang (62.5%).
4.1.1.6 Kunjungan keluarga
Tabel 8. Kunjugan keluarga
No
Nama Klien
Kunjungan keluarga
1
Bu Rosi
Sebulan 1 kali
2
Bu dewi
Sebulan 1 kali
3
Bu Rida
Sebulan 1 kali
4
Bu Lamegogo
Sebulan 1 kali
5
Pak Sadarta
Sebulan 1 kali
6
Pak Bayu
3 bulan sekali
7
Bu Vira
Sebulan 1 kali
8
Bu Lita
Sebulan 1 kali
Tabel 8 memperlihatkan bagaimana kunjungan keluarga terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS. Data pada tabel 8 menujukan rata-rata klien dikunjungi keluarganya sebulan sekali ada 7 orang (87.5%), yaitu no 1,2,3,4,5,7 Dan 8. klien yang sangat jarang di kunjungi keluarganya yakni 3 bulan sekali ada 1 orang (12.5%) yaitu no 6. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral yang dilaksanakan sebahagian besar kepada orang tua yang sebulan 1 kali dikunjungi keluarganya yaitu 7 orang (87.5%).
4.1.2 Faktor-faktor yang menyebabkan klien ditempatkan di PPOS
Tabel 9. fator-faktor yang menyebabkab klien di tempatkan di PPOS
No
Nama Klien
Keterangan
1
Bu Rosi
Nenek br bukit ini berasal dari daerah kabanjahe. Menurut pengakuanya dia berada di tempat ini karena keinginanya sendiri. Alasannya adalah dia terkena penyakit maagh. Dia mendengar PPOS dari kawan-kawanya. Dimana teman-teman seusianya mengatakan bahwa di PPOS ada dokter spesialis yang mengobati penyakitnya. Padahal sebenarnya dokter specials maagh itu hanya perasaanya saja, yang di katakana teman-temanya itu bukanlah dokter special maagh akan tetapi dokter umum. Selain itu alasan lain maka dia bersedia ditempatkan di PPOS adalah dikarenakn masalahnya dengan keluarganya yaitu kepada menantunya dia sering selisih paham. Ini dikarenakan menantunya tinggal di belakang rumahnya dan dia sering memangil menantunya untuk menemaninya. Akan tetapi menantunya sering tidak mau dan akirnya dia sering mersa sepi di rumah di masa-masa dia sakit. Untuk itu dia memutuskan untuk tinggal di PPOS
2
Bu dewi
Nenek br tarigan ini dulunya adalah seorang istri dari raja sibayak lingga. Dimana pada zaman belanda raja ini adalah orang yang sangat berpengaruh di mata masyrakat. Dia adalah istri kedua dari suaminya. Dia memiliki 4 anak, yang 2 bergama islam dan 2 beragama Kristen. Dua anaknya telah meninggal, dan satu medan dan satulagi dia Jakarta. Jika di Jakarta dia tidak mau tinggal sedangkan jika di medan dia tidak mau dengan anaknya yang beragama Islam. Hal inilah yang menjadi faktor utama maka dia ingin tinggal di PPOS. Selain itu saudara dari nenek ini adalah salah satu perintis didirikanya PPOS, jadi dia mengetahui tempat ini dari saudaranya.
3
Bu Rida
Nenek ini dulunya tinggal bersama anaknya di Medan, keluarnya yang menempatkannya disini. Nenek ini berkata di rumah tidak ada lagi temannya di rumah akibat kesibukan keluarga. Sebenarnya dia tidak ingin tinggal disini, karena jauh dari keluarga. Akan tetapi karena lama-kelaman sudah ada disini mau apa lagi seperti ini penuturanya kepada penulis. Secara umum keluarga menempatkan nenek ini disini karena dia sering sakit dan kadang kala dia menampakan gejala pikun dengan mengatakn selalu sakit padahal tidak. Ini dikarenakan dia sering merasa sepi di rumah
4
Bu Lamegogo
Nenek ini ada di PPOS karena keinginan keluarganya. Hal ini di karenakan dia dulunya tinggal di desa bawang bersama suaminya, sedangkan anaknya tinggal di luar dari desa. Ketika suaminya telah meninggal di sudah menjadi seorang yang sendiri ditambah kondisi fisinya yang semakin menurun. Jadi pada awalnya ia tinggal bersama anaknya di kabanjahe. Akibat kesibukan keluarga maka nenek ini tidak ada yang mengurus, sedangkan dia tidak bias mengurus dirinya sendiri “aku tidak mampu lagi” maka keluarga sepakat untuk menemaptkanya di PPOS.
5
Pak Sadarta
Kakek purba adalah orang simalungun, yang berasal dari patumbak. Pada awalnya dia tingal bersama anaknya di medan. Karena kesibukan anaknya maka kakek ini tidak ada yang mengurusnya maka dia ditempatkan di PPOS. Dia adalah jemaat GBKP jadi sudah banyak tahu tentang PPOS. Tanggapanya terhadap kelauragnya biasa saja karena menempatkan disini.
6
Pak Bayu
Kakek guru singa ini adalah berasal dari desa rumah pil-pil. Sebenarnya tidak jauh dari PPOS sukamakmur. Dia di tempatkan disini karena keinginan keluarganya. Padahal dia masih memiliki istri dan anak-anak yang mengurusnya. Dia sering mengatakan aku masih kuat, aku masih sanggup aku bingung mengapa anaku menpatkan aku disi. Kata-kata ini sering kakek ini ucapkan secara berulang-ulang.
7
Bu Vira
Nenek br sembiring ini adalah orang yang paling lama tinggal di PPOS. Sebelum di PPOS dia bekerja sebagai guru SD. Dia memiliki 2 anak., dia mengalami kelumpuhan pada saat melahirkan anak yang kedua. Setelah itu dia tinggal di medan bersama keluarganya. Selama di medan dia mengalami hal yang sangat menyakitkan yaitu suaminya menikah lagi dengan orang lain.namun demikian istri keduanya meninggal dunia. Dan apa akhirnya suaminya kembali lagi kepada nenek biring. Pada satu ketika ibu mertuanya menyuruh keluarganya tinggal di batu karang. nenek biring ini tidak bersedia karena ketakutanya akan di tinggal suaminya lagi. Jadi dia memilih tinggal di PPOS.
8
Bu Lita
Nenek br bangun ini ditempatkan di PPOS karena keinginan keluarga. Dia adalah seorang yang lumpuh, pada awalnya dulu dia tidak lumpuh. Dulunya dia memiliki 3 orang anak, 2 orang laki-kali sedangkan 1 orang perempuan. Pada saat itu seorang anaknya laki-laki meninggal dunia. Hal ini membuat dia sangat terluka. Selang beberapa waktu anaknya laki-laki yang paling muda meningal dunia. Hal ini membuat hatinya semakin tidak menerima kehidupan ini. Maka ketika dia di kamar mandi dia jatuh dan storke yang mengakibatkan kelumpuhan pada kakinya. Hal inilah yang menjadi factor utama dia di tempatkan di PPOS karena keinginan kelurganya yang tidak bias mengurusnya. Sedangkan anaknya yang perumpuan sudah anjut usia dan tinggal di siantar.
Tabel 9 memperlihatkan faktor-faktor klien (orang tua lanjut usia) di tempatkan di PPOS. Data tabel ini adalah hasil percakapan penulis dengan orang tua lanjut usia padapertemuan ke II. Dimana secara umum faktor yang menyebabkan mereka di tempatkan di PPOS adalah dikarenakan mereka sudah sering sakit sehingga di rumah tidak ada lagi yang merawat dan menemaninya akibat dari kesibukan keluarganya
4.1.3 Penerimaan dan perasaan orang tua yang di tempatkan di PPOS
Tabel 10. Penerimaan dan Perasaan orang tua yang di tempatkan di PPOS
No
Nama Klien
Keterangan
1
Bu Rosi
Seperti yang sudah dituliskan diatas bahwa nenek br bukit ini datang ke PPOS karena keinginan sendiri. Pada saat di PPOS pada awalnya dia merasa senang ada di tempat ini. Akan tetapi lama-kelamaan tempat ini bukan seperti yang dia inginkan yaitu ditempat ini memiliki dokter sepesials untuk penyakitnya. selama di tempat ini dia mengatakan “saya merasa sangat sepi tinggal disini, saya menyesal ada di sini, seharusnya saya belum ada di tempat ini dia mengatakanya sambil ingin menangis tetapi air matnya tidak keluar. Setelah itu dia menjelaskan lagi selama disini dia jarang di periska dokter. Padahal saya merasa sering sakit di bahagian perut saya. Ketika saya menayakan berapa kali dia di periksa dokter dia tidak ingat akan tetapi dia mengatakan terhitung dengan jari tangan. Dan hal inilah yang sering membuat dia kwatir akan hidupnya yang sudah sering sakit-sakitan.
2
Bu dewi
Nenek rita adalah salah seorang yang paling tenang di banding penghuni lainya. Dia bercerita ketika dia di tempatkan di tempat ini dia merasa senang dan tidak mendapat masalah. Hal ini dikarenakan ketika dia tinggal bersama anak-anaknya yang beragama lain dia merasa tidak tenang dan takut nantinya anaknya mengajak dia ke agamanya. Jadi dia mengatakan lebih baik disini sering kebaktian masalahnya saya sudah tua pendengaran saya sudah tidak seperti dulu lagi. Akan tetapi kadangkala saya juga merasa kesepian tinggal di sini jadi dengan bekerja membersihkan pekarang yang saya lakukan untuk mengisi waktu.
3
Bu Rida
Dalam pertemuan ini kondisi nenek karo ini dalam kondisi kurang sehat. Ketika diajak untuk bercerita bagaimana perasaanya selama di sini dia langsung menangis. Sedih saya rasa dimana saya sangat merasa kesepian tinggal disini. Meskipun disini banyak orang yang seumur tetapi pikiran saya pada keluarga saya. Saya sering kwatir bagaimana keadaanya dan cucu saya. Selama disini dia merasa tidak enak makan dan perunya sering merasa sakit. Hal yang sama seperti nenek bru bukit juga di tuturkan olehnya mengenai dokter yang jarang memerisanya. Sementara dia sering merasa sakit perut.
4
Bu Lamegogo
Nenek br tarigan ini pada awalnya juga sangat merasa senang tinggal disini. Tetapi lama-kelamaan dia juga merasa ksepian dan jauh dari keluarga. Dia yang dulunya bekerja sebagai para petani kini tidak bisa lagi bekerja akibat dia di tempatkan disini. Kadang kala dia merasa bosan dengan kehidupan-kehidupan begini saja disini dia mengatakan “lalit kai idahiken ijenda” (tidak ada pekerjaan disini). Jadi untuk mengisi waktunya supaya dia tidak merasa sepi dia mengusuk orang lain dan mendapat upah kepada sesamanya penghuni PPOS.
5
Pak Sadarta
Selama tinggal di PPOS kakek purba kadang kala merasa sepi tingal disni. Untuk mengisi kekosongan dia sering membaca Alkitab dan koran. Hal yang menyebakan dia merasa sepi dikarenakan kegiatan baginya sangatlah kurang di tambah kondisi fisiknya yang mulai menurun
6
Pak Bayu
Kakek guru singa adalah salah seorang yang merasa paling tidak nyaman tinggal di PPOS. Dia mengatakan banyak sekali keluhan, pada awalnya dia sebenarnya tidak senang tinggal di PPOS akan tetapi karena keinginan keluarga mau tidak mau ya harus. Selama tinggal di PPOS dia sering merasa kesepian dan jauh dari keluarga. Dia merasa banyak kekurangan dari tempat tinggalnya di PPOS. Dia sering sakit perut dan sering obatnya itu-itu saja dia tidak merasa nyaman dan penyakitnya tidak sembuh-sembuh.
7
Bu Vira
Berbicara tentang kesepian dan keceasaan kepada nenek br depari dia merasa tidak ada keluhan untuk hal ini. Mungkin pada awlnya dia ditempatkan perasaan sepi dan cemas itu sering ada akan tetapi ketika dia sudah lama tinggal disini kurang lebih selama 4 tahun dia menikmati untuk tingal disini
8
Bu Lita
Nenek br bangun ini pada walnya juga sering merasa kesepian tinggal disini. Hal ini dikarenkan kondisninya yang sudah tidak bisa berjalan. Dia sering mengatakan beginilah kalo sudah lumpuh mau apa lagi. Kadang kala dia sering kwatir akan hisudupnya. Dia sering mengigat harta bendanya yang ada di kampung. Bagaimana keadaan keluarganya kesehatan keluarganya dan sebagainya. Mengenai keluhan selama di PPOS sebenarnya dia ingin sekali berjalan kesana kemari untuk mendapat udara segar. Karena selama ini dia hanya bisa duduk diam disamping ruang makan dan jika mau tidur dia kemara. Kadangkala dia ingin disorong ketaman dan lain sebagainya.
Tabel 10 memperlihatkan penerimaan dan perasaan klien (orang tua lanjut usia) yang di tempatkan di PPOS. Data tabel ini adalah hasil percakapan penulis dengan orang tua lanjut usia pada pertemuan ke III. Dimana dari hasil percakapan dapat dikatakan kebanyakan dari klien tidak menerima dia di tempatkan di PPOS, sehingga ketika dia di tempatkan di sanadia merasa dijauhkan dari keluarga dan juga perasaan kesepian yang sering muncul dalam pikiranya.
4.1.4 Faktor-Faktor yang menyebabkan orangtua lanjut usia yang tinggal di PPOS memiliki ketidaktenangan hidup.
Tabel 11. Hasil alat ukur tingkat ketenangan hidup sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan
No Pernyataan
PERNYATAAN O-4
0
1
2
3
4
1
- orang
- orang
1 orang
7 orang
- orang
2
1 orang
1 orang
6 orang
- orang
- orang
3
- orang
- orang
1 orang
7 orang
- orang
4
-orang
2 orang
5 orang
1 orang
- orang
5
- orang
3 orang
5 orang
- orang
- orang
6
3 orang
- orang
5 orang
- orang
- orang
7
- orang
- orang
3 orang
5 orang
- orang
8
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
9
- orang
1 orang
2 orang
5 orang
- orang
10
- orang
- orang
3 orang
5 orang
orang
11
3 orang
2 orang
3 orang
- orang
- orang
12
- orang
1 orang
5 orang
1 orang
- orang
13
- orang
1 orang
3 orang
4 orang
- orang
14
- orang
- orang
3 orang
5 orang
- orang
15
- orang
3 orang
4 orang
1 orang
- orang
16
- orang
1 orang
4 orang
3 orang
- orang
17
- orang
1 orang
5 orang
2 orang
- orang
18
orang
- orang
5 orang
3 orang
- orang
19
- orang
3 orang
3 orang
2 orang
- orang
20
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
Tabel 11 memperlihatkan bahwa ada 7 orang (87.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 1 dan 3, menyatakan pernyataan 3. pernyataan 3 pada kumpulan pernyataan no 1 adalah sering mersa sepi tinggal di PPOS; pada kumpulan pernyataan no 3 adalah sering merasa jauh dari keluarga.
Ada 6 orang (75%) klien untuk kumpulan pernyataan no 2,8 dan 20, menyatakan pernyataan 2. Pernyataa 2 pada kumpulan no 2 adalah kadang-kadang merasa senang tinggal di PPOS; pada kumpulan pernyataan no 8 adalah kadang-kadang kematian adalah hal yang menakutkan bagiku; pada kumpulan pernyatan no 20 adalah kadang-kadang merasa tenang tinggal di PPOS.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan 4,5,6,12, 17 dan 18, menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan no 4 adalah kadang-kadang saya merasa tidak berguna; pada kumpulan pernyataan no 5 adalah kadang-kadang saya merasa aman; pada kumpulan pernyataan no 6 adalah kadang-kadang saya merasa tidak aman; pada kumpulan no 12 adalah kadang-kadang saya merasa takut dijauhi keluarga. pada kumpulan no 17 adalah kadang-kadang saya merasa gugup; pada kumpulan no 18 adalah saya merasa gelisah.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan 7 ,9 dan 10, dan 14 menyatakan pernyataan 3. Pernyataan 3 pada kumpulan no 7 adalah saya sering merasa takut tinggal disini; pada kumpulan no 9 adalah sering merasa kematian adalah sesuatu yang kunanitikan; pada kumpulan no 10 adalah saya sering merasa sudah siap untuk dipanggil Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 14 adalah saya merasa sering merasa bingung menjalani kehidupan.
Ada 4 orang (50 %) klien untuk kumpulan pernyataan no 8, menyatakan pernyataan 0. Pernyataan 0 pada kumpulan no 8 adalah tidak pernah merasa kematian adalah hal yang menakutkan.
Ada 4 orang (50 %) klien untuk kumpulan pernyataan no 15 dan 16 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan no 15 adalah kadang-kadang saya sedang mencemaskan kemungkinan buruk; pernyataan no 16 adalah kadang-kadang saya kurang percaya diri
Ada 4 orang (50 %) klien untuk kumpulan pernyataan no 13 menyatakan pernyataan 3. Pernyataan 3 pada kumpulan no 13 adalah saya sering merasa tidak bahagia.
Dengan demikian, dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ketidaktenangan hidup dari kalangan orang tua yang lanjut usia ketika di tempatkan di PPOS adalah karena untuk hal-hal yang berikut ini: sering merasa sepi tinggal di PPOS, sering merasa jauh dari keluarga, sering merasa takut tinggal di PPOS, sering merasa kematian adalah sesuatu hal yang dinantikanya, sering merasa sudah siap untuk dipanggil Tuhan, sering merasa tidak bahagia, sering merasa bingung menjalani kehidupan.
Selain itu hal-hal yang berikut ini: saya merasa senang tinggal di PPOS, saya merasa tidak berguna, saya merasa aman, saya merasa tidak aman, kematian adalah hal yang menakutkan bagiku, saya merasa takut dijauhi keluarga, saya kurang percaya diri, saya merasa gugup, sedang mencemaskan kemungkinan buruk, saya merasa gilisah, hanya sebatas kadang-kadang.
Seperti yang telah dipaparkan pada bahagian terdahulu (bab.2.4) ketenangan hidup adalah menyakut sikap perasaan jiwa seseorang. Dilihat dari alat ukur yang diberikan kepada orangtua lanjut usia yang tinggal di PPOS, maka bisa dikatakan tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia masih sangat kurang, dimana mereka masih sangat sering merasa kesepian dan juga memiliki perasan-perasan yang sangat tidak menentu yang menyebakan dia tidak memaknai kehidupan di usianya yang senja.
4.1.5 Faktor-faktor yang menyebabkan menurunya tingkat penyerahan diri terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS
Tabel 12. Hasil alat ukur Penyerahan diri sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan
No Pernyataan
PERNYATAAN O-4
0
1
2
3
4
1
- orang
1 orang
7 orang
- orang
- orang
2
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
3
- orang
7 orang
1 orang
orang
- orang
4
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
5
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
6
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
7
- orang
5 orang
3 orang
- orang
- orang
8
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
9
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
10
- orang
3 orang
5 orang
- orang
- orang
11
- orang
- orang
8 orang
- orang
- orang
12
- orang
1 orang
7 orang
- orang
- orang
13
1 orang
4 orang
3 orang
- orang
- orang
14
1 orang
3 orang
4 orang
- orang
- orang
15
- orang
3 orang
5 orang
- orang
- orang
16
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
17
- orang
7 orang
1 orang
- orang
- orang
18
- orang
6 orang
2 orang
- orang
- orang
19
- orang
1 orang
7 orang
-orang
- orang
20
- orang
2 orang
6 orang
- orang
- orang
Tabel 12 memperlihatkan bahwa ada 8 orang (100%) klien untuk kumpulan pernyataan no 11, menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 11 adalah kadang-kadang merasa senang bernanyi.
Ada 7 orang (87.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 3 dan 17, menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 3 adalah pernah merasa diperbaharui dari hari ke hari; pada kumpulan pernyataan no 17 adalah pernah merasakan kehadirat Tuhan saat bersaat tuduh.
Ada 7 orang (87.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 1, 12 dan 19 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 1 adalah kadang-kadang percaya pada kebenaraan firman Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 12 adalah kadang-kadang bernyanyi membuat hati saya lebih tenang; pada kumpulan pernyataan no 19 adalah kadang-kadang punya kerinduaan untuk ibadah minggu.
Ada 6 orang (75%) klien untuk kumpulan pernyataan no 6, 8, 9 dan 18 menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 6 adalah pernah berdoa dalam segala hal; pada kumpulan pernyataan no 8 adalah pernah berserah diri dengan sunguh-sunguh kepada Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 9 adalah pernah setiap mau tidur saya berdoa; pada kumpulan pernyataan 18 pernah ingin ikut ambil bahagian dalam kegiataan saat teduh.
Ada 6 orang (75%) klien untuk kumpulan pernyataan no 2, 4, 5, 16 dan 20 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 2 adalah kadang-kadang merasakan firman Tuhan menyegarkan jiwa; pada kumpulan pernyataan no 4 adalah kadang-kadang percaya pada firman Tuhan tentang kebangkitan dan hidup yang kekal; pada kumpulan pernyataan no 5 adalah kadang-kadang merasakan hidup ini adalah pemberian Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 16 adalah kadang-kadang punya kerinduaan untuk saat teduh; pada kumpulan pernyataan no 20 adalah kadang-kadang kerinduaan untuk ibadah malam.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 7 menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 7 adalah pernah percaya Tuhan mendengarkan doaku.
Ada 5 orang (62.5%) klien untuk kumpulan pernyataan no 10 dan 15 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 10 adalah kadang-kadang mensyukuri segala pemberiaan Tuhan; pada kumpulan pernyataan no 15 adalah kadang-kadang bersyukur setiap waktu lewat nyanyian.
Ada 4 orang (50%) klien untuk kumpulan pernyataan no 13 menyatakan pernyataan 1. Pernyataan 1 pada kumpulan pernyataan no 13 pernah berserah diri dengan nyanyian.
Ada 4 orang (50%) klien untuk kumpulan pernyataan no 14 menyatakan pernyataan 2. Pernyataan 2 pada kumpulan pernyataan no 14 adalah kadang-kadang nyanyian bisa mengubah kehidupanku.
Dengan demikian, dari penjelasaan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor- faktor yang menyebabkan menurunya tingkat penyerahan diri terhadap orang tua lanjut usia karena untuk hal-hal berikut ini: senang bernanyi, percaya pada kebenaraan firman Tuhan, punya kerinduaan untuk ibadah minggu, merasakan firman Tuhan menyegarkan jiwa, percaya pada firman Tuhan tentang kebangkitan dan hidup yang kekal, merasakan hidup ini adalah pemberian Tuhan, punya kerinduaan untuk saat teduh, kerinduaan untuk ibadah malam, mensyukuri segala pemberiaan Tuhan, bersyukur setiap waktu lewat nyanyian, bernyanyi membuat hati saya lebih tenang, nyanyian bisa mengubah kehidupanku, hanya sebatas kadang-kadang
Dan untuk hal-hal yang berikut ini: Merasa diperbaharui dari hari ke hari, merasakan kehadirat Tuhan saat bersaat tuduh, berdoa dalam segala hal, berserah diri dengan sunguh-sunguh kepada Tuhan, setiap mau tidur saya berdoa, ingin ikut ambil bahagian dalam kegiataan saat teduh, percaya Tuhan mendengarkan doaku, berserah diri dengan nyanyian, hanya sebatas pernah.
Seperti yang telah di paparkan pada bagian terdahulu (bab.2.5) penyerahan diri adalah menyerahkan selruh hidupnya secara totalitas kepada Tuhan. Dari penjelasan diatas memperlihatkan bahwa penyerhan diri dalam kalangan orang tua lanjut usia masih sangat belum menyerhan dirinya secara sunguh-sunguh kepada Tuhan. Ini dikarenakan setiap pernyataan yang diajukan hanya sebatas pernah dan kadang-kadang saja, dalam artian belum menjadi sebuah kerinduaan.
4.1.6 Tingkat ketenangan hidup dan penyerahaan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayan pastoral dilaksnakan.
4.1.6.1 Tingkat Ketenangan hidup orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayanan pastoral.
Tabel 13. Tingkat ketenangan hidup sebelum pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
46
Tingkat Ketenangan hidup kurang
2
Bu dewi
32
Tingkat Ketenangan hidup baik
3
Bu Rida
48
Tingkat Ketenangan hidup kurang
4
Bu Lamegogo
46
Tingkat Ketenangan hidup kurang
5
Pak Sadarta
39
Tingkat Ketenangan hidup baik
6
Pak Bayu
47
Tingkat Ketenangan hidup kurang
7
Bu Vira
33
Tingkat Ketenangan hidup baik
8
Bu Lita
47
Tingkat Ketenangan hidup kurang
Data pada tabel 13 menujukan bahwa skore klien mulai 32 hingga 48. data memperlihatkan bahwa kien dengan skore antara 0-20 tidak ada. Klien dengan skore antara 21-40, ada 3 orang (37.5%), yaitu klien no 2, 5, dan 7. klien dengan skore antara 41-60 ada 5 orang (62.5%), yaitu klien no 1, 3, 4, 6 dan 8. dengan demikian, klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik ada 3 orang (37.5%). Klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup kurang ada 5 orang (62.5%).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sebelum dilaksanakan percakapan pastoral (pelayanan pastoral) tingkat ketenangan hidup yang dialami seluruh klien terdiri dari : memiliki ketenangan hidup yang baik dan kurang. Sebahagian klien kurang memiliki ketenangan hidup, sebanyak 5 orang (62.5%).
4.1.6.1 Tingkat Penyerahan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayanan pastoral.
Tabel 14. Tingkat Penyerahan diri sebelum pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
32
tradisi/kebiasaan
2
Bu dewi
38
tradisi/kebiasaan
3
Bu Rida
21
tradisi/kebiasaan
4
Bu Lamegogo
32
tradisi/kebiasaan
5
Pak Sadarta
31
tradisi/kebiasaan
6
Pak Bayu
31
tradisi/kebiasaan
7
Bu Vira
36
tradisi/kebiasaan
8
Bu Lita
26
tradisi/kebiasaan
Data pada tabel 14 menujukan bahwa skore klien mulai dari antara 21 hingga 38. data tabel memperlihatkan bahwa klien dengan skore 0-20, tidak ada. Klien dengan skore antara 21- 40, 8 orang (100%). Klien dengan skore antara 41-60 tidak ada. Klien dengan skore antara 61-80 tidak ada. Dengan demikian, seluruh klien (100%) mengalami tingkat penyerahan diri sebagai tradis/kebiasaan.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh klien sebelum dilaksanakan pelayanan pastoral dalam hal percakapan pastoral mengalami tingkat penyerahaan diri hanya sebagai suatu tradisi atau kebiasaan.
4.1.7 Tingkat ketenangan hidup dan penyerahaan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sesudah pelayan pastoral dilakasnakan.
4.1.7.1 Tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayan pastoral dilaksanakan.
Tabel 15. Tingkat ketenangan hidup sesudah pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
40
Tingkat Ketenangan hidup baik
2
Bu dewi
23
Tingkat Ketenangan hidup baik
3
Bu Rida
42
Tingkat Ketenangan hidup kurang
4
Bu Lamegogo
34
Tingkat Ketenangan hidup baik
5
Pak Sadarta
25
Tingkat Ketenangan hidup baik
6
Pak Bayu
37
Tingkat Ketenangan hidup baik
7
Bu Vira
23
Tingkat Ketenangan hidup baik
8
Bu Lita
38
Tingkat Ketenangan hidup baik
Data pada tabel 15 menujukan bahwa skore klien mulai 23 hingga 42. Data memperlihatkan bahwa kien dengan skore antara 0-20 tidak ada. Klien dengan skore antara 21-40, ada 7 orang (87.5%), yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6, 7 dan 8. Klien dengan skore antara 41-60 ada 1 orang (12.5%) , yaitu klien no 3. Dengan demikian, klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik ada 7 orang (87.5%). Klien yang memiliki tingkat ketenangan hidup kurang ada 1 orang (12.5%).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh klien setelah dilaksanakan peercakapan pastoral maka tingkat ketenangan hidup yang dialami sekuruh klien adalah kurang memiliki ketenangan hidup dan sudah memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik. Pada umumnya klien sudah memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik yaitu 7 orang (87.5%).
4.1.7.2 Tingkat Penyerhan diri orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS sebelum pelayan pastoral dilaksanakan.
Tabel 16. Tingkat Penyerahan diri sebelum pelayanan pastoral
No
Nama Klien
Skore
Keterangan
1
Bu Rosi
48
Kerinduaan
2
Bu dewi
53
Kerinduaan
3
Bu Rida
35
Tradisi/kebiasaan
4
Bu Lamegogo
49
Kerinduaan
5
Pak Sadarta
46
Kerinduaan
6
Pak Bayu
46
Kerinduaan
7
Bu Vira
51
Kerinduaan
8
Bu Lita
45
Kerinduaan
Data pada tabel 15 menujukan bahwa skore klien mulai dari antara 35 hingga 53. Data tabel memperlihatkan bahwa klien dengan skore 0-20, tidak ada. Klien dengan skore antara 21- 40, 7 orang (87.5%) yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6, 7 dan 8. Klien dengan skore antara 41-60 ada 1 orang (12.5%) , yaitu klien no 3. Klien dengan skore antara 61-80 tidak ada. Dengan demikian, ada 1 orang klien yang masih mengalami tingkat penyerahan diri sebagai suatu tradis/kebiasaan. Klien yang mengalami tingkat penyerahan diri menjadi suatu kerinduaan ada 7 orang (87.5%).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa setelah diadakan percakapan pastoral tingkat penyerahaan diri yang dialami oleh seluruh klien terdiri dari ; tradisi/kebiasaan dan kerinduaan. Sebahagian klien (87.5%) mengalami tingkat penyerhan diri pada tingkat kerinduaan.
4.1.8 Dampak Pelayanan Pastoral menikatkan tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri terhadap orang tua lanjut usia.
4.1.8.1 Dampak pelayanan pastoral menikatkan tingkat ketenanganhidup terhadap orang tua lanju usia
Tabel 17. Dampak Pelayanan Pastoral terhadap tingkat ketenangan hidup
No
Nama Klien
Skore tingkat ketenangan hidup
Hasil
Sebelum Percakapan
Sesudah Percakapan
Skore
Tingkat
skore
Tingkat
skore
Tingkat
1
Bu Rosi
46
Kurang
40
Baik
Turun
Turun
2
Bu dewi
32
Baik
23
Baik
Turun
Tetap
3
Bu Rida
48
Kurang
39
Baik
Turun
Tetap
4
Bu Lamegogo
46
Kurang
34
Baik
Turun
Turun
5
Pak Sadarta
39
Baik
25
Baik
Turun
Tetap
6
Pak Bayu
47
Kurang
37
Baik
Turun
Turun
7
Bu Vira
33
Baik
23
Baik
Turun
Tetap
8
Bu Lita
47
Kurang
38
Baik
Turun
Turun
Data pada tabel 17 memperlihatkan bahwa pada klien no 1, terjadi penurunan skore 6 angka, dari 46 menjadi 40. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 2, terjadi penurunan skore 9 angka, dari 32 menjadi 23, namun penurunan ini belum sigifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup. Dari tingkat ketenangan hidup baik menjadi tingkat ketenangan hidup sangat baik.
Pada klien no 3, terjadi penurunan skore 9 angka, dari 48 menjadi 39, Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 4, terjadi penurunan skore 12 angka, dari 46 menjadi 34. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 5, terjadi penurunan skore 14 angka, dari 39 menjadi 25, namun penurunan ini belum sigifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup. Dari tingkat ketenangan hidup baik menjadi tingkat ketenangan hidup sangat baik.
Pada klien no 6, terjadi penurunan skore 10 angka, dari 47 menjadi 37. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Pada klien no 7, terjadi penurunan skore 10 angka, dari 33 menjadi 23, namun penurunan ini belum sigifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup. Dari tingkat ketenangan hidup baik menjadi tingkat ketenangan hidup sangat baik.
Pada klien no 8, terjadi penurunan skore 9 angka, dari 47 menjadi 38. Penurunan ini signifikan terhadap penurunan kategori tingkat ketenangan hidup, dari kurang memiliki tingkat ketenangan hidup menjadi memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Dari penjelasan di atas dapat di katakan bahwa skore tingkat ketenangan hidup untuk seluruh klien (100%) mengalami penurunan signitifikan . Penurunan skore tingkat ketenangan hidup terdiri dari dua tingkatan signitifikan (62.5%) dan tidak signitifikan (37.5%). Klien yang mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 5 orang (62.5%), yaitu klien no 1, 3, 4, 6, dan 8. Penurunan tingkat ketenangan hidup itu terdiri dari kurang memiliki ketenangan hidup menjadi memiliki ketenangan hidup yang baik. Klien yang tidak mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 3 orang (37.5%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral terhadap klien berdampak pada menurunya skore ketenangan hidup klien (100%) dan tingkat keteangan klien (62.5%).
4.1.8.1 Dampak pelayanan pastoral menikatkan penyerahaan diri terhadap orang tua lanju usia
Tabel 18. Dampak Pelayanan Pastoral terhadap tingkat ketenangan hidup
No
Nama Klien
Skore tingkat penyerahan diri
Hasil
Sebelum Percakapan
Sesudah Percakapan
Skore
Tingkat
skore
Tingkat
skore
Tingkat
1
Bu Rosi
32
Tradisi/kebiasaan
48
Kerinduaan
Naik
Naik
2
Bu dewi
38
Tradisi/kebiasaan
53
Kerinduaan
Naik
Naik
3
Bu Rida
21
Tradisi/kebiasaan
35
Tradisi/kebiasaan
Naik
Tetap
4
Bu Lamegogo
32
Tradisi/kebiasaan
49
Kerinduaan
Naik
Naik
5
Pak Sadarta
31
Tradisi/kebiasaan
46
Kerinduaan
Naik
Naik
6
Pak Bayu
31
Tradisi/kebiasaan
45
Kerinduaan
Naik
Naik
7
Bu Vira
36
Tradisi/kebiasaan
51
Kerinduaan
Naik
Naik
8
Bu Lita
26
Tradisi/kebiasaan
40
Tradisi/kebiasaan
Naik
Tetap
Data pada tabel 18, memperlihatkan bahwa pada klien no 1, terjadi kenaikan skore 16 angka, dari 32 menjadi 45. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 2, terjadi kenaikan skore 15 angka, dari 38 menjadi 53. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 3, terjadi kenaikan skore 14 angka, dari 21 menjadi 35. Namun kenaikan skore ini belum signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 4, terjadi kenaikan skore 17 angka, dari 32 menjadi 49. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 5, terjadi kenaikan skore 15 angka, dari 46 menjadi 31. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 6, terjadi kenaikan skore 14 angka, dari 45 menjadi 31. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 7, terjadi kenaikan skore 15 angka, dari 36 menjadi 51. Kenaikan skore ini signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Pada klien no 8, terjadi kenaikan skore 14 angka, dari 26 menjadi 40. Namun kenaikan skore ini belum signifikan terhadap kenaikan kategori tingkat penyerahan diri, dari tradis/kebiasaan menjadi kerinduan.
Dari penjelasan di atas dapat di katakan bahwa skore tingkat penyerahan diri untuk seluruh klien (100%) mengalami kenaikan. Kenaikan skore itu terdiri dari dua tingkatan: signitifikan (75%) dan tidak signitifikan (25%). Klien yang mengalami kenaikan tingkat penyerahan diri ada 6 orang (75%), yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6 dan 7. Kenaikan tingkatan itu terdiri dari tradisi/kebiasaan menjadi kerinduaan. Klien yang tidak mengalami kenaikan tingkat penyerahaan diri, namun skore mendekati “ambang batas” tingkat kerinduan ada 2 orang (25%), yaitu klien no 3 dan 8. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral terhadap klien berdampak pada kenaikan skore penyerahaan diri klien (100%) dan tingkat penyerahan diri klien (75%)
4.2 Pembuktian Hipotesa
Dari hasil penelitian menujukan bahwa sebelum dilaksanakan pelayanan pastoral terhadap klien yang dialami oleh klien terdiri dari kurang memiliki ketenangan hidup ada 5 orang dan memiliki ketenangan hidup yang baik ada 3 orang; seluruh klien mengalami tingkat penyerahaan diri sebagai tradisi atau kebiasaan.
Setelah dilaksanakan pelayanan pastoral, hasil penelitian menujukan bahwa:
1. Seluruh klien menujukan penurunan skore tingkat ketenangan hidup (100%). Klien yang mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 5 orang (62.5%), yaitu klien no 1, 3, 4, 6, dan 8. Penurunan tingkat ketenangan hidup itu terdiri dari kurang memiliki ketenangan hidup menjadi memiliki ketenangan hidup yang baik. Klien yang tidak mengalami penurunan tingkat ketenangan hidup ada 3 orang , yaitu klien no 2, 5 dan 7. Untuk klien no 2, 5 dan 7, memiliki skore “diambang batas” tingkat ketenangan hidup sangat baik.
2. Terjadi kenaikan skore untuk seluruh klien (100%) dan kenaikan tingkat penyerhaan diri pada 6 orang (75%), yaitu klien no 1, 2, 4, 5, 6 dan 7. Kenaikan tingkatan itu terdiri dari tradisi/kebiasaan menjadi kerinduaan. Klien yang tidak mengalami kenaikan tingkat penyerahaan diri, namun skore mendekati “ambang batas” tingkat kerinduan ada 2 orang (25%), yaitu klien no 3 dan 8.
Dengan demikian dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pastoral terhadap klien berdampak pada menurunya skore dan tingkat ketenangan hidup klien; pada naiknya skore dan tingkat penyerhaan diri klien.
Berdasarkan hal di atas, maka hipotesa penelitian: “Jika pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia dilaksanakan maka akan meningkatkan tingkat peyerahan diri dan ketenangan hidup mereka di Pusat Pelayanan Orang Tua Sejahtra (PPOS) GBKP taman jubelium Sukamakmur” dapat dibuktikan
4.3 Reflesi Teologis
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Gambaran umum klien (orang tua lanjut usia) yang tinggal di PPOS
Berusia antara 58-87 tahun, pada umunya berstatus janda (tidak lengkap), di tempatkan di PPOS karena keinginan keluarga, di kunjungi sebulan sekali mengalami perasaan kesepian dan jauh dari keluarga di tempatkan disana.
2. Faktor-faktor penyebab orang tua lanjut usia mengalami ketidaktenangan hidup dan menurunya tingkat penyerahan diri mereka.
1. Faktor-faktor penyebab orang tua lanjut usia mengalami ketidaktenangan hidup
Faktor-faktor penyebab orang tua lanjut usia mengalami ketidaktenangan hidup adalah karena untuk hal-hal yang berikut ini: sering merasa sepi tinggal di PPOS, sering merasa jauh dari keluarga, sering merasa takut tinggal di PPOS, sering merasa kematian adalah sesuatu hal yang dinantikanya, sering merasa sudah siap untuk dipanggil Tuhan, sering merasa tidak bahagia, sering merasa bingung menjalani kehidupan. Selain itu hal-hal yang berikut ini: saya merasa senang tinggal di PPOS, saya merasa tidak berguna, saya merasa aman, saya merasa tidak aman, kematian adalah hal yang menakutkan bagiku, saya merasa takut dijauhi keluarga, saya kurang percaya diri, saya merasa gugup, sedang mencemaskan kemungkinan buruk, saya merasa gilisah, hanya sebatas kadang-kadang.
2. Faktor-faktor penyebab menurunya tingkat penyerahan diri orang tua lanjut usia
Faktor-faktor penyebab menurunya tingkat penyerahan diri orang tua lanjut usia adalah karena hal-hal berikut ini: senang bernanyi, percaya pada kebenaraan firman Tuhan, punya kerinduaan untuk ibadah minggu, merasakan firman Tuhan menyegarkan jiwa, percaya pada firman Tuhan tentang kebangkitan dan hidup yang kekal, merasakan hidup ini adalah pemberian Tuhan, punya kerinduaan untuk saat teduh, kerinduaan untuk ibadah malam, mensyukuri segala pemberiaan Tuhan, bersyukur setiap waktu lewat nyanyian, bernyanyi membuat hati saya lebih tenang, nyanyian bisa mengubah kehidupanku, hanya sebatas kadang-kadang. Dan untuk hal-hal yang berikut ini: Merasa diperbaharui dari hari ke hari, merasakan kehadirat Tuhan saat bersaat tuduh, berdoa dalam segala hal, berserah diri dengan sunguh-sunguh kepada Tuhan, setiap mau tidur saya berdoa, ingin ikut ambil bahagian dalam kegiataan saat teduh, percaya Tuhan mendengarkan doaku, berserah diri dengan nyanyian, hanya sebatas pernah.
3. Tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri orang tua lanjut usia sebelum pelayanan pastoral.
Tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia sebelum pelayanan pastoral dilaksanakan terdiri dari : memiliki ketenangan hidup yang baik dan kurang.
Tingkat penyerahaan diri orang tua lanjut usia sebelum pelayanan pastoral adalah seluruhnya mengalami tingkat penyerahaan diri hanya sebagai suatu tradisi atau kebiasaan.
4. Tingkat ketenangan hidup dan penyerahan diri orang tua lanjut usia sesudah pelayanan pastoral.
Tingkat ketenangan hidup orang tua lanjut usia sesudah pelayanan pastoral dilaksanakanselurunya sudah memiliki tingkat ketenangan hidup yang baik.
Tingkat penyerahaan diri orang tua lanjut usia sesudah pelayanan pastoral dilaksanakan bahwa setelah diadakan percakapan pastoral tingkat penyerahaan diri yang dialami oleh seluruh klien terdiri dari tradisi/kebiasaan dan kerinduaan.
5. Dampak pelayanan pastoral meningkatkan tingkat ketenangan hidup dan penyerahaan diri orang tua lanjut usia.
Pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia berdampak pada menurunya skore tingkat ketenangan hidup dari kurang memiliki ketenangan hidup menjadi memiliki ketenangan hidup yang baik.
Pelayanan pastoral terhadap orang tua lanjut usia berdampak pada kenaikan skore dan tingkat penyerahaan diri dari sebahagiaan besar mereka dari tingkat tradisi/kerinduaan menjadi tingkat bermakna.
5.2 Saran
Pada saat sekarang ini tempat penitipaan untuk orang tua lanjut usia semakin diminati, meskipun bagi sebahagian orang masih anti dengan tempat ini. Secara khusus PPOS sangat berbeda dengan panti wreda pada umunya.dimana PPOS bukan hanya pelayanan dari segi fisik saja akan tetapi dari segi kerohanian juga di perlengkapi. Beranjak dari hal diatas tentu saja membutuhkan peran dan tanggung jawab semua pihak baik dari keluarga, pegawai yang melayani mereka dan juga gereja yang telah mendirikan tempat ini untuk kemajuan yang lebih baik, supaya setiap orang tua yang tinggal di PPOS merasakan bahwa di hari tua mereka masih merasakan berkat yang datangnya dari Tuhan.
Beranjak dari hal diatas maka penulis yang telah melaksanakan pelayanan pastoral dan penelitian di PPOS mengajukan saran-saran sebagai berikut:
Kepada PPOS
- Menikatkan kualitas pegawai yang melayani orang tua lanjut usia. Dalam arti pegawai hendaknya ahli dalam bidang orang tua lanjut usia (gerontology) baik dari segi perawatan dan memahami kondisi karakter orang tua lanjut usia.
- Memperhatikan kebutuhaan orang tua lanjut usia, dari segi makanan yang masih kurang memenuhi gizi mereka, dan juga masalah kesehatan mereka yang sebaiknya di periksa seminggu sekali meskipun dokter berhalangan datang ada baiknya perawat yang memeriksanya.
- Menikatkan hiburan bagi orang tua lanjut usia seperti mengajak mereka untuk penyegaran ke retret center bagi mereka yang masih mampu supaya mereka tidak merasa kesepiaan tingal disana dan masih banyak hiburan yang lain yang perlu di tambah. Selain itu bagi orang tua lanjut usia yang masih mampu diberikan keterampialn atau pekerjaan yang di anggap cocok untuknya.
Kepada Gereja
- Untuk menikatkan perhatian terhadap orang tua lanjut usia yang tinggal di PPOS dalam hal kebutuhan rohani mereka. Dimana perlunya seorang pendeta yang selalu membimbing orang tua lanjut usia dalam hal kerohanian dan melaksanakan pelayanan pastoral.
- Memberikan pemahaman kepada warga gereja (jemaat) mengenai PPOS bukanlah suatu tempat yang buruk bagi orang tua lanjut usia.
- Mengingatkan warga gereja (jemaat) supaya memperhatikan PPOS bukan hanya sebatas memberikan sumbangan makanan dan dana untuk pembangunan saja akan tetapi perkunjungan kita kepada mereka lebih mereka rasakan.
Kepada STT Abdi Sabda
- Untuk lebih mendorong mahasiswa untuk melaksanakan pelayanan terhadap orang tua lanjut usia.
[1] Pada umumnya usia tua bermakna negatif, karena tua berarti keadaan uzur, sakit-sakitan, kurang tidur tanda-tanda merosotnya sisi kehidupan. Bnd. Richard L. Morgan, Tetap Ceria di Usia Senja, Jakarta: BPK-GM, 1999, hlm. 3
[2] Andi Mappcare, Psikologi Orang Dewasa, Surabaya: Usaha Nasional, 1983, hlm. 239
[3] Ibid, hlm. 241
[4] Bnd. E.P.Gintins, Gembala dan Pastoral Klinis, Bandung: Bina Media Informasi, hlm. 27
[5] M.S.E. Simorangkir, (peny.), Buku Konkord, Konfesi Gereja Lutheran, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 505
[6] E.P.Gintings, Makna Pastoral Dalam Jam Kehidupan Lanjut Usia, Dalam E.P.Gintings (red), Suara Abdi Sabda “ Jam Kehidupan” ,Medan: Abdi Sabda, 1994, hlm.12
[7] Ibid, hlm. 13
[8] Dalam pelayanan pastoral ini umumnya berbentuk konseling pastoral. Konseling pastoral sebagai bagian dari pengembalaan umumnya, selalu memperhitungkan faktor kehadiran Allah dalam relasi hubungan manusia dengan manusia, dan justru inilah yang membedakan dengan konseling psikiologis atau konseling psikiatri. Bnd. E.P.Gintings, Gembala dan Konseling Pastoral, Yogyakarta: Andi, hlm. 31
[9] E.P.Gintings., Membaca Manusia sebagai Dokumen hidup, Kabanjahe: Abdi Karya, 2006, hlm 16-17
[10] Herbert van der Rugt, Menghadapi Usia Senja (Menurut Pandangan Kristen), Jakarta: BPK-GM, 1986, hlm. 18
[11] Tp, KBBI, Jakarta: Balai Pustaka, 1988, hlm. 504
[12] A. Noordegraaf, Orientasi Diakonia Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 3
[13] Ibid, hlm. 4
[14] E. P. Gintings, Gembala dan Penggembalaan, Kabanjahe, Abdi Karya, 2002, hlm. 4
[15] M.Bonsstrom, Apakah Pengembalaan Itu?, Jakarta: BPK-GM, 2000, hlm.4
[16] Aart Van Beek, Konseling Pastoral Jilid I, Salatiga: Satya Wacana, 1987, hlm. 3
[17] J.L.Ch.Abineno, Pengembalaan, Jakarta: BPK-GM, 1967, hlm. 3
[18] M.Bonsstrom, Op.Cit,hlm. 4
[19] E.P.Gintings, Gembala dan Penggembalaan, Op.Cit, hlm 10
[20] Dalam Yeheskiel 34 dijelaskan tentang pelayanan Allah yang berfungsi sebagai panggilan yang mengesankan dan menarik kepada semua gembala untuk memenuhi tugas dan kewajibannya dan mempertimbangkan prioritas mereka dalam memberitakan injil, memulihkan, mengajar, mendorong dan memberi makan yang semuanya ini merupakan aspek-aspek dari peranan gembala. Bnd. Derek J.Tidball., Teologi Penggembalaan, Malang: Gandum Mas, 1998, hlm. 11
[21] J.L.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Pelayanan Pastoral, Jakarta, BPK-GM, hlm. 50
[22] Sokongan berupa kehadiran dan sapaan yang mendeduhkan dan sikap yang terbuka akan mengurangi penderitaan mereka. Sokongan ini juga dapat membantu mengurangi penderitaan yang begitu memukul. Bnd. Aart Van Beek,, Pendampingan Pastoral , Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 14
[23] J.L.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Pelayanan Pastoral ,Op.Cit, hlm 53
[24] Ibid, hlm. 57
[25] Piet Beintema, Theologia Pastoral Suatu Penghantar, Jakarta: UKSW, 1986, hlm. 14,
[26] Pastoral konsling adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara (pendeta,penginjil dsb) sebagai konselor dengan konselenya (klien, orang yang meminta bimbingan), dalam nama konselormencoba membibimbing konselenya kedalam suatu suasanan percakapan konseling yang ideal (condusive atmosphere) yang memungkinkan konseli itu betul-betul dapat mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, persolanya, kondisi hidupnya dimana ia berada, sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Yakub B.Susabda, Pastoral Konsling Jilid I, Malang: Gandum Mas, 1997, hlm 4
[27] E.P.Gintings, Gembala dan Penggembalaan, Op.Cit, hlm. 2
[28] E.P.Ginting, Gembala dan Konseling Pastoral , Op.Cit, hlm. 42
[29] Ibid, hlm 39
[30] J.L.Ch.Abineno, Pedoman Praktis Pelayanan Pastoral, Op.Cit, hlm. 98
[31] Bnd. Yakub B.Susabda dan Tim, Pelayanan Konseling Melalui Telepon, Jakarta: People Helpers Ministry Inonesia, 2000, hlm 57-58
[32] Bnd. Charles R. Swindoll., Mantapkan Keyakinan Anda, Surabaya: Yakin, hlm. 151-153
[33] Tp, Op.Cit, hlm. 496
[34] Ilmu jiwa masa tua disebut gerontology yaitu suatu studi secra ilmiah mengenai orang lanjut usia. Kartini Kartono & Dali Gulo, Kamus Psikologi, Bandung: Pionir jaya, 1987, hlm. 190
[35] R.E.M Suling & Pelenkahu SS, Pedoman Praktis Bagi Manusia Usia Lanjut, BPK-GM, Jakarta: 1992: hlm 12. Fase klikmakterium adalah masa dewasa, Senesens artinya usia tua, Senelitas artinya lanjut usia. Jadi penggolongan usia lanjut tidak dapat ditetapkan dengan pasti oleh karena masing-masing individu masa mulai timbulnya gejala-gejala proses menua adalah berbeda.
[36] E.Oswari, Menyongsong Usia Lanjut Dengan Bugar dan Sehat, Sinar Harapan, Jakarta: 1997, hlm. 10
[37] Ibid, hlm. 13
[38] D.L.Baker dan A.A.Sitompul, Kamus Singkat Ibrani Indonesia, Jakarta: BPK-GM, hlm. 24
[39] Willem A.Van Gameran (ed), New Internasional Dictionary Of Old Testament Theology and Exegetis, Vol I, Carliste Cumbria United Kingdom: Patenoster Press, 1997, p. 1134-1135
[40] J.D.Douglas (ed), Ensiklopedi masa kini M-Z, Jakarta: YayasanKomunikasi Bina Kasih, hlm. 493
[41] Gerhard Friedrich (ed), Theological Dictionary of The New Testament, Vol VI, Grand Rapids, Michigan :WMB. Eerdmans Publishing co, 1973. p. 652
[42] Andar Ismail, Selamat Panjang Umur, Jakarta: BPK-GM, 2002, hlm. 99
[43] Charles R. Swindoll, Op.Cit, hlm. 162
[44] E.P.Gintins, Gembala dan Pastoral Klini, Op.Cit, hlm. 27
[45] Andi Mappcare, Op.Cit, hlm. 240
[46] Dari hal inilah kebanyakan orang yang sudah memiliki tanda-tanda demikian mencoba menunakan saleb untuk menghilangkan noda-noda coklat yang timbul dikulitnya karena usia yang menua. Bdk. Herbert van Der Rugt, Op.Cit, hlm. 30
[47] Elisabeth B Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 2004 , hlm. 387
[48] Ibid, hlm 394
[49] Bnd. Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa Muda, Jakarta; Grasindo, 2003, hlm. 44-45
[50] Singgih D. Gunarsa, Op.Cit, hlm. 5
[51] Elisabeth B Hurlock, Op.Cit, hlm. 404
[52] TP, Op.Cit, hlm. 927
[53] E.P.Gintings, Membaca Manusia sebagai Dokumen hidup, Op.Cit, hlm. 15
[54] D.F.Walker, Konkordansi Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 479
[55] Yakub B susabda, Pastoral Konsling Jilid dua, Malang: Gandum Mas: 1996, hlm 33
[56] Singgih D. Gunarsa Op.Cit, hlm. 417
[57] Elisabeth Kubler-Ross, On Death and Dying, New York: Macmillan Co, 1969, hlm. 39
[58] Lukas Tjandra, Pembimbing Pengembalaan, Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1992, hm.117
[59] Lyndon Saputra (ed), Penghantra Psikologi, Batam:Interksara, hlm.413
[60] Andar Ismail, Selamat Berkembang; Spritualitas, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 110
[61] Richard L. Strauss., Bagaimana Memahami Kehendak Allah, Jakarta: BPK-GM, 2002, hlm. 49
[62]E.P.Gintings, Mengantisipasi Stres dan Penangulanganya, Yokyakarta: Andi,, hlm. 59
[63] Richard L, Morgan, Op.Cit, hlm. 94
[64] Bill Hybels., Terlalu sibuk? Justru Harus Berdoa, Jakarta: Yayasan Bina Kasih/omf, 2992, hlm.61
[65] Andar Ismail, Op.Cit, hlm. 65
[66] D.M.Arman, Penghantar Sederhana Penelitian Pendidikan Praktis, Jakarta: BPK-GM, 1987, hlm. 1989
[67]Tp, Rencana Kerja Panitia 100 tahun GBKP (1890-1990), Kabanjahe, Moderamen GBKP, hlm 5
[68] Wawancara dengan salah seorang pengurus yayasan pelayanan orang tua sejahtra GBKP, Pdt. Musa Sinulingga, S.Th
[69] Bndk. Dok. No:11/BPLS/92, Laporan Panitia Jubelium 100 tahun GBKP untuk BPL Synode tgl 27-30 April 1992, hlm. 30-31
[70] Hasil keputusan rapat panitia menetapkan bahwa nama pelayanan tidak memakai rumah jompo, supaya anggota jemaat tidak alergi untuk mendegarknya, maka diputuskan namanya Yayasan Pealayanan Orang Tua Sejahtra (YAPOS) GBKP.
[71] Bndk. Brosur PPOS tahun 2008
[72] Sebagai contoh nenek Rita br Tarigan dia berada di PPOS ini dikarenakan keinginanya sendiri. Dimana suaminya sudah mininggal dan anak-anaknya tinggal di luar kota sumatera, meskipun anak dari nenek ini mengajak untuk tinggal bersama dia tidak bersedia karena dia lebih senang berkumpul dengan sesamanya orang tua di tempat ini danmenghabiskam masa tuanya untuk kemulian nama Tuhan .Wawancara dengan nenek Rita br Tarigan salah seorang penghuni PPOS tanggal 6 Agustus 2008
[73] Misalnya nenek ndkiet br Karo yang berasal dari desa Merdeka, dia sudah berumur 83 tahun. Dia ditempatkan di PPOS karena keinginan keluarganya yang sudah tidak sempat lagi mengurusnya. Seringkali dia minta pulang kekampungnya untuk bertemu keluarganya, salah satu faktor ia ditemaptkan keluarganya ditempat ini dikarenakan kondisi fisik dan mentalnya yang sudah menurun.
[74] Bndk. Singgih D.Gunarsa, Op.Cit, hlm. 409
[75] Disamping itu gerbang PPOS ditutup atau dikunci, hal ini dikarenakan supaya orang tua lanjut usia tidak bias keluar. Hal ini dikarenakan kondisi fisik mereka yang sangat tidak memungkinkan yaitu rata-rata “pikun” hanya sebahagian kecil saja yang tidak.
[76] Tp, Penerapan Metode Kuantitatif dalam penelitian Gerejawi, Dapertermen Agama RI Direktorat Jendsarl Bibibingan masyrakat Kristen Protestan. Hlm 31
[77] Ibid, hlm. 31
[78] Hal ini dikarenakan yang akan di teliti adalah orang tua lanjut usia yang tidak sanggup lagi untuk membaca.